Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Ketua NU Jatim Ajak Nahdliyin Bijak Sikapi Pernyataan Presiden Prancis

Ketua NU Jatim Ajak Nahdliyin Bijak Sikapi Pernyataan Presiden Prancis
KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jatim saat pengajian Kiswah sebelum pandemi. (Foto: NOJ/Ist)
KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jatim saat pengajian Kiswah sebelum pandemi. (Foto: NOJ/Ist)

Surabaya, NU Online Jatim

Beragam sikap ditunjukkan kaum muslimin dan juga warga Nahdlatul Ulama atau Nahdliyin terkait kemunculan kembali kasus karikatur Nabi. Termasuk pernyataan  Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dianggap mendukung pelecehan tersebut.

 

Terkait hal ini, KH Marzuki Mustamar bahkan mengeluarkan pernyataan khusus yang kemudian beredar luas di masyarakat. Dalam video dimaksud, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini meminta umat Islam bersikap proporsional dengan pertimbangan yang matang.

 

“Sebagai muslim tentu kita tersinggung, marah, kalau Nabi digambarkan jelek kayak gitu,” kata Kiai Marzuki, sapaan kesehariannya.

 

Namun demikian, Pengasuh Pesantren Sabilurrosyad Kota Malang tersebut meminta semua juga melakukan evaluasi, mawas diri dan introspeksi. Karena dalam pandangan dosen Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim tersebut, Prancis ramah kepada muslim Ahlussunah Wal Jama’ah atau Aswaja dan Islam moderat seperti yang dianut NU.

 

“Kepada muslim biasa (bukan aliran keras), yang Aswaja, Prancis itu welcome. 2.000 lebih masjid di Prancis aman-aman aja,” kata Kiai Marzuki Mustamar.

 

Bukan hanya itu. Menurut Kiai Marzuki, ribuan pengungsi dari Syuriah juga diterima oleh Prancis.

 

“Yang membuat Prancis marah, bukan kepada umat Islam seperti kita, Ahlusunnah Wal-Jama’ah. Yang membuat Macron marah karena Islam model ISIS. Teroris itu lho, Islam radikal. Jadi yang bermasalah itu Islam radikal, bukan Islam umum seperti yang kita anut,” jelasnya.

 

Lebih lanjut, Kiai Marzuki mengingatkan bahwa al-Qur’an melarang menjelek-jelekkan agama lain. Karena kalau hal tersebut yang dilakukan, akan juga akan ada balasan dari kalangan yang tidak simpatik.

 

“Aslinya, Al-Qur’an sendiri itu melarang kita menyakiti orang lain, melarang kita mem-bully, menghina, mengejek, menjelek-jelekkan agama di luar Islam. Yesus diilok-ilokno yo gak oleh (Yesus diolok-olok ya tidak boleh)-. Sang Yang Widi dielek-dielekno yo gak oleh,” kata Kiai Marzuki Mustamar sembari mengatakan bahwa pada zaman Nabi pun dulu juga dilarang menghina berhala Latta, Uzza, dan sebagainya.

 

Sebab, kata Kiai Marzuki Mustamar, jika menjelek-jelekkan simbol agama lain yang dianggap suci, khawatir membalas menjelek-jelekkan agama Islam secara ngawur.

 

“Jadi ini bukan soal NU atau bukan. Tapi mari kita mengikuti ajaran agama Islam,” sergahnya sembari mengutip Al-Qur’an surat Al-Anam ayat 108.

 

Karena itu Kiai Marzuki mengajak mengembangkan Islam yang ramah, damai, berbudaya, berperadaban, berprestasi, dan membanggakan. Sebab, meski umat Islam minoritas di beberapa negara lain, tapi jika berprestasi dan membanggakan, maka negara yang mereka tempati akan hormat dan ikut bangga. Bahkan, bukan tidak mungkin lalu tertarik dan masuk Islam.

 

Kiai Marzuki menegaskan bahwa sikap seperti ini bukan berarti membela orang kafir. Tapi yang ingin ditunjukkan bahwa Islam sangat ramah, membawa kemajuan, berprestasi dan memberi solusi hidup sehingga kalangan lain tertarik kepada Islam.

 

“Nabi-nabi dahulu sudah biasa dihina-hina. Tapi karena Nabi Muhammad punya kepentingan dakwah, Nabi tetap berdagang dengan mereka,” kata Kiai Marzuki.

 

Dirinya mencontohkan seorang Yahudi yang menghina Nabi Muhammad. Tapi Nabi sabar, tidak marah. Lalu si Yahudi itu sakit. Nabi Muhammad justru datang menjenguk dan mengobati. Sembuh. Si Yahudi tertarik pada akhlak Nabi. Ia masuk Islam.

 

“Ini (kisah Yahudi) ada di Bukhari,” kata Kiai Marzuki Mustamar sembari menunjukkan Kitab Bukhari yang ada di depannya. 

 

Menurut Kiai Marzuki, Nabi Muhammad justru mendekati dan mendakwahi para penghinanya dengan akhlak yang terpuji dan tinggi, bukan dengan kekerasan, sehingga mereka masuk Islam.

Iklan PWNU Jatim