Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Jelang Pilkada, Rais Syuriyah NU Sumenep Ingatkan Politik Uang Bukan Sedekah

Jelang Pilkada, Rais Syuriyah NU Sumenep Ingatkan Politik Uang Bukan Sedekah
KH Hafidzi Syarbini, Rais Syuriyah PCNU Sumenep saat sambutan dan pengarahan dalam pembukaan Konferensi MWCNU Ambunten. (Foto: NOJ/ Firdausi).
KH Hafidzi Syarbini, Rais Syuriyah PCNU Sumenep saat sambutan dan pengarahan dalam pembukaan Konferensi MWCNU Ambunten. (Foto: NOJ/ Firdausi).

Sumenep, NU Online Jatim

Gesekan politik sampai detik ini masih terasa oleh segenap kalangan. Salah satunya nahdliyin yang sampai detik ini terkadang masih terprovokasi dengan berita yang kurang jelas kebenarannya karena ulah oknum. Selain itu, pada momentum politik seperti Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) perlu lebih waspada dengan kemungkinan munculnya praktik money politic (politik uang).

 

Berangkat dari permasalahan tersebut KH Hafidzi Syarbini memberikan pengarahan kepada segenap musyawirin Konferensi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Ambunten, Sumenep bahwa berjuang di NU bukan untuk memperbaiki organisasinya. Karena NU sudah baik.

"Kita ber-NU karena ingin memperbaiki diri sendiri dan membantu negara serta masyarakat," ujar Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep di kantor MWCNU Ambunten, , Ahad (18/10/2020).

 

KH Hafidzi juga menyampaikan keprihatinannya terhadap keadaan warga NU yang hari ini semakin dijauhkan dari ulamanya sendiri. Jika dulu hampir setiap orang kalau ditanyakan sebagai warga NU, orang tersebut pasti menjawab ikut ulama.

 

"Nah, sekarang generasi muda kita masih menanyakan keberadaan NU. Ini semua diantaranya karena propaganda dan provokasi media yang berusaha menjauhkan warga dari ulama,” imbuhnya.

 

Kiai Hafidzi menjelaskan bahwa Allah SWT menjadikan umat ini sebagai pertengahan agar menjadi saksi dan dapat memperbaiki kehidupan. "Kita ini ikut NU bukan untuk memberi hidayah umat. Kita hanya bertugas menyampaikan dakwah Ke-NU-an, kebangsaan, dan kemasyarakatan. Soal takdir umat menjadi baik atau buruk, itu semua kehendak Allah SWT,” ungkapnya.

 

 

Terkait pemilihan pemimpin, dirinya juga prihatin karena masih ditemukan praktik money politic yang dipelintir menjadi shadakah untuk meraih dukungan serta diniati untuk tabarrukan.

 

Menurut pandangannya, saat tidak mendapat dukungan, calon biasanya menggurutu. Kondisi seperti ini tetap tidak benar sekalipun dibungkus atau dibahasakan sedekah. Sebab, berbeda antara sedekah dengan politik uang.

 

"Kalau memang diniati sedekah, kenapa tidak bersedekah kepada anak yatim saja. Bukankah jauh lebih benar dari fitnah politik," tandas Kiai Hafidzi.

 

Sementara itu, Agus Diharja Putra mengatakan, Pilkada Sumenenp memang biasanya membuat suasana kurang kondusif di Kecamatan Ambunten. Tapi, karena dijaga dengan baik oleh semua lapisan masyarakat akhirnya bisa terkendali.

 

"Jaga kondusifitas wilayah kita, karena Ambunten dikenal kondusif soal perbedaan pilihan. Soal perbedaan pilihan hal biasa. Asal jangan menimbulkan perpecahan," kata Bapak Camat Ambunten tersebut saat sambutan.

 

Pada kesempatan tersebut, ia juga merasa kecewa karena masih ada warga yang tak percaya pada Corona atau Covid-19. Menurutnya, terkait virus mematikan tersebut warga harus tetap berhati-hati.

 

"Kita harus berpikir positif pada warga yang memakai masker. Karena mereka tidak ingin menularkan penyakitnya pada orang lain," harapnya.

 

Di akhir sambutannya, Agus mengucapkan terimakasih kepada MWCNU Ambunten yang telah membina hubungan baik dengan pemerintah Kecamatan baik dalam kegiatan pembangunan maupun sosial ekonomi.

 

Selain itu, ia mengapresiasi atas kegiatan konferensi guna memilih pimpinan NU 5 tahun kedepan. Karena kepengurusan baru akan menghadapi tantangan berat. Yakni banyaknya berita hoax di Medsos yang dipahami warga sebagai kebenaran.

 

"Semoga kepengurusan masa khidmat 2020-2025 membangun konsolidasi dan meluruskan beragam polemik di tengah-tengah masyarakat," pungkasnya.

 

 

Editor: Romza

PWNU Jatim