Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Kembangkan Keterampilan, Pesantren Fatchul Ulum Gelar Ngaji Jurnalistik

Kembangkan Keterampilan, Pesantren Fatchul Ulum Gelar Ngaji Jurnalistik
Kegiatan Ngaji Jurnalistik jilid tiga memperingati Milad ke-32 Pesantren Fatchul Ulum Pacet Mojokerto. (Foto: NOJ/Salwa)
Kegiatan Ngaji Jurnalistik jilid tiga memperingati Milad ke-32 Pesantren Fatchul Ulum Pacet Mojokerto. (Foto: NOJ/Salwa)

Mojokerto, NU Online Jatim

Menulis bukanlah pekerjaan sulit jika dilakukan dengan sungguh-sungguh.  Juga bukanlah bakat dari setiap individu, melainkan merupakan minat yang harus terus dipupuk. Pesantren Fatchul Ulum Pacet Mojokerto menyadari pentingnya keterampilan menulis terlebih di era saat ini.

 

“Para santri harus terampil menulis. Menulis hari ini tidaklah sulit karena media sudah ada di mana-mana. Menulis yang mudah bisa melalui media sosial. Mari bersama manfaatkan media sosial untuk menanam kebaikan dengan narasi edukatif,” kata Ustadz Kholili, Rabu (2/9/2020).

 

Dirinya didaulat sebagai Ketua Panitia Ngaji Jurnalistik jilid tiga dalam memperingati Milad ke-32 Pesantren Fatchul Ulum Pacet Mojokerto.

 

Moch Rofi'i Boenawi, Redaktur Majalah Aula yang menjadi pemateri mendefinisikan makna ngaji jurnalistik sebagai aktivitas yang menghasilkan berita atau opini. Jurnalistik menjadi kunci bagi santri untuk memperdalam teknis kepenulisan.

 

“Jurnalistik merupakan aktivitas yang dilakukan untuk mendapatkan sebuah informasi lalu diolah menjadi berita untuk dipublikasikan ke khalayak,” katanya di hadapan peserta.

 

Pria kelahiran Surabaya tersebut mengatakan ada beberapa kegiatan di pesantren yang kurang diliput media, hal itu membuat pesantren jarang diketahui kegiatan atau aktivitasnya. Maka dari itu, dengan adanya kegiatan ini bisa mewujudkan sebuah wadah bagi santri untuk lebih bekerja keras dalam menulis.

 

“Menulis itu 10 persen bakat dan sisanya kerja keras,” kata sarjana pendidikan Islam IAI Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo tersebut.

 

Dirinya berpesan kepada santri agar rajin membaca dan menulis.

 

“Menulis itu ibarat kendi, jika diisi dengan air putih maka dikeluarkannya air putih pula. Sama halnya dengan menulis, apa yang kita baca itulah yang kita tulis,” ungkap pria yang juga dosen STAI Al-Azhar Menganti Gresik ini.

 

Setelah memberikan motivasi, Rofi’i Boenawi mulai menjelaskan fungsi pers, teknik menulis berita, nilai berita, teknik wawancara, persiapan wawancara hingga cara menulis berita langsung.

 

Setelah itu, peserta yang berjumlah 40 santri ditugasi praktik ke lapangan. Mereka diminta wawancara langsung dengan warga di sekitar pesantren dan langsung menulis.

 

“Kepada para santri jangan berhenti menulis. Ngaji jurnalistik ini awal dari kalian berproses,” pungkasnya.

 

Kontributor: Salwa

Editor: Syaifullah

PWNU Jatim Harlah