Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Kader Fatayat NU Diajak kian Akrab dengan Politik

Kader Fatayat NU Diajak kian Akrab dengan Politik
Wakil Kordinator bidang Advokasi PP Fatayat NU, Nihayatul Wafiroh. (Foto: NOJ/TTr)
Wakil Kordinator bidang Advokasi PP Fatayat NU, Nihayatul Wafiroh. (Foto: NOJ/TTr)

Surabaya, NU Online Jatim

Banyak yang masih memiliki persepsi negatif soal politik. Hal tersebut semakin lengkap apabila menyangkut perempuan. Tidak sedikit yang berupaya menjauhkan politik dari pandangan perempuan.

 

Hal tersebut juga dirasakan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI sekaligus Wakil Kordinator bidang Advokasi Pimpinan Pusat Fatayat NU, Nihayatul Wafiroh. Karena itu dirinya mengajak kader Fatayat NU untuk tidak antipati terhadap politik.

 

“Kita, kaum perempuan harus terlibat aktif dalam pengambilan keputusan politik. Jangan malah antipati,” kata Ninik saat menghadiri seminar nasional di Lubuklinggau, Prana Putra Sohe, Sumatra Selatan, Rabu (24/02/2021).

 

Dalam pandangan perempuan asli Banyuwangi tersebut, ketika perempuan aktif dalam politik, maka demokrasi dan pemberdayaan perempuan bakal meningkat. Karena itu, dirinya menegaskan bahwa perempuan tidak boleh antipati terhadap politik.

 

“Sebaliknya, mereka harus aktif di politik karena hak Perempuan hanya bisa diperjuangkan oleh perempuan,” tegasnya.

 

Ninik menambahkan, perempuan adalah aset, potensi dan investasi yang penting bagi Indonesia dan juga dunia. Terbukti saat ini ada sejumlah pemimpin perempuan yang kiprahnya sangat besar bagi suatu bangsa dan negara.

 

“Perempuan adalah aset, potensi dan investasi yang penting bagi Indonesia. Mereka tidak boleh hanya menjadi objek pembangunan, melainkan subjek dari pembangunan,” ungkapnya.

 

Dirinya mengakui tingkat partisipasi perempuan dalam kontestasi Pemilu DPR RI memang meningkat. Namun jumlah caleg perempuan terpilih masih belum mencapai angka ideal 30 persen.

 

“Peran perempuan dalam keterwakilannya di DPR RI belum maksimal. Kuota 30 persen yang tercantum dalam undang-undang sampai saat ini belum pernah tercapai,” tandasnya.

Iklan promosi NU Online Jatim