Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Kiai Syafruddin: Dakwah ala Wali Songo Masih Relevan di Era Virtual

Kiai Syafruddin: Dakwah ala Wali Songo Masih Relevan di Era Virtual
Katib Syuriah PWNU Jatim KH Syafruddin Syarif saat mengisi pengajian rutin secara hybrid di kantor PWNU Jatim, Sabtu (24/04/2021). (Foto: NOJ/AH)
Katib Syuriah PWNU Jatim KH Syafruddin Syarif saat mengisi pengajian rutin secara hybrid di kantor PWNU Jatim, Sabtu (24/04/2021). (Foto: NOJ/AH)

Surabaya, NU Online Jatim

Wali songo dalam misi dakwahnya kerap kali menggunakan cara-cara yang adem dan sejuk, tanpa melalui pertentangan dengan masyarakat setempat. Akulturasi budaya yang dilakukan oleh wali songo terhadap tradisi masyarakat setempat mudah diterima. Hal tersebut disebabkan model dakwah wali songo tidak dengan paksaan.

 

Hal itu disampaikan oleh Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama KH Syafruddin Syarif, saat mengisi Ngaji Ramadlan yang diselenggarakan oleh PWNU Jatim, Sabtu (24/04/2021). Kegiatan yang dilaksanakan secara offline dan online ini mengusung tema kajian ‘Inspirasi Dakwah Wali Songo untuk Milenial’.

 

Menurut Kiai Syafruddin, model dakwah yang dilakukan oleh wali songo tidak hanya mengatur agar bagaimana Islam sampai ke masyarakat, akan tetapi juga bagaimana agar kehidupan sosial sesuai dengan ajaran agama Islam. Seperti adanya masjid yang terletak di sebelah barat alun-alun di setiap kota/kabupaten di seluruh Pulau Jawa.

 

“Biasanya di sekitaran alun-alun lama tersebut ada masjid, penjara, dan rumah dinas bupati atau wali kota. Ini konsep yang dibuat oleh wali songo tempo dulu,” kata Kiai Syafruddin.

 

Keberhasilan wali songo dalam berdakwah disebabkan karena menyentuh kesenangan orang lain, tanpa harus memaksa pemeluknya. Hal itu menurut Kiai Syafruddin sesuai dengan Al-Qur’an, bahwa tidak ada paksaan dalam beragama.

 

Saat ini ada kelompok mengatasnamakan Islam yang masuk ke Indonesia dan memaksakan kehendak atau keinginannya, bahkan sampai menyebut orang yang tidak setuju atau tidak sealiran dengannya dengan kafir, musyrik dan lain sebagainya. Menurut Kiai Syafruddin itu berlawanan dengan yang dilakukan wali songo.

 

“Ini (cara kasar kelompok Islam yang suka mengkafirkan orang Islam yang tak sepaham justru) menghancurkan Islam dari dalam. Kalau wali songo dulu mengislamkan orang banyak, sekarang ini yang Islam malah dikafirkan, dimusyrikkan atau dibid’ahkan. Tentu ini tidak sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW,” ujar Kiai Syafruddin.

 

Hal lain yang membuat dakwah wali songo mudah diterima ialah karena wali songo berdakwah bil hal. Yaitu tidak hanya memberi ceramah atau pengajian, tapi juga memberi contoh yang baik kepada jamaah.

 

Tak hanya itu, dalam menyebarkan ajaran Islam yang disentuh pertama kali oleh wali songi ialah kebutuhan masyarakat. Segala sesuatu yang menjadi kebutuhan masyarakat ia carikan solusi dan pemecahan masalahnya. Selain itu juga syiar-syiar yang disampaikan singkat, padat, dan mudah diiingat.

 

“Apabila wali songo datang ke suatu tempat, yang ia tanyakan atau sampaikan bukan tentang Islam terlebih dahulu, tapi menanyakan warga setempat membutuhkan apa. Model semacam ini sulit sekali ditemui saat ini,” tuturnya.

 

Maka, siapapun saat ini, baik yang berdakwah melalui virtual ataupun secara langsung, atau bil hal, maka ia harus meniru cara-cara yang dilakukan oleh wali songo agar dakwahnya mudah diterima oleh masyarakat.

 

“Apalagi hal-hal yang dilakukan oleh wali songo tersebut hingga saat ini masih relevan dan bisa dilakukan,” pungkas Kiai Syafruddin.

 

Editor: Nur Faishal


Editor:
F1 Bank Jatim