Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Ienas Tsuroiya: Jangan Lengah Gaes, Korona Masih Mengancam

Ienas Tsuroiya: Jangan Lengah Gaes, Korona Masih Mengancam
Ienas Tsuroiya. (Foto: NOJ/istimewa).
Ienas Tsuroiya. (Foto: NOJ/istimewa).

Jakarta, NU Online Jatim

Sejak pandemi Covid-19 merebak di Tanah Air, pemerintah telah membuat kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Meski begitu, tidak sedikit masyarakat yang abai terhadap kebijakan itu. Bahkan hingga hari ini korban positif Corona terus meningkat, masyarakat justru semakin legah, seakan virus ini telah lenyap.

 

Berbeda dengan kebanyakan orang, Ienas Tsuroiya termasuk satu di antara mereka yang konsisten dengan tetap berada di rumah. Sejak pertengahan Maret sampai sekarang, dirinya mengaku belum pernah bepergian ke luar kota, ke mall, atau pasar tradisional. Untuk potong rambut, creambath atau kebiasaan pijit pun belum pernah ia lakukan.

 

Jadi selama ini ngapain saja, Mbak? "Ya di rumah aja. Ngikuti acara-acara online, baca buku, nonton YouTube, mostly rebahan," ujarnya melalui akun media sosial, Ienas Tsuroiya.

 

Putri Kiai Ahmad Mustofa Bisri ini mencatat, selama pemerintah membatasi pergerakan warga, dirinya hanya keluar rumah untuk belanja kebutuhan sehari-hari.

 

"Keluar rumah paling untuk belanja di supermarket dekat rumah," kata Ienas, yang juga menyebut hanya sekali ke dokter gigi.

 

"Sekali kondangan, dan mungkin sekitar tiga kali ketemu teman dan saudara, di ruangan terbuka. Semuanya dengan protokol kesehatan sangat ketat," lanjut istri pengasuh ngaji online, Ulil Abshar Abdalla ini.

 

Ngga bosen Mbak menjalani hidup seperti itu? "Ya bosen banget. Tapi 'penderitaan' ini tak seberapa dibandingkan dengan para tenaga kesehatan yang selama berbulan-bulan bekerja keras berperang melawan musuh yang tak kasat mata ini," katanya.

 

"Banyak yang harus bekerja non-stop sekaligus meninggalkan anak-anaknya yang masih balita (untuk meminimalkan risiko tertular). Yang berjuang hingga harus kehilangan nyawa pun tak sedikit jumlahnya, sampai sekarang ada 100 dokter dan puluhan perawat yang gugur dalam tugas," ungkap Ienas.

 

Dirinya mengingatkan, tugas para nakes ini makin berat karena sebagian warga masih dalam posisi denial alias tak mengakui adanya Covid-19. Atau, mengakui kalau penyakit ini ada, tapi tak terlalu membahayakan.

 

"Akibat dari pandangan ini, banyak perilaku warga yang membahayakan nakes, contoh: merebut jenazah secara paksa, menolak pengobatan, dan yang paling ekstrim ada kejadian di Batam beberapa waktu lalu: seorang ibu yang tak rela kerabatnya yang baru saja meninggal dinyatakan sebagai pasien Covid-19, marah dan mengolok-olok nakes dengan mengaku sengaja mengambil air liur jenazah dan mengusapkannya di wajahnya sendiri. Bisa diduga: dia pun akhirnya positif covid19. Yang artinya menambah beban nakes," tulis Ienas.

 

Ienas mengajak kepada kita semua terus menjaga diri dan keluarga, dan tetap berusaha menghindari kerumunan.

 

"Selalu terapkan 3 M: Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan. Plus tentunya makan minum yang benar. Jangan lupa, perbanyak doa. Semoga kita semua bisa melewati masa-masa sulit ini dengan selamat. Amin," pungkas Ienas.

PWNU Jatim