Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Khutbah Jumat: Hindari Pamrih saat Berbuat Kebajikan

Khutbah Jumat: Hindari Pamrih saat Berbuat Kebajikan
Jadikan ikhlas dan hindari riya saat berbuat baik. (Foto: NOJ/MOn)
Jadikan ikhlas dan hindari riya saat berbuat baik. (Foto: NOJ/MOn)

Khutbah Jumat NU Online Jatim kali ini mengangkat tema tentang anjuran untuk berbuat baik dengan menghindari pamrih, pamer atau riya. Pada momentum khutbah ini adalah saat penting untuk saling mengingatkan umat Islam agar terus menjaga takwa dan berupaya menjadi insan muslim ideal.

Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di bawah artikel ini. Berikut contoh teks khutbah Jumat tentang menjaga lidah berjudul "Hindari Pamrih saat Berbuat Kebajikan". Semoga bermanfaat. (Redaksi)

 

Khutbah Pertama

 

اَلْحَمْدُ للهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ في مُحْكَمِ كِتَابِهِ: فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (الكهف: ١١٠) ـ

 

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah

Nikmat terindah dalam hidup antara lain diberikan kesehatan dan kekuatan menjalankan perintah agama. Hal tersebut dapat kita buktikan siang ini, betapa banyak saudara kita yang akhirnya terhalang untuk menjalankan perintah agama berupa menghadiri shalat Jumat berjamaah. Mereka mungkin berkeinginan untuk hadir, namun karena kesehatan tidak memungkinkan akhirnya tidak kesampaian.

 

Demikian pula mereka yang diberikan kesehatan dan kecukupan, namun tidak berangkat menjalankan kewajiban shalat Jumat berjamaah. Hal tersebut disebabkan lantaran yang bersangkutan tidak digerakkan hatinya untuk berangkat ke masjid. Aneka alasan yang barangkali disampaikan, namun intinya adalah tidak dibukanya pintu hidayah.

 

Karenanya marilah kesempatan istimewa ini kita pergunakan dengan baik yakni menjalankan perintah, serta menjauhi larangan agama. Itulah nasihat takwallah yang selalu diingatkan para khatib termasuk saya saat ini di hadapan jamaah sekalian. Mari terus meningkatkan takwallah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Karena itulah yang akan diharapkan di hari akhir kelak.

 

Allah Taala berfirman:

 

 يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ، إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (سورة الشعراء: ٨٨-٨٩) ـ

 

Artinya: (yaitu) di hari yang harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang dihisab oleh Allah dengan hati yang bersih (dari kekufuran). (QS asy-Syu’ara’: 88-89) 

 

Jamaah yang Berbahagia

Pada kesempatan ini, saya mengajak kepada diri sendiri dan jamaah untuk memperbaiki hati dengan menerapkan adab-adab yang diajarkan dalam Islam secara lahir dan batin. Kita obati hati dengan mengikuti ajaran Allah SWT dan meneladani Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Kita obati hati karena hati memiliki beragam penyakit yang tidak bisa diobati dokter. Penyakit-penyakit hati itu hanya bisa diobati dengan kesungguhan mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya.

 

Di antara penyakit hati adalah riya, yaitu melakukan bentuk ketaatan agar dilihat oleh orang lain dengan tujuan mengharapkan pujian darinya. Allah Taala berfirman:

 

  وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ (سورة البيّنة: ٥) ـ

 

Artinya: Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (QS al Bayyinah: 5)

 

Mari kita ikhlaskan niat selalu hanya karena Allah dan jangan sampai jatuh pada maksiat riya. Sahabat Abu Hurairah Radliyallahu Anhu meriwayatkan hadits qudsi bahwa Rasulullah SAW bersabda, Allah berfirman:

 

     أَنَا أَغْنَىْ الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِيْ غَيْرِيْ تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ (رواه مسلم) ـ

 

Artinya: Aku tidak menerima tujuan lain dalam beramal. Barangsiapa melakukan satu amal perbuatan dan memiliki tujuan lain selain ridla-Ku, maka Aku akan meninggalkannya dan tidak menerimanya. (HR Muslim)

 

Jika kita melakukan suatu amal perbuatan untuk mencari pahala dari Allah dan sekaligus mengharap pujian sesama manusia, maka Allah tidak akan menerima amal tersebut dari kita. Jadi seseorang yang melakukan amal perbuatan yang disertai riya, maka tidak ada pahalanya sama sekali, bahkan dia berdosa karena riya-nya. Oleh karenanya, marilah introspeksi diri. Kita awasi dan amati hati kita.  Jika melakukan shalat lima waktu sendirian, kita tidak mengiringinya dengan shalat sunnah rawatib, tapi jika kita shalat berjamaah di masjid, mengiringinya dengan shalat sunnah rawatib. Kita tanya diri kita, kenapa melakukan itu?  Jika melakukan shalat sendirian, kita selesaikan dengan cepat dan hanya melakukan rukun-rukunnya saja, sedangkan jika berada di tengah banyak orang memperpanjang shalat, berusaha menghadirkan rasa khusyu dan kita membaguskan shalat.

 

Maka tanyakanlah, mengapa kita melakukan itu? Apakah menginginkan pujian sesama hamba? Apakah ingin agar dihormati mereka? Apakah ini lebih kita sukai daripada ridha Allah SWT? Padahal seluruh manusia adalah makhluk-makhluk ciptaan Allah sama seperti kita. Mereka tidak dapat menciptakan manfaat maupun mudlarat. Mereka tidak bisa memberikan manfaat kepada kita atau mencelakai kecuali atas kehendak Allah. Kenapa memilih dicela oleh Allah agar dipuji oleh sesama hamba? Pujian mereka kepada kita tidak akan menambah rezeki, tidak menunda ajal dan tidak bermanfaat dalam kehidupan akhirat.

 

 

Jamaah Rahimakumullah

Oleh karenanya, obatilah hati dari penyakit riya. Kita jadikan ridla Allah sang pencipta kebaikan dan keburukan sebagai tujuan. Kita ikhlaskan niat karena Allah dan jangan pedulikan apakah orang mencela atau memuji kita. Sungguh kebaikan seluruhnya ada pada ridha Allah SWT.

 

Marilah bersama renungkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sulaiman bin Yasar, ia berkata:  Ketika majelis Abu Hurairah usai dan orang-orang pergi meninggalkan majelis, maka Natil–seorang penduduk Syam–berkata kepada Abu Hurairah: Wahai guru, sampaikanlah kepada kami sebuah hadits yang telah engkau dengar dari Rasulullah SAW. Abu Hurairah berkata: Ya, aku telah mendengar Rasulullah bersabda: Orang yang pertama kali diberikan keputusan kepadanya di hari kiamat adalah orang yang tewas di medan peperangan. Ia pun didatangkan dan diingatkan tentang nikmat-nikmat yang diberikan kepadanya di dunia maka dia pun mengingatnya. Dikatakan kepadanya: Apa yang engkau lakukan terhadap nikmat-nikmat tersebut? Dia pun menjawab: aku berperang di jalan-Mu hingga mati syahid. Maka dikatakan kepadanya: Engkau telah berdusta, engkau berperang untuk dikatakan sebagai pemberani dan itu sudah dikatakan. Kemudian diperintahkan agar orang tersebut diseret dengan posisi muka di bawah hingga dilempar ke neraka. Begitu juga seorang hamba yang telah mempelajari ilmu agama, mengajarkannya dan rajin membaca al-Qur`an, maka didatangkan dan diberitahukan nikmat-nikmat yang diberikan kepadanya, maka ia pun mengingatnya. Ditanyakan kepadanya: Apakah yang engkau lakukan terhadap nikmat-nikmat tersebut? Ia menjawab: Aku mempelajari ilmu, mengajarkannya dan membaca al Qur`an karena-Mu ya Allah. Dikatakan kepadanya: Engkau berdusta, kenyataannya engkau mempelajari ilmu agar dikatakan sebagai ulama, engkau membaca al-Qur`an agar engkau dikatakan pandai membaca al-Qur`an dan ini telah dikatakan. Kemudian diperintahkan agar orang itu diseret dengan posisi muka di bawah sehingga dilempar ke neraka. Begitu juga seseorang  yang Allah lapangkan rezekinya dan Allah berikan kepadanya seluruh jenis harta, maka ia didatangkan, diingatkan tentang nikmat-nikmatnya, maka ia pun mengingatnya. Dikatakan kepadanya: Apa yang engkau lakukan terhadap nikmat-nikmat tersebut? Ia pun menjawab: Aku tidak meninggalkan jalan infak yang Engkau anjurkan kecuali aku infaqkan hartaku untuk meraih ridla-Mu ya Allah. Lalu  dikatakan kepadanya: Engkau berdusta, engkau lakukan ini agar dikatakan sebagai dermawan dan itu telah dikatakan. Kemudian diperintahkan agar orang itu diseret dengan posisi muka di bawah sehingga dilemparkan di neraka.  (HR Muslim).

 

 

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah

Jika melakukan shalat, maka kita lakukan karena Allah. Jika bersedekah, maka bersedekah karena Allah. Jika memperindah akhlak, lakukan itu karena Allah. Jika kita belajar ilmu agama, maka juga karena Allah. Jika mengajarkan ilmu agama, maka mengajar karena Allah. Jika menaati Allah, maka kita taat karena semata-mata ingin meraih ridla-Nya. Jika kita melakukan itu semua bukan karena Allah melainkan karena tujuan lain, maka sia-sialah umur dan alangkah ruginya waktu kita.

Demikian khutbah yang singkat ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

 

  أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah Kedua

 

 اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا،  ـ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

 

Ustadz Nur Rohmad, Pemateri/Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Ketua Biro Peribadatan & Hukum, Dewan Masjid Indonesia Kab. Mojokerto

 

 

Iklan promosi NU Online Jatim