Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Kabakes MUI Jatim: Jika Vaksinasi 80 Persen, Covid-19 seperti Flu Biasa

Kabakes MUI Jatim: Jika Vaksinasi 80 Persen, Covid-19 seperti Flu Biasa
Ketua Badang Kesehatan MUI Jatim Djoko Santoso. (Foto: NOJ/HM)
Ketua Badang Kesehatan MUI Jatim Djoko Santoso. (Foto: NOJ/HM)

Malang, NU Online Jatim

Penyebaran kasus Covid-19 yang kian meroket semakin mengkhawatirkan. Ditambah lagi banyaknya selebaran hoaks turut memperkeruh suasana. Karena itu, selain menjaga imunitas tubuh, perlu juga mengampanyekan literasi pandemi untuk memberikan pemahaman secara ilmiah kepada masyarakat tentang Covid-19.

 

Literasi pandemi dari para ahli di bidang kesehatan penting mengingat program vaksinasi masih terbatas. Herd imunity dihadapkan dengan problem lain bernama herd stupidity atau kebengalan komunal. Maka memahami penularan dan lonjakan luar biasa Covid-19 sangat penting sehingga masyarakat tahu apa yang harus dilakukan.

 

Ketua Badan Kesehatan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur Djoko Santoso mengatakan bahwa Covid-19 menyerang jiwa dengan dua cara, yaitu kekurangan oksigen (hipoksia) dan sumbatan di pembuluh darah yang berlebih (hiperkoagulopati) sehingga mengganggu proses pertukaran oksigen.

 

“Munculnya Covid-19 dari Kota Wuhan ini mengejutkan semua umat dunia, bahkan para ahli biologi dan klinis di seluruh dunia, karena ini aneh dan tidak biasa,” kata Djoko di webinar seri literasi pandemi pada Kamis (08/07/2021).

 

Guru Besar bidang klinis di Universitas Airlangga tersebut mengibaratkan serangan Covid-19 seperti balon yang di satu sisi adalah jalur memasukkan oksigen, sedangkan sisi yang lain mengeluarkan karbon dioksida (CO2). Nah, Covid-19 bekerja dengan menutup sisi jalur masuknya oksigen.

 

Apabila jalur masuk oksigen terhambat oleh protein-protein penghasil covid-19 melalui sel inang di paru-paru yang terinfeksi, maka oksigen yang masuk tidak dapat terserap semua.

 

“Katakan ada 10 cc oksigen masuk, itu hanya 5 atau 6 yang dapat diserap, yang 4 tidak bisa, sehingga seperti dicekik,” papar Djoko.

 

Penurunan tersebut, lanjut dia, tidak langsung dilaporkan ke otak, sebab sisi keluarnya CO2 masih normal, sehingga tidak ada keluhan berat yang ditunjukkan tubuh. Baru beberapa hari kemudian dua sisi jalur, jalur oksigen dan karbon dioksida, sama-sama tertutup.

 

Semestinya, penurunan oksigen diikuti penumpukan karbon dioksida, sehingga tubuh dapat memberikan gejala yang dapat dirasakan. Namun, pada kasus Covid-19, sel yang terkena baru merespons setelah proses terbungkamnya jalur keluar karbondioksida. Artinya ketika infeksi sudah terjadi sekian hari.

 

“Kalau datang ke rumah sakit statusnya sudah sesak, itu berarti sudah parah tercekiknya,” jelas Djoko.

 

Karena itulah Djoko mengajak masyarakat agar bergerak serentak mematuhi aturan yang ada. Wakil Rektor I Unair itu juga mengajak masyarakat agar semangat mengikuti program vaksinasi yang dijalankan pemerintah.

 

“Jika vaksinasi sudah mencapai 80 persen, maka virus ini menjadi tidak sangat menakutkan seperti sebelumnya, akan menjadi seperti flu biasa seperti yang kita alami,” kata Djoko.

 

Editor: Nur Faishal


Editor:
F1 Bank Jatim