Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Kebangkitan Islam Nusantara Jadi Semangat Konferensi NU di Sidoarjo

Kebangkitan Islam Nusantara Jadi Semangat Konferensi NU di Sidoarjo
Ketua PCNU Kabupaten Sidoarjo KH Maskhun saat membuka acara Konferensi MWCNU Kecamatan Waru di Pesantren Mambaul Ulum, Kecamatan Waru, Ahad (27/02/2021).(Foto: NOJ/Yuli Riyanto)
Ketua PCNU Kabupaten Sidoarjo KH Maskhun saat membuka acara Konferensi MWCNU Kecamatan Waru di Pesantren Mambaul Ulum, Kecamatan Waru, Ahad (27/02/2021).(Foto: NOJ/Yuli Riyanto)

Sidoajo, NU Online Jatim

Lima tahun lagi dalam kalender masehi, Nahdlatul Ulama (NU) akan berusia 100 tahun. Usia satu abad menjadi penanda penting peradaban, juga menandai gerak panjang NU di Indonesia.

 

NU tidak hanya menjadi organisasi keagamaan semata, akan tetapi juga menjadi penopang demokrasi, penguat sosial-ekonomi warga. Jutaan Nahdliyin yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara, telah menyebarkan nilai-nilai tradisi, pengetahuan, sekaligus juga adaptasi terhadap modernitas.

 

“Kini saatnya, NU harus melakukan penguatan jamiyah, termasuk disini penguatan paham Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Kita sekarang ini sudah masuk era revolusi industri 4.0, tantangan NU kedepan sangat luar biasa. Baik itu tantangan dari gerakan radikalisme, intoleransi, dan terorisme,” kata Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo H Fahrur Rozi, dalam acara Konferensi MWCNU Waru, Ahad (07/02/2021).

 

Lebih lanjut ia menambahkan, NU posisinya ada ditengah-tengah atau moderat (wasathiyah). Oleh karena itu NU mulai berdiri sejak tahun 1926  sampai sekarang tidak pernah jatuh. Dalam sejarah NU tidak pernah sedikitpun ada keinginan untuk memberontak kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang dilakukan NU adalah mengisi, apabila ada kebijakan pemerintah yang salah NU harus kritis.

 

“Karena tantangan yang luar biasa tersebut, maka warga NU harus solid. Islam Nusantara adalah Islam yang ada di Indonesia, Islam di Indonesia memiliki karakteristik dan ciri khas yang berbeda, kalau shalatnya sama, puasa ramadhan nya sama, tapi dalam hal tradisi, budaya, kearifan lokal, Islam Nusantara memiliki ciri khas, diantaranya sopan, toleran, dan menghargai perbedaan pendapat,” ucapnya.

 

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Panitia Konferensi MWCNU Waru, H Mas Husein, bahwa Islam Nusantara, cinta tanah air harus kita bangkitkan dalam semangat kebangsaan kita, oleh karenanya konferensi ini mengusung tema  “Optimalisasi Islam Nusantara Dalam Peradaban Kehidupan Masyarakat Waru,” untuk membakar semangat ranting-ranting NU dan MWCNU Waru.

 

“Peradaban Islam nusantara yang sudah ada di Kecamatan Waru kita pertahankan, kerukunan antar umat beragama dan kerukunan antar umat Islam kita bangkitkan. Budaya-budaya yang sudah lama ada juga mari kita bangkitkan,” ujarnya kepada NU Online Jatim.

 

Lebih jauh ia menerangkan, semua Lembaga dan Badan otonom (Banom) memasukkan materi terkait kegiatan-kegiatan peradaban Islam Nusantara di Kecamatan Waru.dalam konferensi ini. “semua Lembaga dan Banom sudah membuat rancangan program dan akan kita formulasikan dalam lima tahun kedepan,” pungkasnya.

 

Konferensi MWCNU Waru hari ini dipusatkan di Pesantren Mambaul Ulum, Kecamatan Waru. Dihadiri oleh Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sidoarjo KH Maskhu, Wakil Bupati Sidoarjo terpilih H Subandi, anggota DPRD Sidoarjo H Nasih, jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimka) Waru.

 

 

Tampak hadir pula segenap pengurus MWCNU Waru beserta Lembaga dan Banom, utusan ranting NU se-Kecamatan Waru sebagai peserta konferensi, dan tamu undangan lainnya dengan mematuhi protokol kesehatan.

 

Dalam Konferensi MWNU Waru tersebut, H Fahrur Rozi dan KH Hasyim Hambali terpilih kembali sebagai Ketua dan Rais Syuriyah MWCNU Waru untuk masa khidmat 2021-2026.

 

Editor: Romza

Iklan promosi NU Online Jatim