Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Keberanian Orang Sampang Tak Tertandingi

Keberanian Orang Sampang Tak Tertandingi
Orang Madura kerap melontarkan guyonan yang terkadang tidak disadari. (Foto: NOJ/LS)
Orang Madura kerap melontarkan guyonan yang terkadang tidak disadari. (Foto: NOJ/LS)

Untuk memastikan surat menyurat sampai ke alamat sesuai harapan, tidak ada pilihan kecuali harus disampaikan secara langsung. Begitulah yang terjadi pada tahun 80 hingga 90-an, apalagi sebelumnya.  Surat yang ditujukan untuk memastikan sebuah kegiatan dan sejenisnya tidak dapat dilakukan hanya mengandalkan jasa pos, tapi harus diantar ke alamat dan bertemu yang dituju. Bila memang akan mengundang seseorang, dipastikan surat permohonan diterima yang bersangkutan agar tidak terjadi kesalah pahaman.

 

Hal itu juga yang terjadi di kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur saat masih menempati alamat di Jalan Raya Darmo 96 Surabaya. Banyak kiai dan ulama serta pengurus NU dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Timur untuk menyampaikan surat ke induk jamiyah.

 

Pengalaman unik disampaikan Samaji, sopir PWNU Jatim saat menerima tamu utusan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sampang.

 

Kala itu, Ketua PWNU Jatim adalah allahumma yarham, KH A Hasyim Muzadi dan sedang berada di kantor. Kehadirannya jauh-jauh dari Malang untuk memastikan mengecek surat yang masuk dan keluar, serta mendengar informasi terbaru terkait perkembangan negara, PWNU dan PCNU se-Jatim.

 

Kepada Samaji, Kiai Hasyim memerintah untuk menyiapkan kopi dan teh sesuai jumlah tamu yang datang berkunjung siang itu. Dan dengan sigap, pria yang sudah didaulat sebagai rais ISNU atau Ikatan Sopir Nahdlatul Ulama ini meladeni tamu, termasuk dari Sampang.

 

Usai kopi dan teh tersedia di meja tamu, Kiai Hasyim menemui tamunya di ruangan khusus. Satu persatu ditanyakan dari mana dan tujuannya apa hingga datang ke Surabaya.

 

Kiai Hasyim: Sampean dari mana?

Tamu: Dari Sampang, kiai.

 

Kiai Hasyim mempersilakan sang tamu untuk menikmati kopi yang telah ada.

 

“Silakan diminum,” kata pengasuh dan pendiri Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Kota Malang tersebut.

 

Setelah kopi dan teh panas disruput, barulah Kiai Hasyim kembali bertanya, basa-basi.

 

Kiai Hasyim: Sampean dari mana?

 

Tamu: Sampang, kiai.

 

Kiai Hasyim: Oh, dari Sampang Madura ya?

 

Tamu: Bettul, kiai.

 

Kiai Hasyim: Tadi ke sini dengan siapa?

 

Tamu: DENGAN SENDIRINYA, kiai

 

Kiai Hasyim mencoba menahan tawa atas jawaban tersebut. Maknanya adalah bahwa sang tamu datang sendirian. Karena jarang berbahasa Indonesia, akhirnya yang dilakukan memadukan antara bahasa Madura yang dibahasa Indonesiakan. Kadhibian atau sendirian sehingga menjadi sendirinya.

 

Karena masih penasaran, Kiai Hasyim melanjutkan pertanyaannya. Barangkali sang tamu ada yang menemani atau diantar seseorang.

 

Kiai Hasyim: Ya, tadi bersama siapa?

Tamu: BERSATU kiai.

 

Jawaban kedua ini membuat Kiai Hasyim akhirnya tidak bisa menahan tawa....... 

 

Kiai Hasyim akhirnya yakin bahwa tamu dari Sampang ini datang sendirian dan tidak ada yang menemani apalagi mengantar. Buktinya, datang bersatu, tanpa teman selama perjalanan.

 

Keberanian orang Sampang melakukan perjalanan ke Surabaya, benar-benar tidak diragukan. Buktinya, berani bersatu dengan sendirinya. Fahimtum?

 

Kepada Kiai Hasyim Muzadi, alfatihah.

Iklan promosi NU Online Jatim