Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Kiai Sumar, Pembela Anak Yatim dan Fakir Miskin

Kiai Sumar, Pembela Anak Yatim dan Fakir Miskin
Almarhum Kiai Sumar. (Foto: NOJ/istimewa)
Almarhum Kiai Sumar. (Foto: NOJ/istimewa)

Probolinggo, NU Jatim Online

Kiai adalah tokoh sentral di dalam pondok pesantren. Perkembangan maju mundurnya pondok pesantren ditentukan oleh wibawa dan kharisma seorang pengasuh pesantren. Urgensi kehadiran sosok kiai bagi santri tentu sedikit banyak memiliki andil dalam kehidupan sehari-hari di pondok pesantren. 

 

Hal yang berbeda tentu dirasakan ketika sosok guru sekaligus orang tua di pesantren menghadap sang khalik. Tepat pada hari Senin, (14/12/2020), KH. Sumar Samsul Arifin, wafat. Sosok guru kharismatik sekaligus orang tua bagi santri Pondok Pesantren dan Panti Asuhan Hidayatul Islam di Desa Clarak Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo.

 

Kiai yang karib dikenal dengan panggilan Kiai Sumar tersebut dilahirkan pada tahun 1950 di Desa Clarak, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Gus Arif Hidayat, putra ketiga dari Kiai Sumar memaparkan bahwa abahnya mahsyur sebagai kiai 1000 rumah pembela anak yatim dan fakir miskin. 

 

“Abah mendapatkan julukan itu sebab selain beliau peduli dengan anak yatim piatu, beliau juga sangat peduli kepada fakir miskin,” ungkapnya.

 

Gus Arif, begitu beliau biasa disapa, juga menuturkan bahwa Pesantren Hidayatul Islam dibangun seusai abahnya bermimpi Rasulullah. Dalam mimpi tersebut, Rasulullah bersabda bahwa kelak akan ada pondok pesantren yang santrinya mayoritas yatim piatu.

 

“Pondok yang diasuh oleh abah tak lain merupakan perjuangannya dimulai dari mimpi yang bertemu dengan Rasulullah SAW. Dalam mimpi tersebut Rasulullah berkata kelak akan ada Pondok Pesantren disini dan banyak anak yatimnya bernama Hidayatul Islam,“ papar Gus Arif.

 

Ternyata, kisah perjuangan Kiai Sumar dalam membantu fakir miskin bukan hanya isapan jempol belaka. Hal ini dinyatakan oleh Gus Arif terkait pembangunan maupun renovasi rumah masyarakt Desa Clarak hingga Desa Krucil, Kabupaten Probolinggo.

 

“Abah sering merenovasi rumah yang kurang layak, musholla, sampai jembatan penghubung desa. Sudah sekitar 40 lebih rumah yang beliau buat tidak hanya masyarakat Desa Clarak tapi juga sampai daerah Krucil di pegunungan sana,” terangnya.

 

Selain sebagai tokoh agama yang dijadikan rujukan saat mengambil keputusan, dalam pandangan santri, Kiai Sumar adalah sosok yang tegas serta penyayang terlebih kepada anak yatim. Hal ini dipaparkan oleh salah satu santri Pondok Pesantren Hidayatul Islam, Rizal. Menurutnya, Kiai Sumar tak segan mengangkat anak yatim untuk menjadi anak dan tercatat dalam kartu keluarganya. 

 

“Kiai bahkan tak segan beberapa anak yatim beliau angkat menjadi anak dan tercatat dalam kartu keluarganya,” pungkasnya.

 

 

Editor: Risma Savhira

Iklan promosi NU Online Jatim