Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Kader NU Pragaan Sumenep Raih Gelar Doktor di UIN Sunan Ampel Surabaya

Kader NU Pragaan Sumenep Raih Gelar Doktor di UIN Sunan Ampel Surabaya
Durhan akhirnya bisa merampungkan gelar doktor di UINSA. (Foto: NOJ/Firdausi)
Durhan akhirnya bisa merampungkan gelar doktor di UINSA. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online 

Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-guluk Sumenep hadir demi mengembangkan integrasi keilmuan berlandaskan Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Pada saat yang sama didorong keinginan masyaikh untuk mencetak ulama intelektual.

 

Kampus tatatkrama julukannya sudah banyak menelorkan ilmuwan yang andal di bidang kepenulisan dan alumninya mampu melanjutkan ke jenjang pascasarjana dan program doktor. Kali ini yang menyandang predikat tersebut adalah Durhan.

 

Pria kelahiran Desa Kaduara Timur Kecamatan Pragaan, Sumenep ini telah menyelesaikan sidang terbuka promosi doktor di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Selasa (28/7).

 

KH Ah Syamli Muqsid mengemukakan bahwa Durhan adalah sosok pria tidak pantang menyerah, tak banyak bicara, tapi kerja nyata.

 

Rektor Instika Guluk-Guluk tersebut menegaskan bahwa prestasi yang dicapai berkat keikhlasan Durhan dalam mengabdi kepada pesantren dan fokus menyelesaikan tugas akhir. 

 

"Dia memiliki tekad sekeras baja. Jarang sekali orang kampung bisa meraih cita-citanya," ungkap Kiai Syamli yang juga menjabat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah daerah Latee I, Rabu (29/7).

 

Pada saat yang sama, Kiai Syamli sapaannya merasa kaget. Karena tidak banyak yang tahu bahwa Durhan akan meraih gelar doktor. 

 

"Gelar yang tidak sembarangan orang bisa meraihnya, termasuk orang kampung seperti dia," imbuhnya. 

 

Di kesempatan berbeda, KH Ahmad Junaidi Mu'arif menjelaskan bahwa cita-cita Durhan mampu diraih karena mendapat dukungan dari ibu, istri, dan jajaran guru di Annuqayah Guluk-guluk. 

 

Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan tersebut memaparkan profil Durhan kepada khalayak. 

 

"Kesibukan Durhan hanya berprofesi sebagai dosen fakultas tarbiyah di Instika. Dia juga menjabat sebagai kepala Madrasah Aliyah (MA) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Al-Ghazali Desa Rombasan Kecamatan Pragaan," urainya.

 

Tak sampai di situ, yang tak kalah penting lagi Durhan seorang guru ngaji di Mushalla As-Syifa' dan tokoh masyarakat di Desa Kaduara Timur. Kemudian Kiai Junaidi menegaskan bahwa Durhan adalah kader NU yang secara struktural menjabat sebagai pengurus Lembaga Ta'lif wan-Nasyr (LTN) MWCNU Pragaan. Sedangkan di desa, Durhan menjabat sebagai Musytasyar Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kaduara Timur. 

 

Kiprah Durhan
Kepada NU Online Jatim, Durhan menjelaskan bahwa dirinya memiliki tekad yang bulat supaya ibu dan keluarganya bangga. Kiai yang tinggal di perbatasan Sumenep dan Pamekasan tersebut menegaskan bahwa hanya satu tujuan yakni li i'lakalimatillah atau menegakkan agama Islam. Jika demikian, maka akan tercapai keinginan yang diimpikan oleh setiap individu. 

 

"Perjuangan dan pengorbanan mencari ilmu di Surabaya telah dirasakan saat saya kuliah S2 di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel kala itu," ujar dosen Instika tersebut. 

 

Selanjutnya, tidak jarang uang pembayaran sering molor. Bahkan dia pernah menggunakan uang koin atau logam sebagai penyelesaian tunggakan kampus.

 

"Pihak kampus sempat tidak percaya bahwa masih ada sosok mahasiswa yang membayar uang tunggakan SPP atau semesteran dengan menggunakan uang recehan," kisahnya.

 

Kepala MA dan PAUD Al-Ghazali Rombasan tersebut mengutarakan bahwa di masa pandemi, seluruh kampus akan mengalihkan kegiatan pembelajaran ke media online. Termasuk ujian tertutup gelar doktornya yang harus mencari tumpangan rumah yang memiliki akses atau signal internet yang kuat. 

 

"Kami sudah terbiasa pindah kos-kosan, bolak-balik pulang pergi ke Madura. Jerih payah ini terbayar dengan ucapan selamat dari promotor dan dosen penguji dengan predikat sangat memuaskan," ungkapnya. 

 

Bagai pucuk di cinta ulam pun tiba. Kira-kira adagium itu pas untuk memperoleh raihan Durhan menyandang gelar doktor. Pembiayaan yang menjadi momok bagi mahasiswa S3 malah diberikan kemudahan dan mampu menyelesaikan pembayaran secara kontan.

 

"Tak kusangka rezeki Allah datang bertubi-tubi yang sifatnya la yahtasib," ungkapnya. 

 

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Selatan tahun 1997 ini menegaskan bahwa ia semangat dan yakin bisa karena teringat pesan gurunya yakni almaghfurlah KH Moh Ishomuddin Abdullah Sajjad. 

 

"Pesan kiai pada kami saat mondok adalah orang yang mencari ilmu selalu mendapat kemudahan dan berada dalam pengawasan Allah SWT. Jangan takut biaya, karena Allah Maha Kaya," ujarnya menirukan pesan sang guru. 

 

Selain itu, dirinya selalu ingat pesan ibunda agar fokus dalam mengerjakan disertasi sehingga bisa tepat waktu. Dan selalu mencium tangan ibunya setiap berangkat kuliah ke Surabaya. 

 

"Ketika saya mencium tangan ibu, beliau selalu mengelus pundak sambil mendoakan," kisahnya. 

 

Jika diukur secara meteril, Durhan dari kalangan keluarga sederhana. Ia tinggal tinggal bersama ibunya, sedangkan kebutuhan hidup keluarga menjadi tanggung jawab untuk menafkahi istri dan anaknya.

 

"Alhamdulillah se kobhesah atau gusti Allah mengijabah doa saya. Kalau ditanya rahasianya? Saya menjawab jadikan shalat malam atau tahajjud sebagai urat nadi hidupmu," tegasnya. 

 

Durhan memberikan pesan kepada generasi muda NU agar terus menyambungkan sanad keilmuannya hingga ke jenjang lebih tinggi. Karena muassis NU tidak pernah lelah dalam menuntut ilmu di manapun ia berada atau luru ilmu kanti lalaku (santri kelana).

 

"Selama punya kesempatan, lanjutkan! Jangan pernah berhenti mencari ilmu, karena ilmu tak terbatas. Dengan ilmu seseorang akan mencapai kesempurnaan dan kebijaksanaan," pungkasnya.
 

PWNU Jatim Harlah