Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Keistimewaan Perempuan dalam Islam

Keistimewaan Perempuan dalam Islam
Dalam Islam, perempuan memiliki kedudukan istimewa. (Foto: NOJ/IMs)
Dalam Islam, perempuan memiliki kedudukan istimewa. (Foto: NOJ/IMs)

Pada kesempatan ini, marilah kita renungkan hadits berikut:

 

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِلنِّسَاءِ (رواه الحكيم عن ابن عباس)

 

Artinya: Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada perempuan. (HR Hakim dari Ibnu Abbas, kitab Al-Jami’us Shaghir, hadits nomor 4101).

 

Menurut riwayat (Tarikh Nabi Muhammad SAW, 328), bahwa Ruqayyah adalah putri Nabi Muhammad SAW yang kedua. Ia dilahirkan ketika Nabi berusia 33 tahun. Sesudah dewasa, Ruqayyah dinikahkan dengan seorang pemuda bangsa Quraisy yaitu ‘Utbah yang merupakan anak dari Abu Lahab. Pernikahan ini terjadi sebelum Nabi diangkat menjadi Rasul, sehingga membuat semakin baik hubungan persaudaraan Nabi dengan Abu Lahab yang merupakan pamannya.

 

 

Tidak hanya Ruqayyah yang dinikahkan dengan anak Abu Lahab, Nabi juga menikahkan putrinya yang lain yaitu Ummi Kulsum dengan anak Abu Lahab lainnya yang bernama ‘Utaibah. Setelah Nabi diangkat menjadi Rasul dan Abu Lahab menjadikan Islam musuh utamanya, Abu Lahab meminta kedua anaknya menceraikan kedua puteri Nabi.

 

Tidak lama setelah diceraikan ‘Utbah, Raqayyah dinikah oleh sahabat Utsman bin Affan. Raqayyah termasuk salah seorang yang melakukan hijrah dua kali. Pertama, ketika sahabat Utsman hijrah ke Habasyah, ia ikut berangkat hijrah menemani suaminya. Kedua, ketika hijrah ke Madinah, dengan setia Ruqayyah ikut menemani suaminya.

 

Ruqayyah mengalami sakit ketika Nabi hendak berangkat ke perang Badar, sehingga sahabat Utsman tidak bisa ikut berperang karena menjaga istrinya yang sakit. Dan ketika Nabi beserta para sahabat yang lain kembali dari perang Badar, Raqayyah meninggal dan dikuburkan ketika suruhan Nabi membawa kabar kemenangan sampai di Madinah.

 

Jadi, ketika Nabi sampai di Madinah, Ruqayyah sudah dikuburkan. Setelah mendengar kabar putrinya sudah meninggal dan dikuburkan, Nabi bersabda:

 

الحمد لله دفن البنا ت من المكرما ت

 

Artinya: Segala puji bagi Allah, mengubur anak perempuan ini termasuk perbuatan mulia.

 

Hadits ini berarti, mengubur perempuan yang telah meninggal adalah suatu perbuatan mulia dan terpuji. Sehingga tindakan sahabat Utsman yang mengubur Ruqayyah sekalipun belum mendapat izin dari Nabi sebagai ayahnya merupakan perbuatan yang baik dan lebih utama sehingga Nabi memujinya.

 

Keutamaan perempuan juga dijelaskan dalam hadits lainnya, yaitu:

 

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِلنِّسَاءِ (رواه الحكيم عن ابن عباس)

 

Artinya: Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada perempuan. (HR Hakim dari Ibnu Abbas, kitab Al-Jami’us Shaghir, hadits nomor 4101).

 

Dengan begitu, Islam telah memberikan kisah yang menjelaskan betapa perempuan adalah insan yang sangat diistimewakan. Bahwa Islam telah menegaskan perempuan dengan kedudukan yang istimewa, maka hal yang sebaliknya, bahwa perempuan telah termarginalkan ataupun terdiskrimanisikan, sama sekali bukan potret ajaran Islam.

 

 

Dalam hal ini, seyogyanya umat Islam semakin memahami bahwa multi peran perempuan adalah fakta yang diapresiasi. Dan tidak ada alasan bagi siapapun untuk menjadikan agama Islam sebagai alasan untuk memberikan stereotype negatif terhadap kaum perempuan.

 

Perempuan punya peran, bahkan multi peran, maka jadikan keistimewaan tersebut sebagai penguat kebaikan bagi banyak orang.

 

Lia Istifhama adalah Ketua Perempuan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Timur.

PWNU Jatim Harlah