Kiai Muhtadi Thohir, Muktamar Cipasung dan Upaya Menjaga NU

Kiai Muhtadi Thohir, Muktamar Cipasung dan Upaya Menjaga NU
Kiai Muhtadi Thohir dari Langring, Desa Jambesari, Kecamatan Giri, Banyuwangi. (Foto: NOJ/Kp)
Kiai Muhtadi Thohir dari Langring, Desa Jambesari, Kecamatan Giri, Banyuwangi. (Foto: NOJ/Kp)

Kiai Muhtadi Thohir dari Langring, Desa Jambesari, Kecamatan Giri, Banyuwangi didatangi oleh Gus Dur alias KH Abdurrahman Wahid. Sebagaimana dalam status sebelumnya, kunjungan Gus Dur ke Langring berkaitan erat dalam rangka mengamankan Nahdlatul Ulama yang sedang dirongrong oleh rezim Orde Baru. Gus Dur selaku Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memang kerap bersebrangan dengan pemerintah. Hal ini membuat resah rezim yang berkuasa dan hendak merebut NU dari Gus Dur.

 

Menghadapi tantangan tersebut, Gus Dur tak hanya melakukan konsolidasi pada simpul-simpul NU. Namun, juga menemui sejumlah hamba Allah yang memiliki kedekatan khusus dengan Sang Khaliq. Satu di antaranya adalah Kiai Muhtadi Thohir.

 

Muktamar NU di Cipasung yang berlangsung pada 1-5 Desember 1994 menjadi titik kulminasi upaya tersebut. Segala kekuatan rezim dikerahkan untuk memenangkan Abu Hasan sebagai Ketua Umum PBNU.
Beberapa bulan sebelum Muktamar, kerja-kerja spiritual telah dilakukan oleh Gus Dur. Pada musim haji sebelum muktamar, ia mengajak sejumlah sahabatnya untuk menunaikan ibadah haji. Mereka berangkat atas undangan dari Kerajaan Arab Saudi secara mendadak.

 

Kesepuluh orang yang turut berhaji itu kata Haji Masnuh - sebagaimana dicatat oleh Gus Ainurrofiq - adalah Gus Dur, Gus Amanullah (Tambakberas), Gus Nu'man (Kajen), Gus Muadz (Kajen), KH Muhtadi (Banyuwangi), Gus Jakfar Shodiq (kakak Kiai Said Aqil Siroj), Haji Anwar (Gresik), adik Haji Anwar (Haji Masnuh lupa namanya), Haji Sulaiman (Jakarta) dan Haji Masnuh sendiri.

 

Mereka menunaikan wukuf di Arofah sembari menjalan misi khusus. Mereka berdoa khusus untuk memohon petunjuk guna menyelamatkan NU. Dari hasil tirakat di padang Arofah itu, melalui petunjuk yang dilewatkan pada Haji Masnuh, Gus Dur optimis bakal mampu melewati ujian menghadapi rezim.

 

Haji Masnuh kala itu melihat langit Arofah terbelah dan tampak sembilan matahari yang bersinar terang. Hal ini oleh Gus Dur dimaknai sebagai pertanda NU bakal selamat. Jumlah sembilan memang identik dengan NU yang logonya terdapat bintang sembilannya.

 

Keterlibatan Kiai Muhtadi tidak sebatas sampai di sana. Ia pun turut hadir di Muktamar NU yang dijaga ketat oleh sejumlah aparat. Ia berangkat menjelang Muktamar NU dan ditemani oleh putra sulungnya, Gus Ainul Yaqin.

 

Pada malam hari, menjelang keberangkatan, Kiai Muhtadi mendapatkan segepok uang dari seorang pengusaha di Banyuwangi. Uang tersebut dibuat bekal perjalanan. Dengan mengendarai bus umum, keduanya berangkat ke Cipasung.
 

Sesampainya di Terminal Kudus, keduanya turun dari bus untuk ganti kendaraan. Namun, sebelum naik bus, Kiai Muhtadi menghampiri penjual keris yang membuka lapak di terminal. Uang saku dari pengusaha tersebut, ia belikan keris semua. Satu tas penuh keris yang dibelinya itu. Lantas keduanya melanjutkan perjalanannya.
 

Sesampainya di Pesantren Cipasung yang diasuh oleh KH. Ilyas Ruchiyat tersebut, Kiai Muhtadi bertemu dengan sahabat Gus Dur asal Surabaya, lantas dipersilakan untuk beristirahat di tempat penginapan Gus Dur. Tempat tersebut, merupakan sebuah rumah yang dilengkapi dengan sejumlah fasilitas seperti halnya dispenser untuk membuat kopi.

 

Setelah sampai di tempat peristirahatan, Gus Ainul Yaqin membuat dua gelas kopi untuk dirinya dan ayahandanya. Selang beberapa waktu, saat kopi tinggal setengah, datang KH Muslim Rifai Imampuro atau yang tersohor dengan nama Mbah Liem. Beliau mengenakan seragam Hansip dan membawa bebunyian.

 

Mbah Liem memasuki ruangan istirahat tersebut. Antaranya dengan Kiai Muhtadi beradu pandang seolah ada suatu hal yang dikomunikasikan. Sorot matanya dan anggukan kepala keduanya, seolah jadi tanda percakapan keduanya. Lalu, pertemuan tersebut diakhiri dengan bersulang. Dua gelas kopi yang tersisa separuh itu ditoskan oleh keduanya. Diseruput lantas berpisah.

 

Menjelang pemilihan Ketua Umum PBNU, Gus Ainul Yaqin diperintahkan oleh Kiai Muhtadi untuk menaruh gelintingan kertas. Ada lima buah. Empat buah ditaruh berdasarkan arah mata angin. Satu buah lagi ditaruh di arena pemilihan. Entah kertas apa itu? Kiai Muhtadi tidak bercerita apapun.

 

Sebagaimana diketahui, pada pemilihan tersebut berlangsung dramatis. Pada tahap pencalonan, Gus Dur memperoleh 157 suara. Sementara Abu Hasan meraih 136 suara. Juga ada yang memilih Fahmi Saifudin Zuhri sebanyak 17 suara dan Chalid Mawardi dengan 6 suara. Dengan selisih yang cukup tipis, Gus Dur dan Abu Hasan kembali bersaing dalam tahap pemilihan. Ada 23 suara mengambang yang diperebutkan, yakni suara pendukung Fahmi dan Chalid Mawardi. Pada tahap ini, Gus Dur kembali terpilih dengan meraih 174 suara, sedangkan Abu Hasan hanya dapat 142 suara.

 

Muktamar pun ditutup dengan kembali mengukuhkan Gus Dur sebagai Ketua Umum PBNU untuk ketiga kalinya. Para muktamirin pun berpulangan, tak terkecuali Kiai Muhtadi. Namun, ada satu hal yang mengganjal bagi Gus Ainul Yaqin. Satu tas penuh keris yang dibawah oleh abahnya itu tak lagi ada. Entah kemana, ia tak berani bertanya hingga akhir hayat abahnya. Apa keris-keris untuk jadi senjata menghalau segala upaya negatif yang hendak merusak NU? Bisa jadi. 

 

Tulisan dari Komunitas Pegon

Iklan Medsos