Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Ketua NU Sumenep: Petani Paling Tawadhu, tapi Terzalimi

Ketua NU Sumenep: Petani Paling Tawadhu, tapi Terzalimi
Rapat pengurus LPPNU Sumenep bersama Ketua PCNU setempat. (Foto: NOJ/ Ibnu Abbas).
Rapat pengurus LPPNU Sumenep bersama Ketua PCNU setempat. (Foto: NOJ/ Ibnu Abbas).

Sumenep, NU Online Jatim

Menjelang Musyawarah Kerja (Musyker), Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep melaksanakan rapat persiapan, Senin (30/11/2020). Dalam rapat tersebut, pengurus lembaga menghadirkan pengurus harian PCNU dalam rangka silaturrahim sekaligus meminta nasihat untuk bidang garapan kerja pertanian selama 5 tahun kedepan.

 

Saat pertemuan tersebut, KH A Pandji Taufiq mengungkapkan bahwa mayoritas warga NU adalah petani. Bahkan secara nasional data profesi petani NU bisa mencapai 80 persen.

 

"Kalau warga NU mayoritas petani, lalu kita abaikan kerja program bidang pertanian, maka kita paling berdosa," kata Ketua PCNU Sumenep tersebut saat  memulai pembinaan.

 

Menurutnya, petani merupakan tipologi kelompok masyarakat yang paling tawadlu.  Sehingga dari saking tawadlunya, nyaris tak terendus komplain, mengeluh, dan membuat gaduh di Media Sosila (Medsos).

 

"Barang yang dijual punya petani, tapi yang memberi harga bukan petani, melainkan pembeli atau perusahaan. Petani pasrah begitu saja. Ini yang dinamakan tawadlu," singgungnya saat menjelaskan realitas dunia pertanian.

 

Tak sampai disitu, di dunia pertanian, tak ada harga yang ditentukan sendiri oleh petani kecuali harga jual ternak sapi. Kendatipun demikian, sindikat jual beli sapi di beberapa pasar masih terlihat gelap penuh tekanan.

 

Selanjutnya, pupuk yang memberi harga bukan petani tapi perusahaan. Bahkan membeli pupuk yang merupakan kebutuhan mendasar petani di sebagian tempat, seolah masih terasa sulit dan penuh kecurangan. Karena harus membeli yang subsidi dan non subsidi sekaligus. Tapi menghadapi ini petani tawadlunya luar biasa, masih membeli ditengah keterengahan dirinya.

 

"Petani, disadari atau tidak masih menjadi pihak yang amat tertindih oleh sistem yang ada," ungkapnya sambil mengkritik kebekuan sistem.

 

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk tersebut juga menjelaskan bahwa ancaman dunia pertanian oleh sistem korporasi pertanian. Dimana pengelolaan tidak lagi berdasarkan kekuatan individual tapi pertanian dalam satu sistem tunggal.

 

"Dunia pertanian sudah makin didekati dengan cara yang birokratis, sehingga semakin memojokkan kekuatan individual petani kampung," imbuhnya penuh nasehat.

 

Hal itu juga, secara global masalah dunia pertanian dibarengi kenyataan bahwa negara maju OECD (Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) memberi pinjaman kepada negara berkembang. Pinjaman dalam bentuk teknologi agar kita bercocok tanam dengan mesin yang dijual mereka. Juga mereka memberi modal pinjaman berbunga dan bersyarat.

 

"Kenyataannya kita sedang menghadapi imperialisme gaya baru, dan yang paling terinjak itu adalah para petani," ucapnya menerawang.

 

Belum lagi ancaman dari dalam, angkatan kerja bidang pertanian semakin kecil, generasi penerus semakin susah berprofesi sebagai petani. Sementara kebutuhan pangan selalu ada, sehingga tak ada pilihan lain kecuali impor.

 

"Jangan heran kalau impor produk pertanian banyak dari Thailan, konsumsi impor beras banyak dari Vietnam," sargasnya penuh antusias.

 

Kiai Pandji mengingatkan, menjadi pengurus LPPNU harus diniati menolong warga ad'afan mudha'afah dari sistem yang zalim. Sehingga harus menghadirkan solusi yang baik.

 

“Kita bekerja atas amanat Konfercab yang menghasilkan serangkaian program yang wajib diwujudkan dalam bentuk kegiatan konkret,” ungkapnya.

 

Menghadapi ancaman dari luar dan dalam tersebut, kiai yang berparas sederhana tersebut menyarankan agar LPPNU menyisir 2 sektor yang dapat digarap.

 

Pertama, keanekaragaman hayati atau keragaman pangan. Anak petani mau makan hasil pertanian saja masih beli. Dan buah yang diperjualbelikan sudah banyak berbahan kimia. Bukan menanam sendiri seperti para petani di desa.

 

"Makanan kita sekarang monoton, beras melulu. Dulu orang tua kita makanannya beragam, makanya tak mudah sakit," ujarnya menjelaskan.

 

Kedua, pertanian hijau atau pertanian alternatif, serta bisa pertanian berkelanjutan. Kiai Pandji menjelaskan bahwa pertanian alternatif adalah pertanian yang dapat mengurangi ketergantungan lahan terhadap pupuk kimia.

 

"NU perlu menggalakkan pertanian tanpa pestisida, agar kita tidak terlalu tergantung pada imperialisme bidang pertanian," jelasnya.

 

 

Ia meninginkan agar LPPNU dapat melaksanakan kegiatan berdasarkan kebutuhan bottom up bukan top down.

 

"Kalau perlu buat Focus Group Discussion (FGD) diskusi kekompok terarah bidang pertanian agar yang direncanakan sesuai kebutuhan petani NU," pungkasnya.

 

Penulis: Ibnu Abbas

Editor: Romza

PWNU Jatim Harlah