Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Ketua NU Kota Surabaya, Isi Pandemi dengan Terbitkan Buku

Ketua NU Kota Surabaya, Isi Pandemi dengan Terbitkan Buku
H Ahmad Muhibbin Zuhri tetap aktif menulis saat pandemi Corona. (Foto: NOJ/ Ist)
H Ahmad Muhibbin Zuhri tetap aktif menulis saat pandemi Corona. (Foto: NOJ/ Ist)

Surabaya, NU Online Jatim

Kreativitas bisa lahir dari suasana apa saja. Di tengah pandemi yang tidak memungkinkan untuk keluar rumah, namun ternyata dapat dioptimalkan untuk menulis buku.

 

Hal itulah yang bisa dilihat dari sosok Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya, H Ahmad Muhibbin Zuhri.

 

Tidak sendirian, dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut bersama Winarto Eka Wahyudi menulis buku terbaru dengan judul ‘Jejak Peradaban Islam Nusantara’.

 

Sebuah pencapaian yang layak diapresiasi bahkan dijadikan teladan bagi sejumlah kalangan agar di tengah wabah virus Corona masih dapat menghasilkan karya yang membanggakan.


"Buku jejak peradaban Islam Nusantara ini kita bahas dengan perspektif dan sudut pandang keterkaitannya dengan kolonialisme di Indonesia apakah itu bentuk resistensi atau adaptasi," kata Cak Muhibbin, sapaan akrabnya, Sabtu (14/11/2020).

 

Hal itu disampaikannya saat bedah buku tersebut di kantor PCNU Kota Surabaya, Jalan Bubutan Surabaya.
 

Pada kesempatan tersebut juga menghadirkan narasumber, Winarto Eka Wahyudi  dan KH Imam Ghozali Said serta diikuti oleh 31 Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kota Surabaya.

 

Cak Muhibbin mengatakan bahwa buku itu juga memberikan gambaran sebuah konstruksi Islam Nusantara. Yakni adalah betul-betul hasil dialektika kesejarahan masa lalu.

 

Disampaikannya bahwa Indonesia pernah mengalami kolonialisasi, dari negara Portugis, Belanda dan Jepang. Di sana ada yang khas dari produk pemikiran maupun satu kebiasaan atau tradisi yang itu merupakan wujud resistensi atau adaptasi dari kolonialisme.
 

"Misalnya bagaimana melahirkan gerakan kebudayaan di antaranya adalah mengidentifikasikan diri berlawanan dengn simbol kolonial, seperti fatwa tentang keharaman memakai topi dan dasi, sepatu fantofel dan jas, yang merupakan identitas dari orang Belanda saat itu,” terangnya.

 

Demikian pula lahirnya Resolusi Jihad dan fatwa jihad sebagai bagian dari contoh fenomena kerasnya perlawanan terhadap kolonialisme.
 

Buku karyanya melengkapi literatur tentang Islam Nusantara yang sebelumnya telah terbit, yakni karya Zainul Hilal Al Basawi tentang Islam Nusantara. Pendekatan buku tersebut mengumpulkan karya intelektual dari ulama Nusantara. Juga tentang jaringan Islam Nusantara karya Azyumardi Azra.

Dirinya juga mengharapkan yang lainnya juga terus berkarya dengan menerbitkan seri buku tentang Islam Nusantara untuk melanjutkan buku tersebut.

 

"Buku ini masih bisa dikembangkan karena banyak ruang yang kosong. Misalnya bagaimana cara pandang Islam Nusantara terhadap masalah yang berkaitan dengan eksistensi negara dan bangsa," pungkasnya.

Iklan promosi NU Online Jatim