Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Kiai Miftah: Kalau Orang Tua Tidak Keras Mendidik, Entahlah

Kiai Miftah: Kalau Orang Tua Tidak Keras Mendidik, Entahlah
KH Miftachul Akhyar ditempa dengan keras oleh kedua orang tuanya. (Foto: NOJ/RMs)
KH Miftachul Akhyar ditempa dengan keras oleh kedua orang tuanya. (Foto: NOJ/RMs)

Dalam sebuah kesempatan mengisi pengajian secara virtual, KH Miftachul Akhyar menceritakan masa kecilnya yang ditempa dengan disiplin tinggi. Dijelaskan Pengasuh Pesantren Miftahussunnah Surabaya tersebut bahwa kedua orang tuanya adalah pasangan yang klop. Yakni bila menyaksikan anaknya malas belajar, maka perlakuan fisik diterima.

 

“Andai kedua orang tua tidak melakukan hal tersebut kepada saya, maka entahlah saya akan menjadi apa,” akunya di hadapan jamaah online.

 

Justru dengan tempaan seperti itulah, maka lahir KH Miftachul Akhyar yang sekarang. Amanah tidak main-main diberikan kepadanya yakni sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan beberapa waktu berselang dipercaya menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).

 

 

Sosok Istimewa

Memang tidak sembarang orang bisa diamanahi sebagai Rais Aam PBNU, demikian pula Ketua Umum MUI. Sosoknya tidak semata memiliki pengetahuan dan pemahaman agama yang mumpuni, juga ditopang dengan perilaku harian yang layak menjadi panutan.

 

Siapa KH Miftachul Akhyar? Yang bersangkutan merupakan salah seorang ulama yang sangat dihormati, terutama bagi kalangan Nahdliyin dan pesantren, khususnya di Jawa Timur.

 

Kiai Miftah adalah putra pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, KH Abdul Ghoni. Lahir pada 1953 dan merupakan anak kesembilan dari 13 bersaudara.

 

Dari sisi genealogi keilmuan,  Kiai Miftah pernah menjadi santri Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, juga Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah.

 

Kiai Miftah juga mengikuti Majelis Ta'lim Sayyid Muhammad bin Alawi al-Makki al-Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia.

 

Penguasaan ilmu agama Kiai Miftah membuat kagum Syekh Masduki Lasem sehingga diambil menantu oleh kiai yang terhitung sebagai mutakharrijin (alumnus) istimewa di Pondok Pesantren Tremas, Pacitan.

 

Saat di Surabaya, Kiai Miftah mendirikan Pondok Miftachussunnah di Kedung Tarukan, Surabaya. Awalnya hanya berniat mendiami rumah sang kakek. Namun, setelah melihat fenomena pentingnya menata warga sekitar, maka akhirnya mulai membuka pengajian. 

 

Konon, kampung Kedung Tarukan terkenal sejak lama menjadi daerah yang tidak ramah pada dakwah para ulama. Namun, berkat akhlak dan ketinggian ilmu yang dimiliki Kiai Miftah, berhasil mengubah kesan negatif itu.

 

“Sehingga kampung yang gelap menjadi terang dan sejuk seperti saat ini dalam waktu yang relatif singkat,” kata Ahmad Karomi, Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jawa Timur.

 

Selain itu, kesederhanaan Kiai Miftah terlihat jelas saat menghormati tamu. Bahkan tidak segan menuangkan minuman dan camilan kepada yang datang. Akhlak seperti itu dapatkan dari ayahandanya, KH Abdul Ghoni.

 

“Ayah Kiai Miftah merupakan karib KH M Usman al-Ishaqi Sawahpulo saat sama-sama nyantri kepada Kiai Romli di Rejoso, Jombang. Terlebih lagi saat sang ayah nyantri kepada Kiai Dahlan Ahyad Kebondalem, sang pendiri MIAI dan Taswirul Afkar,” jelas Karomi.

 

KH Miftachul Akhyar tentu saja bukan nama baru di kalangan NU. Terutama Nahdliyin dan kalangan pesantren Jawa Timur. Ia lahir dari tradisi dan melakukan pengabdian di NU sejak usia muda. Tak heran kemudian hari ini mengemban puncak kepemimpinan NU, sebagai Penjabat Rais Aam.  

 

Di NU, Kiai Miftah pernah diamanahi sebagai Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya yakni tahun 2000 hingga 2005, Rais PWNU Jawa Timur 2007 sampai 2013, 2013 hingga 2018 dan Wakil Rais Aam PBNU 2015 sampai 2020 yang selanjutnya didaulat sebagai Pj. Rais Aam PBNU 2018-2020.

PWNU Jatim Harlah