Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Kisah Haru Lansia di Trenggalek, Semangat Belajar Ngaji di Ujung Usia

Kisah Haru Lansia di Trenggalek, Semangat Belajar Ngaji di Ujung Usia
Ibu-ibu lanjut usia jamaah Masjid Al-Mustamar Trenggalek semangat belajar mengaji kepada seorang pembimbing. (Foto: NOJ/ Marisa Khoirila).
Ibu-ibu lanjut usia jamaah Masjid Al-Mustamar Trenggalek semangat belajar mengaji kepada seorang pembimbing. (Foto: NOJ/ Marisa Khoirila).

Trenggalek, NU Online Jatim

Semangat belajar mengaji yang dilakukan ibu-ibu lanjut usia (lansia) jamaah Masjid Al-Mustamar Desa Karangsuko, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek patut diapresiasi. Meski sudah di ujung usia, mereka rutin belajar mengaji kepada seorang pembimbing seusai shalat Maghrib.

 

"Ibu-ibu ini usianya sekitar 40 hingga 60-an ke atas, dan kebanyakan sudah bisa membaca huruf hijaiyah. Hanya pengetahuan tentang tajwidnya masih kurang," ujar Ribhatu Maliihah, pembimbing ngaji ibu-ibu lanjut usia jamaah Masjid Al-Mustamar kepada NU Online Jatim, Senin (20/09/2021).

 

Maliiha menyebutkan, metode yang digunakan ialah semaan. Jika ada kesalahan bacaan, dirinya langsung membimbingnya cara baca yang benar. Selain mengaji rutin setiap ba’da shalat Maghrib, juga ada kegiatan tambahan yakni hafalan Fashalatan atau Fiqih Bab Shalat.

 

“Mereka menghafalkan tentang fiqih dasar dan surat-surat pendek. Biasanya dilakukan sepekan sekali setiap malam Ahad,” kisah alumni Pondok Pesantren Darunnajah, Kelutan, Trenggalek tersebut.

 

Pada mulanya, Maliiha mengaku malu untuk membimbing mereka. Pasalnya, menurutnya pengetahuan tentang Al-Qur’an dan tajwid yang dimiliki masih kurang. Namun, keluarga besar Masjid Al-Mustamar memintanya untuk membimbing ngaji ibu-ibu lanjut usia. Dirinya pun sungkan menolak.

 

“Saya merasa tidak cukup ilmu untuk membimbing mereka, namun saya tidak bisa menolak karena yang meminta langsung guru saya yang sekaligus pembimbing pertama ibu-ibu lanjut usia tersebut belajar mengaji,” jelasnya.

 

Melihat semangat ibu-ibu tersebut dalam belajar mengaji, membuat hatinya terenyuh. Ia tak kuasa menolak dan akhirnya menerima permintaan membimbing ngaji tersebut dengan setulus hati.

 

"Saya niatkan takdim kepada guru, juga membantu mereka yang mau mempelajari kitab Allah SWT," tambahnya.

 

Berbekal semangat untuk menambah ilmu, respons pertama dari jamaah ketika ada program belajar membaca Al-Qur'an sangat baik dan antusias. Bahkan, Maliiha mengatakan, pernah suatu hari ada yang kecewa karena bimbingan mengaji diliburkan.

 

"Saat itu kasus Covid-19 melonjak sangat tinggi, dan sempat membuat imun saya maupun jamaah lain menurun. Akhirnya pun diliburkan selama kurang lebih sebulan," ujar perempuan kelahiran 1994 itu.

 

Meski demikian, pada dasarnya hal tersebut tidak menjadi penghalang semangat ibu-ibu lanjut usia untuk mengaji. Bahkan sebagian dari mereka mengatakan bahwa mengaji itu sebagai obat untuk raganya.

 

“Saya ngaji dengan niat beribadah, kalaupun suatu saat ada penyakit yang menimpa saya, semoga amal dari ngaji ini bisa menjadi obatnya. Karena Al-Qur'an itu Syifa’ atau obat dari segala macam penyakit,” ujar Maliiha menirukan ucapan ibu-ibu tersebut.

 

Menurut Maliiha, kesulitan mengajar dan memberi bimbingan ngaji kepada ibu-ibu lanjut usia sebenarnya hampir sama dengan mengajar anak-anak. Hanya saja, kalau kepada yang lebih tua itu dirinya merasa sedikit sungkan.

 

Selama kurang lebih 10 tahun beraktivitas membimbing ibu-ibu lanjut usia mengaji, Maliiha mengaku tidak menerima bisyaroh sedikit pun. "Tidak ada bisyaroh, hanya lillahi ta'ala. Sebenarnya ibu-ibu memaksa saya untuk menerima bisyaroh, tapi saya menolak,” ungkapnya.

 

 

Ia menyebutkan, hal-hal yang telah dipelajari dari kedua orang tua dan pesantren, salah satunya untuk mengamalkan ilmu agama dengan ikhlas lillahi ta'ala. “Tidak untuk menjualnya dan tidak mengharap imbalan apapun," terang Maliiha.

 

Editor: A Habiburrahman


Editor:
F1 Bank Jatim