Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Keistimewaan dan Cara Mengisi Nisfu Sya’ban

Keistimewaan dan Cara Mengisi Nisfu Sya’ban
Nisfu Sya'ban hendaknya diisi dengan ibadah khusus. (Foto: NOJ/
Nisfu Sya'ban hendaknya diisi dengan ibadah khusus. (Foto: NOJ/

 Sya’ban adalah bulan istimewa, diambil dari akar kata syin, ain dan ba’ yang berarti cabang. Satu riwayat menyebutkan, dinamakan bulan Sya’ban karena di dalamnya terdapat banyak sekali kebaikan. Laksana sebatang pohon yang memiliki banyak cabang, dahan dan ranting.

 

Di antara keistemewaan bulan Sya’ban adalah sebagai berikut;

 

  • Turunnya QS al-Ahzab:56 yang berisi perintah bershalawat kepada Nabi Muhammmad SAW. Sehingga bulan ini dikenal sebagai bulan shalawat.

 

  • Terjadi peristiwa perpindahan arah kibat kaum muslimin dari Baitil Maqdis di Pelestina ke Ka’bah di Masjidil Haram Mekkah.
    Peristiwa perpindahan arah kiblat tersebut terjadi tahun ke-2 hijriyah berdasarkan wahyu QS al-Baqarah: 144 dan diabadikan hingga kini dengan sebuah monumen berupa Masjid Qiblatain terletak sekitar tujuh kilo meter dari Masjid Nabawi Madinah. 

 

  • Turunnya perintah puasa Ramadhan QS al-Baqarah: 183 pada tahun ke-2 hijriyah.

 

  • Pernikahan Rasulullah SAW dengan Siti Hafshah dan Siti Juwairiyah dan lahirnya Sayyidina Husain, cucu baginda Rasulullah SAW tahun ke-3 hijriyah. 

 

  • Terjadinya beberapa peperangan yang sangat penting dalam sejarah perjuangan Islam seperti perang Bani Mushtaliq ke-6 hijriyah.

 

  • Terdapat malam istimewa, yakni malam Nisfu Sya’ban (malam tanggal 15 Sya’ban). Nisfu Sya’ban merupakan salah satu dari lima malam yang utama; malam Qadar (lailatul qadar), Idul Fitri, Idul Adha, malam Jumat dan malam awal bulan Rajab.

 

Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban

  • Nabi menghidupkan malam tersebut dengan beribadah dan bermunajat, ziarah ke maqbarah Baqi’.
       
  • Nisfu Sya’ban memiliki banyak nama yang menunjukkan bukti keistimewaan dan kemuliannya. Di antara nama-nama tersebut adalah;

    Lailatul bara’ah, yakni malam pembebasan (pengampunan) Allah SWT terhadap umat Nabi Muhammad SAW. Terutama dosa-dosa kecil  yang dilakukan agar saat memasuki bulan suci Ramadlan dalam suasana hati dan jiwa yang bersih. Kesucian jiwa bertemu dengan kesucian Ramadlan, maka insyallah sukses dalam menghidupkan Ramadlan.

    Namun begitu, ada beberapa kelompok umat Islam yang tidak akan mendapatkan ampunan jika tidak segera bertobat dari kesalahan sebelum memasuki malam Nisfu Sya’ban. Di antaranya adalah tukang sihir, dukun peramal, pemabuk, pezina, pemakan riba (rentenir), durhaka kepada kedua orang tua, memutus silaturahim dan pengadu domba.​​​​​​​

    Lailatul qismah wa takdir atau malam di mana Allah  akan membagikan dan menetapkan ketentuan takdir-Nya untuk perjalanan hidup manusia selama satu tahun ke depan. 

    Mengapa bisa? Bukankah ajal, rezeki, jodoh, nasib baik buruk sudah ditentukan? Memang betul, tapi ketentuan takdirnya yang tercatat di lauhil mahfud-Nya itu bersifat muallaq. Artinya masih bisa ditawar dengan doa dan munajat bisa berubah atas kehendak-Nya.

    Sedang yang qadha mubram (tidak bisa berubah) hanya Allah yang mengetahuinya (lihat Tafsir al-Durr al-Mantsur As-Suyuti pada ayat QS. Ar-Ra’ad 39, ad-Dukhan 1-6)​​​​​​​.

    Lailatul ijabah atau malam diterimanya semua doa dan permohonan. 

    Dan masih banyak nama gelar lainnya, yang menunjukkan keagungan malam Nisfu Sya’ban. Bahwa katsratul asmaa tadullu ala syarafil musamma, yakni banyaknya gelar menunjukkan kehebatan penyandang gelar tersebut.

 

Amaliah Malam Nisfu Sya’ban

​​​​​​.

  • Membaca surah Yasin 3 kali disertai dengan niat masing-masing sebelum membacanya, serta masing masing ditutup dengan doa Nisfu Sya’ban, secara berjamaah atau individu.

 

Yasin pertama, berniat memohon panjang umur di dalam ketaatan kepada Allah SWT. Yasin kedua, berniat memohon perlindungan dari segala macam musibah serta dimurahkan rezeki. Yasin ketiga diniatkan memohon kaya hati dan mati husnul khatimah.
 

  • Shalat tasbih 4 rakaat dengan 2 kali salam. Dan salat shalat sunah utama lainnya.

 

  • Membaca tasbih Nabi Yunus sejumlah nilai hitungan hurufnya, yakni sebanyak 2375 kali.

 

  • Berpuasa di siang harinya (HR Al Baihaqi). Diriwayatkan Nabi Muhammad SAW paling banyak berpuasa di bulan Sya’ban.

     
  • Bersalam-salaman yang seharusnya ini dilakukan sebelum memasuki malam Nisfu Sya’ban untuk meminta maaf kepada sesama umat manusia. Terutama kedua orag tua agar tidak termasuk orang yang memutus silaturahim atau durhaka kepada kedua orang tua yang merupakan salah satu penghalang mendapatkan ampunan Allah pada malam tersebut.

 

Wallahu a’lam dan semoga bermanfaat.

 

 

Referensi utama: 

Kanzunnajah wa surur Syekh Abd. Hamid Al-Qusdy. 

Nuzhatul Majalis wa muntakhab An-Nafais, Abd.Rahman As-Shafury

Khazinatul Asrar. Syekh Haqqi An-Nazily  

Khazain Rabbaniyah fi Tafsir Al-Suar Al-Munjiyat, Khairuddin Habziz

 

 

Ustadz Khairuddin Habziz adalah Katib Ma'had Aly dan Rais Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Banyuputih, Situbondo

F1 Bank Jatim  Syariah 17/9