Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Jalan Berliku Pesantren Mahasiswa Al-Barokah Hadir di Kota Malang

Jalan Berliku Pesantren Mahasiswa Al-Barokah Hadir di Kota Malang
Suasana di halaman Pesantren Mahasiswa Al-Barokah Kota Malang. (Foto: NOJ/ Hilyatul Maknunah)
Suasana di halaman Pesantren Mahasiswa Al-Barokah Kota Malang. (Foto: NOJ/ Hilyatul Maknunah)

Malang, NU Online Jatim

Kelurahan Tlogomas terletak di Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Terdapat suatu tempat di wilayah ini disebut dengan situs Watu Gong yang merupakan peninggalan Kerajaan Hindu Kanjuruhan dan banyak menjadi sorotan para Arkeolog melakukan penelitian. Tidak jauh dari situs bersejarah itu, berdiri dengan kokoh Pesantren Mahasiswa Al-Barokah yang fokus pada program tahfidz al-Quran.

 

Berdirinya pesantren mahasiswa ini sebelumnya sudah pernah diperbincangkan seorang kiai kampung setempat sebagaimana informasi salah seorang warga bernama Danang. “Kampung ini memang bekas kerajaan hindu dan keadaan masyarakatnya jauh dari nilai-nilai Islam, tapi suatu hari nanti, di tempat ini akan berdiri pondok pesantren. Dan Al-Barokah ini adalah jawaban dari ramalan itu,” tegasnya.

 

Kisah berdirinya pesantren mahasiswa ini bukan berarti tidak diwarnai dengan lika-liku yang kompleks. Sang pendiri yang merupakan alumni Timur Tengah sempat mendapatkan fitnah dari masyarakat karena menyebarkan ajaran sesat dan radikal. Karena ketika pertama kali menginisiasi pesantren mahasiswa bernama Mahad Huffadz Billingual (MHB) di daerah Merjosari, Malang. Namun kesalahpahaman masyarakat tersebut akhirnya mampu dilewati hingga spekulasi masyarakat pudar.

 

“Tempat ini dulunya adalah pabrik kompor yang sudah vakum kemudian atas izin Allah berdirilah Pesantren Al-Barokah di sini dan pastinya tidak lepas dari peran guru saya, utamanya Gus Is selaku Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Malang yang menjadi perantara saya berkiprah di salah satu kota pendidikan ini,” ujar Ustadz Malikul Fajri Shobah, pendiri sekaligus pengasuh pesantren ini.

 

Tak berakhir sampai di situ, suka duka sejarah berdirinya Al-Barokah diwarnai dengan berbagai hal lain di antaranya adalah kurang tersedianya dana untuk membeli tanah dan  biaya pembangunan.

 

“Saat ini, MHB di Merjosari itu diasuh oleh teman saya, Ustadz Badrun. Setelah itu saya mencari lokasi yang nantinya akan dijadikan bakal tempat pesantren Al-Barokah, di daerah Soekarno Hatta. Akan tetapi takdirnya belum di situ karena beberapa pertimbangan, akhirnya ya jadinya di sini, itupun harga tanahnya mahal dan diberi tempo yang singkat,” kisah ustadz kelahiran Blitar ini.

 

Berbekal keyakinan atas pertolongan Allah, banyak hal yang datang turut membantu melancarkan pembangunan pesantren. Semua tantangan terlewati dan pada September 2017 berdirilah Pesantren Mahasiswa Al-Barokah yang sementara ini menjadi tempat belajar khusus putri dan kebanyakan mahasiswa dari beberapa kampus di Kota Malang.

 

Sistem pendidikan Islam yang moderat dipilih untuk membekali para santri yang juga merupakan mahasiswa dari beberapa kampus sehingga dapat menjadi bekal membentengi diri dari ajaran radikal.

 

Menurutnya, jargon mahasiswa sebagai agen perubahan harus diperkuat dengan pendidikan agama di pesantren. “Dan dengan adanya lembaga pendidikan berbasis pesantren mahasiswa dan berpegang teguh pada ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah dapat menjadi ikhtiar untuk meminimalisir ajaran radikal dan fenomena dikotomi pendidikan yang masih berlaku dalam sistem pendidikan di Indonesia,” kata santri Kiai Nawawi, Bantul, Yogyakarta tersebut.

 

Di ujung keterangan, dirinya menyampaikan bahwa hidup ini adalah meneruskan perjuangan Rasulullah untuk menebar kebaikan dan berjuang agama.

 

“Apabila kita yakin, insyaallah akan ada saja yang datang membantu min haitsu laa yahtasib atau dari arah yang tak disangka. Ppokoknya hidup terus berjuang untuk kebaikan, kita ikhtiar semampunya, penuh keyakinan lalu serahkan semuanya kepada Allah SWT,” pungkasnya.

 

Editor: Syaifullah

Iklan promosi NU Online Jatim