Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Kisah Gus Fadil, Berkelana Menuntut Ilmu di Lima Negara

Kisah Gus Fadil, Berkelana Menuntut Ilmu di Lima Negara
Gus Fadil, gus asal Probolinggo berada di negara dia kuliah, Yordania. Dia juga Ketua LD PCINU Yordania. (Foto: NOJ/Siti Nurhaliza)
Gus Fadil, gus asal Probolinggo berada di negara dia kuliah, Yordania. Dia juga Ketua LD PCINU Yordania. (Foto: NOJ/Siti Nurhaliza)

Probolinggo, NU Online Jatim

Para ulama terdahulu dikenal biasa berkelana dalam menuntu ilmu. Dari pesantren satu ke pesantren lainnya. Bahkan, banyak pula ulama yang berkelana demi mendalami ilmu hingga ke luar negeri. Dahulu, biasanya Makkah dan Mesir jadi tujuan. Tradisi ini pula yang dilanjutkan Muhammad Rizqil Hasan Muqorrobin alias Gus Fadil.

 

Gus Fadil adalah salah satu putra dari Pengasuh Pesantren Ainul Hasan Wonorejo, Maron, Kabupaten Probolinggo. Masa dan remajanya dihabiskan di TK Tunas Bangsa, SDN 3 Wonorejo, MTs 1 dan MA 1 Zainul Hasan Genggong. Setelah itu dia sempat mengenyam bangku kuliah di Universitas Islam Zainul Hasan Genggong.

 

Selepas dari Genggong, Gus Fadil kemudian berkeliling ke Malaysia, Singapura, Oman, dan Turki. Dia terobsesi keliling dunia untuk mencari pengalaman, memperluas wawasan, dan memperdalam ilmunya. Di setiap negara yang dikunjungi, dia mengasah pengetahuannya pada guru-guru yang pakar di bidangnya.

 

Di Turki, misalnya, pria kelahiran Probolinggo, 06 Mei 1999, itu belajar bahasa lokal selama tujuh bulan. Baru setelah itu dia terbang ke Irbid, Yordania, dan kuliah di Universitas Yarmouk. Di sana, Gus Fadil mengambil Program Studi Fiqh wa Usuluhu dan sekarang baru Semester 4.

 

Gus Fadil menyampaikan, jurusan Fiqh wa Ushuluhu dipilih karena sesuai dengan basis keilmuannya saat belajar di Indonesia. Dengan begitu dia ingin pengetahuannya bertambah dalam selama belajar di Yordania. Dia juga suka dengan Ushul Fiqh karena itu adalah metode dasar dalam penetapan sebuah hukum.

 

Kenapa harus di luar negeri? Dia beralasan, sebagaimana hadits Nabi, bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi seorang Muslim dan harus bersungguh-sungguh. Jika perlu harus dikejar ke China.

 

Alasan kedua, Gus Fadil terinspirasi dari guru dan kakaknya yang juga belajar di luar negeri, yakni Makkah al-Mukarramah. Apalagi, orang tuanya sangat mendukung sehingga menambah tekad bulatnya berkelana ke negeri orang untuk menuntut ilmu.

 

Gus Fadil mengatakan, belajar di luar negeri tidak semudah dan senyaman seperti dibayangkan. Pertama, dia harus hafal Al-Qur’an minimal dua juz. Kedua, harus menguasai bahasa asing, minimal bahasa Inggris dan Arab.

 

“Apalagi belajar di negara Arab dan mengambil jurusan Syariah, hal pertama yang harus dikuasai adalah Al-Qur'an dan Bahasa Arabnya. Kemudian Bahasa Inggris juga harus dikuasai. Karena ada beberapa mata kuliah di luar negeri yang bahasa pengantarnya menggunakan Bahasa Inggris,” ujarnya kepada NU Online Jatim, Ahad (19/09/2021).

 

Di sela-sela kesibukannya belajar, Gus Fadil juga aktif di organisasi NU di Yordania. Dia bahkan didapuk menjadi Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Cabang Istimewa NU Yordania. Selain di PCINU, dia juga aktif sebagai Kemendik HPMI Irbid Yordania.

 

Editor: Nur Faishal


Editor:
F1 Bank Jatim