Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Innalillahi, KH Moh Faruq Denanyar Jombang Wafat

Innalillahi, KH Moh Faruq Denanyar Jombang Wafat
KH Mohammad Faruq, Pengasuh Asrama Al-Bishri, Pesantren Mambaul Ma'arif, Denanyar (tengah) dan A Afif Amrullah (kiri). (Foto: NOJ/Istimewa)
KH Mohammad Faruq, Pengasuh Asrama Al-Bishri, Pesantren Mambaul Ma'arif, Denanyar (tengah) dan A Afif Amrullah (kiri). (Foto: NOJ/Istimewa)

Jombang, NU Online Jatim

Dalam sebuah kesempatan, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar mengingatkan bahwa mautul alim, mautun alam. Bahwa meninggalnya seorang yang alim sama dengan kematian alam semesta.

 

Dan berita meninggalnya ulama dan kiai akhir-akhir ini seperti rentetan yang tidak bisa dihentikan. Duka tentu saja mengiringi kepergian para tokoh panutan tersebut.

 

Tepatnya hari ini, Ahad (11/10/2020), KH Mohammad Faruq selaku Pengasuh Asrama Al-Bishri, Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar Jombang dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa, innalillahi wainna ilahi rajiun.

 

Di akub Facebooknya, A Afif Amrullah menyatakan bahwa para santri di asrama tersebut biasa memanggil KH Mohammad dengan sebutan ‘ayah’, bukan abah atau pak kiai.

 

“Entah siapa yang memulai, tapi sepertinya memang sudah menjadi tradisi sejak dari para senior saya. Mungkin dengan sebutan itu, para santri diharapkan merasa nyaman seperti di rumah sendiri, krasan,” kata Ketua Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Jawa Timur tersebut.

 

Dalam pengakuan Afif, keseharian almarhum memang lebih dari seorang pendidik. Tidak hanya rutin menjadi imam shalat jamaah.

 

“Tapi juga sering nonton siaran langsung sepak bola Liga Italia di TV bareng santri,” ungkapnya.

 

Keunikan itu juga yang hingga kini membekas di benak para santri asrama setempat. Bahwa sosok ayah tidak semata istikamah mengajak santrinya mengaji, tapi juga kerap mengundang mereka main catur.

 

“Meski begitu, penghormatan kami kepada beliau sebagai pengasuh tak luntur sedikit pun,” tegasnya.

 

Disampaikan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur tersebut bahwa saat ini ayah-nya sudah kapundut.

 

“Saya bersedih, pastinya. Apalagi saya menghabiskan enam tahun masa-masa remaja dalam pengasuhan beliau dari 1997 hingga 2003. Ibarat membangun rumah, beliaulah yang membangun tiang-tiang dan temboknya,” terang dosen Universitas Sunan Giri (Unsuri) Surabaya ini.

 

Karenanya, bapak dua anak ini berdoa agar kebaikan yang telah ditaburkan untuk para santri dan umat menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir ila yaumil kiamah.

 

“Menjadi ‘sahabat’ yang senantiasa mengantar dan membahagiakannya ila jannatin na'iim,” harapnya yang memungkasi dengan bacaan alfatihah.

 

Iklan promosi NU Online Jatim