Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Ikhtiar Merengkuh Keberkahan Hidup

Ikhtiar Merengkuh Keberkahan Hidup
Buku Ngaji Akhlak Santri: Kiat Meraih Barakah. (Foto: NOJ) 
Buku Ngaji Akhlak Santri: Kiat Meraih Barakah. (Foto: NOJ) 

Di cover buku ini bagian atas terdapat tulisan ‘Terjemah dan Syarah Tarbiyatus Shibyan karya KH Muhammad Habibullah Rais’. Penulis kitab adalah ulama yang kealiman dan akhlaknya tidak perlu dipertanyakan lagi. Ya, buku ini memang buku terjemahan dari kitab berbahasa Arab dalam bentuk nazam. Penerjemahnya adalah suami-istri Pengasuh Pesantren Nurul Islam Antirogo Jember. Dan pembaca buku ini akan semakin paham pada pembahasannya, sebab, selain diterjemahkan, juga diberi penjelasan (syarah) yang cukup mendetil dengan disertai ayat, hadits, dan nasihat ulama-cerdik cendekia.

 

Buku ini memuat enam bab, yaitu pendahuluan, sambutan penggubah nazam, tatakrama dalam menuntut ilmu, hak-hak kedua orangtua, tatakrama dalam pergaulan, dan ketakwaan.  Pada bab pendahuluan, penerjemah kitab menjelaskan arti akhlak, sebab secara umum, kitab  yang diterjemahkannya itu membahas tentang akhlak. Dijelaskannya juga mengenai pentingnya akhlak bagi umat Islam, utamanya bagi para penuntut ilmu. Salah satunya karena akhlak menjadi alasan utama diutusnya Rasulullah Muhammad SAW.

 

Dalam bab tatakrama dalam menuntut ilmu, dijelaskan bahwa para penuntut ilmu selayaknya bersungguh-sungguh untuk mendalami ilmu yang wajib dipelajari, yakni ilmu syariat, yang biasa juga disebut ilmu al-hal. Penulis membaginya menjadi tiga: Pertama, ilmu tauhid yang disebutnya ma ilaihi ihtaja amr ad-din (ilmu yang dibutuhkan terkait urusan-urusan keyakinan). Kedua, ilmu fikih yang disebutnya mushahhih al-‘ibadat (ilmu tentang bagaimana ibadah lahiriah supaya sah), dan ketiga, ilmu tasawuf yang disebutnya mushlih al-qulub wa al-‘aqidah (ilmu tentang bagaimana menata batin supaya sopan ketika menghadap kepada-Nya).

 

Penerjemah menambahkannya dengan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dan bermanfaat untuk umat manusia, seperti kedokteran, matematika, dan lain sebagainya. Lalu, ilmu-ilmu tersebut harus diamalkan, dalam arti tidak sekadar mengajarkan atau menyebarkan, tetapi mesti dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, orang yang berilmu namun tidak mengamalkannya, kelak di akhirat akan disiksa terlebih dahulu sebelum orang-orang yang tak berilmu. Dalam beramal, posisi ilmu sangat penting, karena beramal tanpa ilmu mudah salah dan tersesat. Simak hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan pendapat Ibnu Hajar al-Atsqolani yang mengutip pendapat Ibnu al-Munir.

 

Termasuk tatakrama dalam menuntut ilmu adalah berakhlak terhadap guru (hormat kepada guru, taat kepada perintah guru, mencari ridha guru, dan menghormati segala yang berhubungan dengan guru). Mengapa demikian? Karena jangankan manusia, Allah SWT saja menghormati bahkan meninggikan derajat orang-orang berilmu (QS. Al-Mujadilah: 11). Orang yang tidak menghormati guru diancam oleh Rasulullah tidak akan diakui sebagai umatnya. Hormat kepada guru dapat diwujudkan dengan tiga sikap: bersikap tenang ketika bertemu guru, menundukkan kepala dan menjawab dengan sopan ketika berbicara dengan guru, dan siap siaga jika sewaktu-waktu dipanggil dan dibutuhkan oleh guru. Guru layak dihormati karena Syaikh Ibrahim ibn Ismail berkata, “...guruku ‘menaikkan’ aku dari bumi ke langit.”

 

Selain guru, buku ini juga membahas perihal tatakrama kepada orang tua (ayah-ibu), karena jasa-jasa keduanya yang sangat besar. Ayat al-Qur’an dan hadits menguatkan tentang akhlak yang baik terhadap keduanya. Maka, menaati, menyayangi, dan mencari ridha keduanya adalah hal mutlak yang harus diupayakan. Dan durhaka terhadap keduanya adalah celaka dan dosa besar bagi pelakunya.

 

Pembahasan buku ini semakin lengkap dengan penjelasan tentang tatakrama dalam pergaulan dan ketakwaan. Setidaknya, dengan membaca buku ini, pembaca—utamanya para penuntut ilmu—akan dibekali dengan pengetahuan tentang akhlak meski dengan taraf yang paling dasar, namun perlu dipraktikkan. Sebab dengan akhlak, manusia menjadi insan sejati.

 

 

Data Buku

Judul: Ngaji Akhlak Santri: Kiat Meraih Barakah 

Penulis: KH Muhyiddin Abdusshomad dan Dr Nyai Hj Hodaifah, MPd

Penerbit: Muara Progresif Sidoarjo

Tahun Terbit: Cet. I, Juni 2020                 

Tebal: xxii + 96 halaman   

Peresensi: Moh Mahrus Hasan (Pengurus Pesantren Nurul Ma’rifah dan Guru MAN Bondowoso)

Pemesanan Buku: +62 856-0876-9717 

Iklan Hari Pahlawan