Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Kiai Marzuki Hadiri Ngaos Pasan di Pesantren Nurul Ulum Blitar

Kiai Marzuki Hadiri Ngaos Pasan di Pesantren Nurul Ulum Blitar
KH Marzuki Mustamar akan memberikan motivasi pada Ngaos Pasan di Pesantren Nurul Ulum, Blitar. (Foto: NOJ/Syaifullah)
KH Marzuki Mustamar akan memberikan motivasi pada Ngaos Pasan di Pesantren Nurul Ulum, Blitar. (Foto: NOJ/Syaifullah)

Blitar, NU Online Jatim

Tradisi ngaji kitab kuning di bulan Ramadlan memang sudah mendarah daging di Nusantara. Hal tersebut terutama berlangsung di pondok pesantren, sehingga hampir semua menggelar kajian yang dikenal dengan  ‘Ngaos Pasan’ tersebut.

 

Namun ngaos pasan kali ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya karena masih adanya pandemi Covid-19.

 

”Ngaos pasan sebenarnya sudah bertahun-tahun dilaksanakan. Namun kali ini  tetap menggunakan protokol kesehatan sebagaimana dianjurkan pemerintah,” kata KH Agus Muadzin, Kamis (22/04/2021).

 

Disampaikan Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Ulum, Sutojayan, Kabupaten Blitar tersebut bahwa untuk peserta kegiatan adalah santri dari pesantren setempat. Hanya saja jadwal ngaji kitabnya dibedakan antara putra dan putri.

 

Dikemukakan bahwa diharapkan dengan ngaji pasan dapat memberikan bekal yang cukup kepada generasi muda. Juga untuk mencetak generasi NU yang militan dalam menghadapi tantangan zaman, terutama anak pesantren yang mulai berkutat dengan dunia luar.

 

Ngaji pasan ini mendapat dukungan dari KH Marzuki Mustamar. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur tersebut memang berasal dari Atreyan, Kanigoro, Kabupaten Blitar.

 

“Kiai Marzuki sangat mendukung ngaos pasan, bahkan pada Sabtu malam akan hadir di pondok ini untuk santri putri dan badan otonom NU yang ada di Sutojayan,” ujarnya.

 

Dikemukakan bahwa antusias santri dalam mengaji sangat membanggakan. Karena dari ngaji pasan diharapkan mencetak santri untuk tertib ibadah, jauh dari pengaruh negatif, memberikan asupan keilmuan terutama selama Ramadlan.

 

“Walaupun bulan Ramadlan masih ada materi tambahan untuk madrasah tsanawiyah. Sekali tempo memang perlu menghadirkan tokoh untuk memotivasi santri agar berkaca dari tokoh tersebut,” pungkasnya.

 

Penulis: Binti Masruroh

Bank Jatim (31/7)