Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Kiai Daring dan Luring Itu Bernama KH Miftachul Akhyar

Kiai Daring dan Luring Itu Bernama KH Miftachul Akhyar
KH Miftachul Akhyar dipercaya sebagai Ketua Umum MUI Pusat. (Foto: NU Online Jatim)
KH Miftachul Akhyar dipercaya sebagai Ketua Umum MUI Pusat. (Foto: NU Online Jatim)

KH Miftachul Akhyar akhirnya diamanahi sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Dan keterpilihan Pengasuh Pesantren Miftahussunnah Kedung Tarukan Surabaya tersebut menjadi pembeda dengan kiai kebanyakan.

 

Salah satu yang menonjol adalah jam terbang Kiai Miftah, sapaan akrabnya dalam menyapa umat. Tidak hanya dalam jaringan (daring) juga luar jaringan atau luring. Sebuah perpaduan yang lengkap bagi kiai zaman now.

 

Sambutan awal saat dipercaya sebagai ketuam, Kiai Miftah mengingatkan terkait distrupsi teknologi. Dan hal tersebut hendaknya menyadarkan semua kalangan khususnya para ulama untuk bisa terus memberikan pencerahan terhadap umat.

 

"Situasi kondisi yang mungkin bisa disebut sebagai zaman disrupsi teknologi yang saat ini merupakan sebagai kewajiban kita sebagai pewaris para anbiya, untuk bisa memberikan pencerahan pada umat sekaligus tanggung jawab kita sebagai mitra pemerintah," kata kiai yang juga Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tersebut, Jumat (27/11/2020).

 

Tidak semata berwacana, Kiai Miftah, sapan akrabnya sudah memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan Islam khas pesantren yang lembut dan moderat. Yang terbaru selama pandemi adalah dengan menggelar pengajian kitab secara vurtual.

 

Sangat berlasan kalau dirinya disebut sebagai kiai yang adaptif dengan perkembangan teknologi. Hal tersebut dibuktikan dengan mengedukasi masyarakat melalui ngaji virtual melalui channel ‘Multimedia KH. Miftachul Akhyar’.

 

Pantauan media ini, bahwa beberapa kitab induk pesantren yang diajikan secara ajeg hingga saat ini dalam channel tersebut adalah kitab hadis berjudul Jami'usshaghir karya Jalaluddin al-Suyuti.

 

“Kajian ini diselenggarakan setiap Sabtu pukul 16.00 WIB,” kata salah seorang jamaah aktif pengajian, Ahmad Karomi.

 

Dijelaskan Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jawa Timur tersebut bahwa ada lagi kitab yang diampu secara rutin.

 

“Kalau Jumat ada kajian kitab tasawuf berjudul Syarah Hikam karya Ibnu Ataillah Assakandari yakni setiap Jumat pukul 13.30,” terang mahasiswa program doktor di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut.

 

Sedangkan kitab lain yakni Syarah Qasidah Munfarijah karya Kiai Miftachul Akhyar sendiri yang sudah khatam saat Ramadhan lalu.

 

Komitmen dan kepedulian membangun narasi positif di dunia virtual yakni kesediaan Kiai Miftah sebagai pembina utama dirasah virtual Alkimya. Yakni sebuah kegiatan yang dinisiasi PW LTNNU Jawa Timur dalam mengunggah kajian kitab klasik oleh sejumlah kiai muda multi talenta.  

 

 

Berkah Pesantren

Dalam catatan media ini, Kiai Miftah, sapaan akrabnya adalah putra Pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, Surabaya yakni KH Abdul Ghoni. Lahir tahun 1953 dan merupakan anak kesembilan dari 13 bersaudara. 

 

Pernah nyantri di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang dan Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan di Jawa Timur. Kemudian nyantri di Pondok Pesantren Al-Islah Soditan, Lasem yang saat itu diasuh almargfurlah KH Masduqie Allasimy. Karena memiliki penguasaan materi agama dan sifatnya yang tawadlu akhirnya dijadikan sebagai menantu oleh kiai yang terhitung sebagai mutakharrijin (alumnus) istimewa di Pondok Pesantren Tremas Pacitan tersebut.

 

Berikutnya mengikuti Majelis Ta'lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al- Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia.

 

Usai melakukan aneka pengembaraan tersebut, Kiai Miftah mendirikan Pondok Miftahussunnah di Kedung Tarukan mulai dari nol. Awalnya hanya berniat mendiami rumah sang kakek, tetapi setelah melihat fenomena pentingnya ‘nilai religius’ di tengah masyarakat setempat, maka mulailah membuka pengajian.

 

Karena kala itu kampung Kedung Tarukan terkenal sebagai kawasan yang tidak ramah pada dakwah para ulama. Namun berkat akhlak dan ketinggian ilmu yang dimiliki Kiai Miftah akhirnya berhasil mengubah kesan negatif kampung dimaksud. 

 

Hal yang melekat dari sosok Kiai Miftah yakni kesederhanaan terutama kala memberikan penghormatan terhadap tamu. Kiai Miftah tidak segan-segan menuangkan wedang dan menyajikan cemilan kepada tamunya. 

 

“Akhlak ini beliau dapat dari ayahandanya, KH Abdul Ghoni,” ungkap Karomi. 

 

Kiai Miftah pernah menjabat sebagai Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya (2000-2005). Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur 2007 hingga 2013, dan 2013 sampai 2018. Diamanahi sebagai Wakil Rais Aam PBNU 2015 sampai 2020. Selanjutnya didaulat sebagai Pj. Rais Aam PBNU 2018-2020.

F1 Promosi Iklan