Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Kader IPPNU Tulungagung Ini Jago Jadi MC, Begini Bocoran Tipsnya

Kader IPPNU Tulungagung Ini Jago Jadi MC, Begini Bocoran Tipsnya
Umi Kulsum Zaizafun saat menjadi pemateri di salah satu pelatihan. (Foto: NOJ/ Puspita Hanum).
Umi Kulsum Zaizafun saat menjadi pemateri di salah satu pelatihan. (Foto: NOJ/ Puspita Hanum).

Tulungagung, NU Online Jatim

Sebuah acara yang terlaksana tidak lepas dari peran seorang Pembawa Acara atau biasa disebut Master of Ceremony (MC). Tentu tidak semua orang bisa menjadi MC, karena perlu keterampilan tertentu yang harus dimiliki.

 

Seperti Umi Kulsum Zaizafun. Kader Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Tulungagung ini memiliki kemampuan menjadi MC yang baik. Menurutnya, ada beberapa kemampuan dasar yang harus dipelajari untuk menjadi MC yang baik.

 

"Kunci utama menjadi MC yaitu percaya diri," kata Umi (04/11/2020) saat menyampaikan materi komunikasi dalam kegiatan diskusi ringan bersama kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Tulungagung.

 

Menurut Umi, terdapat beberapa cara untuk meningkatkan rasa percaya diri. Diantaranya yaitu busana dan make up. Busana dan make up harus disesuaikan dengan acara yang akan dibawakan.

 

"Kalau acara formal, sebaiknya menggunakan busana formal seperti baju batik dengan make up yang sederhana. Sedangkan acara santai seperti pentas seni, bisa menggunakan busana yang santai dan make up bisa menyesuaikan," ungkapnya.

 

Menekuni MC sejak tahun 2016, membuat Umi sering diundang untuk memberikan pelatihan kepada pelajar maupun mahasiswa. Tidak hanya memberikan pelatihan, ia juga sering diminta untuk memandu kegiatan workshop di kampusnya. Bahkan, saat rapat paripurna DPRD Kabupaten Tulungagung, ia juga dipercaya untuk menjadi MC.

 

Pengalaman yang sangat disukainya saat menjadi MC kegiatan reses pimpinan DPRD Kabupaten Tulungagung. Menurutnya, menjadi MC reses harus formal. Tapi dituntut untuk lebih ramah menyesuaikan kondisi masyarakat. Bahasa yang digunakan harus sederhana dan mudah dimengerti. Sehingga, kata Umi, harus mengkombinasikan antara MC untuk acara formal dengan non formal.

 

Dari sekian banyak pengalaman tersebut, tidak lantas membuat Umi menjadi MC yang tidak pernah salah. Ia pernah beberapa kali salah menyebutkan gelar narasumber dan tamu undangan pada sebuah acara.

 

"Pada saat reses, semua yang hadir tegang. Saat itu membuat saya ikut tegang hingga akhirnya saya salah menyebutkan gelar salah satu pimpinan DPRD. Tapi kesalahan itu malah membuat suasana menjadi tidak tegang,"  ujar Umi.

 

Maka dari itu, perempuan yang sedang menempuh pendidikan pascasarjana di Universitas Brawijaya ini menghimbau kepada para MC untuk membuat sebuah kartu atau teks susunan acara yang bisa dijadikan panduan.

 

"MC tidak boleh malu bawa teks atau kartu catatan. Asalkan teks atau kartu itu harus dibuat yang rapi. Tidak masalah jika MC sesekali membaca teks untuk meminimalisir kesalahan," tutur dara kelahiran tahun 1996.

 

Umi juga menyebutkan bahwa dengan menjadi supel, santun dan memiliki sense of humor bisa digunakan untuk menutupi kesalahan diatas panggung.

 

"Saat salah, MC harus tetap tersenyum dengan santun. Bukan malah tertawa atau salah tingkah. Sedangkan sense of humor bisa digunakan saat MC melakukan kesalahan di acara non formal," jelasnya.

 


 

Hal yang paling penting menjadi seorang MC, dalam pandangan Umi yaitu terus berlatih. Jika ada kesempatan menjadi MC, harus dilaksanakan untuk menambah pengalaman sehingga bisa lebih luwes. Umi juga berpendapat, apabila saat ini sedang mengikuti organisasi, khususnya organisasi seperti IPPNU, tentu banyak sekali kesempatan untuk menjadi MC.

 

"Terus berlatih, sampai tidak menyadari kalau kemampuan terus meningkat agar kerja keras tersebut memiliki value," pungkas Umi.

 

Editor: Romza

Iklan promosi NU Online Jatim