Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Kiai Afifuddin Muhajir: Kepada Habib Kita Takzim dan Takrim

Kiai Afifuddin Muhajir: Kepada Habib Kita Takzim dan Takrim
KH Afifuddin Muhajir, Rais Syuriyah PBNU. (Foto: NU Online)
KH Afifuddin Muhajir, Rais Syuriyah PBNU. (Foto: NU Online)

Surabaya, NU Online Jatim

Jauh sebelum ramainya pemberitaan terkait pemuliaan habib,  Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Afifuddin Muhajir menyampaikan pandangannya. Bahwa pengurus dan warga NU sejak dahulu tidak bergeser dalam memuliakan habaib, dzurriyah rasul, kiai, dan orang-orang berilmu.

 

Namun, siapa pun warga negara Indonesia harus mengindahkan nilai kesopanan dan norma hukum di Indonesia dalam berbicara dan bertindak.

 

Demikian disampaikan KH Afifuddin Muhajir yang juga guru besar fiqih dan ushul fiqih pada Ma’had Aly Situbondo kepada NU Online beberapa waktu berselang.

 

Kiai yang akan mendapatkan gelar dokotor honoris causa dari Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang tersebut mengatakan bahwa pengurus dan warga NU diajari oleh para kiai untuk memuliakan manusia secara umum. Terlebih lagi habaib dan orang berilmu seperti para kiai pesantren.

 

Menurutnya, sampai kapan pun, wejangan para kiai terdahulu untuk menghormati habaib tidak pernah akan pudar di kalangan warga NU dan pengurusnya.

 

“Terhadap habaib kita tetap takzim dan takrim (memuliakan),” kata Kiai Afif.

 

Namun demikian, Kiai Afif mengkritik penceramah mana saja yang bersikap arogan dan tidak mengindahkan norma hukum dan kesopanan di Indonesia. Juga mengatakan bahwa Indonesia tampak sangat bebas meski bicara dengan melanggar norma hukum sekali pun.

 

“Kita di sini terlalu terbuka sehingga membuat orang dapat ngomong semaunya. Entah siapa yang bisa menertibkan?” kata Kiai Afif.

 

Pandangan ini disampaikan Wakil Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Sukorejo, Banyuputih, Situbondo tersebut terkait video Ja'far Shodiq bin Sholeh Alattas yang bersumber dari chanel YouTube 'Chanel habib ja'far shodiq bin sholeh alattas'.

 

Video diunggah pada 30 November 2019, yang mana penceramah menyinggung agamawan yang menjual agama untuk duniawi. Penceramah pada video itu kemudian menyebut Kiai Maruf Amin sebagai hewan yang buruk dalam kepercayaan umat Islam.

 

Pandangan Kiai Afif masih sangat relevan disampaikan untuk saat ini. Hal tersebut seiring dengan kedatangan keluarga habib yang ternyata menimbulkan masalah.  
 

PWNU Jatim Harlah