Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Isyarat Wafatnya Gus Dur dari Makam Asta Tinggi Sumenep

Isyarat Wafatnya Gus Dur dari Makam Asta Tinggi Sumenep
Area pemakaman Asta Tinggi di Sumenep. (Foto: NOJ/Kom)
Area pemakaman Asta Tinggi di Sumenep. (Foto: NOJ/Kom)

Surabaya, NU Online Jatim

Bagi peminat wisata religi, tidak akan lengkap kalau belum melakukan ziarah ke Asta Tinggi. Sebuah tempat peristirahatan terakhir raja-raja dan keluarga bangsawan Keraton Sumenep yang berada di atas perbukitan Madura. Makam itu dibangun sejak awal abad 17, lalu baru selesai setelah tiga generasi.

 

Setelah selesai, makam itu dinamakan Asta Tinggi. Nama itu bahkan dipakai juga sebagai nama jalan keberadaan lokasi makam, yakni Jalan Asta Tinggi, Desa Kebonagung, Kecamatan Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep. Kompleks makam berada sekitar 2,5 kilometer arah barat dari Keraton Sumenep.

 

Dalam bahasa Madura, Asta Tinggi disebut sebagai Asta Raja yang maknanya adalah makam para Pangradja atau para Pembesar Kerajaan yang berupa makam.

 

Asta berarti makam atau kuburan, dan tinggi di sini menunjukkan lokasi makam yang berada di daerah perbukitan. Jadi, Asta Tinggi merupakan kompleks pemakaman bagi Raja Sumenep beserta keluarganya di dataran tinggi.  Yang istimewa, makam ini kerap memberikan isyarat bagi peristiwa penting di Tanah Air.

 

Yang dapat dikonfirmasi adalah, kata Salamet Ready selaku salah seorang juru kunci saat itu bahwa ada kejadian aneh sehari sebelum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meninggal dunia.

 

“Pohon cemara setinggi 25 meter tiba-tiba roboh di siang hari,” katanya kala itu. Meski takut menyebut ada orang berpengaruh di Indonesia akan meninggal dunia, namun Salamet tidak berani mendahului takdir Tuhan.
 

"Selama ini semua tanda orang penting dan berpengaruh di Indonesia meninggal, selalu ada di sini. Termasuk mantan bupati zaman Orde Baru Soemar'om, ada sebuah tanda yang diberikan di Asta Tinggi," katanya.

 

Beberapa kejadian di area pemakaman juga terjadi saat Presiden ke-2 Soeharto dan Ibu Tien meninggal dunia. Saat itu dua pohon asam yang bercabang terpecah menjadi dua. Saat satu pohon asam roboh, keesokan harinya Ibu Tien meninggal dunia. Hal yang sama terjadi saat Soeharto meninggal dunia. Saat itu pohon asam sebelahnya  roboh tanpa ada angin dan hujan.

"Pohon-pohon itu roboh sehari sebelum Ibu Tien dan Seoharto meninggal. Hal-hal aneh ini terjadi di Asta Tinggi. Bahkan saat Soeharto lengser, tembok setinggi 2 meter di sisi barat Asta Tinggi juga roboh tapi bukan dimakan usia," katanya kepada wartawan pada Januari 2010.
 

Iklan Hari Pahlawan