Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Innalillahi, Ulama Pejuang KH Ma'shum Zainullah Bondowoso Wafat

Innalillahi, Ulama Pejuang KH Ma'shum Zainullah Bondowoso Wafat
Almaghfurlah KH Ma’shum Zainullah. (Foto: NOJ/Istimewa)
Almaghfurlah KH Ma’shum Zainullah. (Foto: NOJ/Istimewa)

Bondowoso, NU Online Jatim

Seakan tiada hari tanpa kabar meninggalnya ulama, kiai dan orang terpilih. Ini memberikan pesan bahwa kian banyak orang yang memiliki dedikasi tinggi dengan peduli kepada umat akhirnya wafat.

 

Yang terbaru adalah KH Ma’shum Zainullah, Pengasuh Pondok Pesantren Nurut Taqwa Bondowoso. Kalau diteliti dari usianya, wafat dalam usia yang tidak terlampau sepuh, 69 tahun.

 

Kiai Ma’shum lahir di Bondowoso, 11 November 1951 dan wafat 9 Januari 2021, innalillahi wainna ilahi rajiun. Dan kepestian kabar duka ini disampaikan cendekiawan muslim, Abdul Moqsith Ghazali di akun Facebooknya, Ahad (10/01/2021).

 

“Saya tidak kenal dekat. Saya mengetahui Kiai Ma'shum pertama-tama melalui menantunya, Lora H Sahlawi Zaini,” kata Moqsith.

 

Abdul Moqsith yang pernah nyantri di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Banyuputih, Situbondo menyampaikan bahwa Kiai Ma'shum adalah ulama yang berjuang dari bawah.

 

“Walau bukan keturunan kiai, beliau cukup percaya diri membangun pesantren dari nol. Mulai dari santri yang hanya satu orang hingga pesantrennya berkembang pesat seperti sekarang,” kata dosen pascasarjana di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta tersebut.

 

Karena hingga kini ada sekitar 500-an santri yang ‘menetap’ di Pesantren Nurut Taqwa. Dan kini sudah terbangun sejumlah lembaga pendidikan, mulai dari TK, MI, MTs, Madrasah Aliyah hingga SMK.

 

“Di ujung usianya, beliau memiliki perhatian lebih pada lembaga tahfidhil al-Qur'an yang didirikannya,” ungkapnya. Karena pengasuh berharap santrinya banyak yang hafal Qur'an, huffazhul Qur'an, lanjutnya.

 

Tak hanya mengajar kitab di pesantren, Kiai Ma'shum yang nama kecilnya Nursahwi ini juga aktif berdakwah. Sering membersamai (allah yarham) KH Sufyan Miftahul Arifin mendakwahkan Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah hingga ke pulau-pulau terpencil di Madura.

 

“Tentu melelahkan bagi banyak orang, tapi menyenangkan bagi para pejuang,” ungkapnya.

 

Memang yang dilakukan para kiai di bawah seperti Kiai Ma'shum ini tidak banyak terpublikasi. Jauh dari sorotan kamera. Ia juga tak punya tim media yang bisa mengabadikan aktivitasnya dakwahnya di media sosial Facebook dan Youtube.

 

“Tapi saya kira apa yang dilakukan Kiai Ma'shum ini akan abadi karena ia tulus melalukannya karena Allah. Hal tersebut seiring dengan ungkapan bahwa Allah juga yang akan mencatat jejak-jejak perjuangannya selama di dunia,” terang dia.

 

Akhirnya, melalui pesantren dan aktivitas dakwahnya juga Kiai Ma'shum akan dikenang sebagai salah seorang kiai yang memiliki kontribusi besar bagi kian kokohnya Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah di Nusantara.

 

“Semoga yang diteladankan Kiai Ma'shum ini bisa dilanjutkan putra-putri dan santri-santrinya,” harap Moqsith.

Bank Jatim (31/7)