Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

KH Mahrus Aly Pejuang Pasca Kemerdekaan, Wafat 6 Ramadlan

KH Mahrus Aly Pejuang Pasca Kemerdekaan, Wafat 6 Ramadlan
KH Mahrus Aly bersama KH Ahmad Chalwan Nawawi. (NUOJ/istimewa)
KH Mahrus Aly bersama KH Ahmad Chalwan Nawawi. (NUOJ/istimewa)

Ulama kharismatik pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri salah satunya adalah KH Mahrus Aly. Selain seorang yang alim alamah, dikenal gigih berjuang di Nahdlatul Ulama (NU), serta turut mempertahankan perjuangan setelah kemerdekaan. Banyak amanah yang diemban, selain pengasuh pesantren, tercatat hingga wafat sebagai Rektor Universitas Tribakti, Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur. Tercatat juga sebagai Mustasyar PBNU, Ketua Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (RMI), Penasihat Pangdam V Brawijaya dan seterusnya.

 

Disarikan dalam Buku ‘3 Tokoh Lirboyo’ oleh Tim Sejarah BPK P2L Pondok Pesantren Lirboyo, cetakan kedua belas, KH Mahrus Aly dilahirkan dari ayah bernama KH Aly bin Abdul Aziz dan Hashinah binti Said pada 1906. Orang tua ibu Hashinah, KH Said, adalah pendiri dan pengasuh pondok yang alim alamah dengan sembilan anak. Terdiri dari lima anak putra dan empat anak putri dari pernikahan dengan Nyai Maimunah binti Mutta'ad. Mereka adalah Aminah, Nahrowi, Nafisah, Fathimah, Hasanah, Abdul Karim, Usman Sukainah dan Siroj.

 

Dari pernikahan Kiai Said dengan Arminah yang lebih dikenal dengan Nyai Bunut, lahir dua orang putra lagi, Murtadlo dan Shofiyah. Ketika Hashinah, putri yang kelima sudah menginjak akil baligh, Kiai Said menjodohkannya dengan pemuda Aly, putra Kiai Abdul Aziz Pengasuh Pondok Pesantren Wotbogor, Singaraja, Indramayu. Pernikahan itu dilangsungkan sepulang Aly dari Tanah Suci setelah selama empat tahun berada di Mekkah menuntut ilmu. Di sana, dia ditemani oleh adiknya, Anwar, serta keponakannya, Agus bin Yusuf.

 

Setelah resmi menjadi menantu Kiai Said, Kiai Aly ditempatkan di Gedongan untuk membantu di pesantren asuhan mertuanya. Dari pernikahan dengan Nyai Hanshinah, Kiai Aly dikaruniai sembilan anak terdiri dari enam putra dan tiga putri. Mereka adalah Muchtar, Ahmad Afifi, Harmalah (Mulya), Muslihah, Ismatul Maula, Jalaludin, Yazid, Bilal dan terakhir Mahrus.

 

Sosok Pemberani

Rusydi, demikian nama kecil KH Mahrus Aly, lahir dan besar dalam lingkungan pesantren. Hidup di bawah bimbingan dan pengawasan orang alim. Inilah yang menyebabkan kepribadian Rusydi tumbuh sesuai harapan orang tua dan familinya. Yakni menjadi orang baik, berbudi luhur, dan berbakti kepada orang tua.

 

Beberapa pondok pesantren yang telah disinggahi dalam menuntut ilmu, hingga akhirnya berlabuh di Pesantren Lirboyo Kediri oleh asuhan KH Abdul Karim. Selama di Lirboyo, Haji Mahrus terkenal santri yang tidak pernah letih dalam mengaji. Di waktu liburan, dia mencari pondok lain untuk mengikuti pengajian kilatan. Pernah ke Pondok Pesantren Tebuireng Jombang mengaji kitab Shahih Bukhari pada KH Hasyim Asy’ari.

 

Setelah tiga tahun menimba ilmu di Lirboyo, karena kealiman dan kelebihan KH Mahrus muda membuat Mbah Manab (nama lain KH Abdul Karim) menjodohkan salah satu putrinya yang bernama Zaenab.  

 

Sejak kecil terkenal pemberani, sewaktu Mayor Mahfudh menghadap Kiai Mahrus di Lirboyo. Kepada beliau dikabarkan bahwa, Sekutu yang diboncengi Belanda hendak mendarat di Surabaya. Pasukan hendak kembali menjajah Indonesia yang sudah merdeka. Di seputar Tanjung Perak terjadi pertempuran sengit antara Arek-arek Surabaya melawan tentara Sekutu. Mendengar berita itu, spontan Kiai Mahrus berkata: Kemerdekaan ini harus kita pertahankan sampai titik darah penghabisan.

 

Beliau tegaskan pula bahwa santri Lirboyo siap membantu Arek-arek Surabaya yang mati-matian melawan Sekutu. Jauh sebelumnya, dirinya sudah mempersiapkan diri. Bersama para ulama yang terhimpun dalam jam'iyah NU mengeluarkan resolusi jihad, yaitu pada Konggres di Surabaya tanggal 21-25 Oktober 1945.

 

Awalnya sejumlah 97 santri diberangkatkan ke Surabaya dengan bersenjatakan bambu runcing dan senjata tradisional. Mereka siap mati di medan laga di bawah komando langsung Kiai Mahrus. Mereka tergabung dalam laskar Hizbullah dan Sabilillah. Pasukan pertama in berhasil gemilang dengan merampas sejumlah senjata lawan.

 

Dengan modal senjata rampasan inilah, rencana menjadi berkembang. Tiap sata peleton santri ditarik, satu peleton lagi dikirimkan. Hal ini berlanjut hingga pecah perang 10 November yang berakhir dengan terbunuhnya Jenderal Inggris, AWS Mallaby. Keikutsertaan Kiai Mahrus mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia kala itu tidak sebatas pada pengiriman santri ke medan laga. Lebih dari itu, Kiai Mahrus bersama para santri setiap malam mengadakan gerakan batin agar pasukan yang tengah bertempur diberi keteguhan iman. Kalau pun mesti gugur, diterima sebagai syahid.

 

Kegiatan gerakan batin itu dipusatkan di dua tempat, yaitu di Pondok Lirboyo dan di Manukan, Jabon, Kediri. Yang di Lirboyo dipimpn KH Abdul Karim dan KH Marzugi Dahlan. Sedang, di Manukan dikomandoi KH Mahrus dan KH Said. Pasukannya dari santri yang akan dikirim ke Surabaya, Laskar Hizbullah dan Sabilillah.

 

Perjuangan belum usai dalam mempertahankan kemerdekaan, ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II pada tanggal 12 Desember 1948 beliau kembali mengerahkan santrinya untuk ikut di medan perang. Empat santri senior yang dikirim di bawah komando Mayor Mahfudh ialah Syafi’i Sulaiman, Muhid Ilyas, Muhammad Masykur, dan Mahfudh AK. Banyak menggunakan taktik gerilya dan sporadis (berkali-kali menyerang tapi tidak dalam satu fron). Perjuangan berlangsung hingga penyerahan kedaulatan melalui perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) di Deen Hag 27 Desember 1949.

 

Batalyon 508 yang lebih dikenal dengan Batalyon Gelatik adalah embrio dari Kodam VII Brawijaya (kini Kodam V) resmi didirikan pada 17 Desember 1948 di Lapangan Kuwak (sekarang Stadion Brawijaya) bertindak sebagai komandan adalah Kolonel Sungkono. Sementara KH Mahrus Aly mendapat kehormatan sebagai penasihat. Inilah sebabnya KH Mahrus diakui sebagai sesepuh Kodam V Brawijaya sampai akhir hayat.

 

Suami Setia

Semenjak kemangkatan Nyai Zainab 4 Maret 1985, KH Mahrus sering jatuh sakit. Sebenarnya banyak yang menghendaki untuk beristri lagi agar ada yang merawat. Bahkan, tidak sedikit yang melamar dan bersedia mendampingi agar tidak terus-menerus larut dalam kedukaan. Namun, saran dan lamaran itu ditolak. Justru sering menyatakan ingin segera menyusul sang istri tercinta.

 

Pernyataan itu disampaikan di hadapan sejumlah santri dalam kesempatan memberikan ijazah Hirzul Jausan di serambi masjid Pondok Lirboyo, 3 Sya'ban 1405 H / 22 April 1985.

 

“Kalau saya diberi umur panjang oleh Allah, semoga saya selalu diberi kesehatan. Dan kalau tidak, saya mengharap dipanggil hari Senin. Sebab, Rasulullah dipanggil Allah SWT pada hari Senin. Begitu pula Kiai Abdul Karim dan istri,” ungkapnya.

 

Kitab Hirzul Jausan baru kali itu diijazahkan kepada orang lain sejak diterima dari salah seorang gurunya, Syaikh Musthofa, Lasem, Rembang. Di sela-sela menyampaikan ijazah, selalu mengisahkan kebaikan sang istri. Ketika itu, seakan pamit hendak meninggalkan dunia fana. Kenyataan memang membuktikan, itulah kesempatan Kiai Mahrus bertatap muka dengan para santri untuk yang terakhir kali.

 

Berkutat dengan Sakit

Sudah lama Kiai Mahrus mengidap penyakit diabetes melitus (kencing manis), paru-paru, dan ginjal. Berbagai penyakit itu berangsur sembuh setelah itu kambuh lagi. Pada Ahad malam, 12 Mei 1985, dirinya merasa tidak enak badan. Semula menduga hanya masuk angin. Namun, pada paruh malam, sakit itu dirasakan semakin parah. Keesokan harinya, salah seorang putrinya membawa ke dokter dengan tanpa mengira jika akhirnya harus merujuk ke RS Bhayangkara Kediri. Hal itu karena kondisi yang tidak juga membaik.

 

Setelah empat hari opname di rumah sakit, Kiai Mahrus minta pulang walau sebenarnya tidak diperbolehkan dokter. Melihat kondisi yang semakin kritis, para dokter dan perawat berikut segala peralatan medis yang dibutuhkan didatangkan ke kediamannya di Lirboyo.

 

Sebenarnya Kiai Mahrus berharap agar dapat dirawat di rumah saja. Tapi, Pangdam V Brawijaya, Saiful Sulun, meminta agar dirawat di Surabaya. Pangdam tentu tidak lupa mengingat jasa-jasa Kiai Mahrus di Kodam V Brawijaya. Juga mengingat fatwanya masih dibutuhkan dalam menjaga stabilitas pertahanan dan keamanan negara.

 

Setelah mengadakan musyawarah, pihak keluarga menyetujui permintaan Pangdam tersebut. Sebab, Kiai Mahrus memang bukan hanya milik keluarga, tapi juga bermakna bagi masyarakat dan ABRI. Apalagi, ada keterangan dokter bahwa Kiai Mahrus kemungkinan bisa disembuhkan.

 

Pada Sabtu sore 18 Mei 1985, Kiai Mahrus yang dalam keadaan koma dibawa ke Surabaya dengan Helikopter milik TNI AL yang dikirim atas perintah Pangab LB Moedani. Diantar oleh putra-putrinya dirujuk ke RSUD dr Soetomo.

 

Tenaga medis yang menangani antara lain dr Khairuddin dari Juanda, dr Askandar Tjokroprawiro dari RSUD dr Soetomo, dr Suharjono Sujono, dr Karijadi Wijiatmoko (Direktur RSUD dr Soetomo), dr Tommy dan seterusnya.

 

Kiai Mahrus berencana membaca 6 buah kitab yang sudah diumumkan di serambi masjid Lirboyo. Antara lain, kitab Al Mahluf, Sulamul Munawwarah, Latha'iful Isyarah, Nashaihud Dinimiyyah, Dalailul Khairat, dan Hirzul Jausan.

 

Menjelang Ramadan tiba, jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Perawatan intensif dilakukan terus-menerus. Toh kondisinya tidak semakin membaik. Menurut dokter, kondisi yang paling baik terjadi pada Jumat, 24 Mei. Tapi, pada Jumat sore, keadaannya kembali kritis. Bahkan, lebih kritis dari sebelumnya. Sehingga, alat bantu pernapasan yang semula dipasang di hidung, di pindah ke tenggorokan.

 

Menteri Agama mengucapkan terima kasih kepada Pangdam V Brawijaya atas segala bantuannya. Menteri Agama juga meminta kepada tim dokter untuk melakukan pertolongan maksimal. Tapi, sekitar dua jam setelah Menteri Agama meninggalkan rumah sakit, Kiai Mahrus berpulang ke rahamatullah. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'un, akhirnya wafat tepat pada hari Ahad malam, 6 Ramadlan 1405 H / 26 Mei 1985, dalam usia 78 tahun, di rumah sakit dr. Soetomo, Surabaya setelah dirawat selama delapan hari.

 

Berita wafatnya Kiai Mahrus diterima KH M Anwar Manshur (menantunya) di Lirboyo lewat telepon pada pukul 18.10 WIB. Tiga puluh menit kemudian orang-orang yang melayat mulai berdatangan dari berbagai kalangan. Antara lain, Bupati Kediri Drs. Oesri Astradireja dari Muhammadiyyah yang secara resmi diwakili oleh H. S. Prodjokusumo (Ketua PP Muhammadiyah) yang hadir bersama Menteri Agama dan Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid. Sedang, Pangab L.B. Moerdani hanya mengirimkan utusan karena berhalangan hadir. Begitu juga Gubernur Jatim, Wahono, yang tengah berada di Jepang. Tapi wakil Gubernur, Suparmanto, Kapolda Jatim, serta para Bupati dan Walikota berikut jajaran Muspida Tingkat II se-Jatim tampak hadir diantara ribuan pelayat. Bahkan, diantara mereka tampak juga orang-orang keturunan Tionghoa, orangorang bule, dan rohaniawan Kristen.

 

Ratusan karangan bunga tanda ikut berduka cita memenuhi halaman kediaman beliau sehingga tidax semuanya bisa ditempatkan di pemakaman. Ada yang dari Presiden Soeharto, Wakil Presiden, Menteri menteri Kabinet Pembangunan IV, Ketua Mahkamah Agung, Panglima ABRI, Pemda Tingkat II se-Jatim, dan hampir semua direksi serta administrator perusahaan di Kediri.

 

Karena terlalu membanjirnya para pelayat, jenazah baru dikebumikan pada pukul 13.30 WIB. Secara khusus, Pangdam V Brawijaya Mayjen Saiful Sulun mengerahkan anak buahnya untuk ikut menertibkan prosesi pemakaman yang dibanjiri lautan manusia.

 

Umat Islam, khususnya warga NU, betul-betul merasa kehilangan tokoh masyarakat yang menjadi panutan. Berbagai pihak menyatakan rasa bela sungkawa atas meninggalnya Kiai Mahrus. Pangdam V Brawijaya Saiful Sulun menyatakan bahwa dirinya dan ABRI umumnya merasa kehilangan sepeninggal beliau. Ulama kharismatik sekaliber Kiai Mahrus bukan saja bermanfaat bagi integritas kepemimpinan umat Islam, tapi juga sangat bermanfaat bagi stabilnya hankamnas yang menjadi tolok ukur.

 

Kiai Mahrus wafat 87 hari setelah istri tercinta lebih dulu berpulang ke rahmatullah. Meninggalkan 7 orang putra-putri. Sedang, yang 7 lainnya juga sudah mendahului. Jenazah dimakamkan di pemakaman keluarga di belakang masjid Pondok Pesantren Lirboyo. Pembacaan talkin disampaikan oleh KH Adlan Ali, pengasuh Pondok Cukir, Jombang. Selesai pemakaman hujan turun deras, meski sedang kemarau panjang. Hujan pun seakan turut mengiringi ulama besar itu meninggalkan dunia fana, manghadap Sang Maha Abadi.

 

Kiai mahrus telah pergi meninggal untuk selama-lamanya. Menggoreskan kenangan, menorehkan bakti, dan menaburkan jasa untuk terus diperjuangkan. Semoga Allah menempatkannya di taman Firdaus yang damai. Annallaha yarfa’u darajatan fil jannah, AlFatihah.

 

PWNU Jatim