Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Kisah Kiai Adlan Aly Isi Bahan Bakar Mobil dengan Air Kelapa

Kisah Kiai Adlan Aly Isi Bahan Bakar Mobil dengan Air Kelapa
Kiai Adlan Aly dalam lukisan. (Foto: NU Online)
Kiai Adlan Aly dalam lukisan. (Foto: NU Online)

Surabaya, NU Online Jatim

3 Juni 1900. Keluarga besar Pesantren Maskumambang, Dukun, Kabupaten Gresik, berbungah-bungah. Bayi laki-laki lahir dari pasangan KH Ali dan Hj Muchsinah. Kelak, bayi yang kemudian diberi nama Adlan Aly itu menjadi tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan Mursyid Jami’iyah Ahliath-Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nadliyah. Sebagaimana banyak kiai dahulu yang lekat dengan kelebihan tak biasanya (karomah), kisah-kisah seperti itu juga melekat pada perjalanan hidup santri kesayangan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari itu.

 

Pendidikan

Dikutip dari NU Online Jatim dalam KH Adlan Aly, Santri Kesayangan Hadratussyaikh (18/07/2020), lahir di lingkungan pesantren, Kiai Adlan begitu sapaan akrabnya telah menerima pengajaran agama dengan baik dari pamannya KH Faqih Abdul Jabbar, semenjak usia 5 Tahun. Kesungguhannya belajar agama membawa Adlan kecil melanjutkan pengembaraan ilmu kepada KH Munawwar, Kauman, Gresik untuk menghafal Al-Qur'an saat berumur 14 tahun.

 

Setelah itu ia melanjutkan berguru kepada KH Muhammad Said bin Ismail dan memperoleh sanad Al-Quran yang muttasil dengan baginda Rasul. Hingga akhirnya berguru langsung kepada Hadratussyaikh di Pesantren Tebuireng, menyusul kakaknya KH Ma’sum Aly yang telah lebih dulu berguru di Tebuireng.

 

Saat menjadi santri di Tebuireng,  KH Adlan menjadi kepercayaan dan santri kesayangan Hadratussyaikh. Selain hafidz Al-Quran dan alim. Tak jarang hadratussyaikh sering meminta pendapat kepadanya bilamana ada permasalahan seputar fiqih.

 

Ia sering diminta menjadi imam mengantikan Kiai Hasyim saat berhalangan hadir. Khususnya saat Ramadlan, menjadi imam shalat tarawih di masjid Tebuireng. “Beliau biasa melakukan pengajian rutin juga waktu bulan Ramadlan untuk kitab Fathul Qorib (kitab Fiqih, red),” jelas cucunya, KH Amir Jamiludin, Pengasuh Pesantren Walisongo, Cukir, Jombang.

 

Menikah

KH Adlan Aly juga tercatat pernah beberapa kali menikah. Pertama dengan Nyai Hj Romlah. Keduanya dikaruniai dua putra dan dua putri, yakni Nyai Hj Mustaghfiroh, KH Ahmad Hamdan Adlan, Nyai Hj Sholikhah, dan KH Abdul Djabbar. Nyai Hj Romlah wafat dalam perjalanan pulang dari Tanah Suci Makkah pada tahun 1939 M. Dia dimakamkan di Pulau We Sumatera.

 

Sesampainya di rumah, Kiai Adlan dipanggil oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang bermaksud menjodohkan dengan keponakanya yang bernama Nyai Hj Halimah. Kurang lebih selama 40 tahun beliau menjadi istri Kiai Adlan dan wafat pada tahun 1982 M. Kiai Adlan kemudian menikah lagi dengan Nyai Hj Musyafa’ah Ahmad, seorang ustadzah dari Desa Keras, Diwek, Jombang tahun 1982 M.

 

Delapan tahun berikutnya Kiai Adlan berpulang ke Rahmatullah tanggal 6 Oktober 1990 M, atau 17 Rabiul Awal 1411 H. Beliau dimakamkan di pemakaman Pondok Tebuireng Jombang. Kecintaannya kepada guru dan pesantren Tebuireng membuatnya tetap bertahan di wilayah tidak jauh dari Tebuireng. Berdirinya lembaga pendidikan juga Pondok Pesantren Putri Walisongo adalah bukti pengabdiannya kepada sang guru, Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari.

 

“Pesantren Walisongo dan Muallimat itu memang komitmen Kiai Adlan kepada Mbah Hasyim, karena Hadratussyaikh tugasnya di pesantren putra, dan Kiai Adlan diberi amanah untuk membantu mengajar masyarakat sekitar,”  lanjut Gus Jamil, panggilan akrabnya.

 

 

Berjuang di NU, Tarekat, dan Politik

Laduni.id dalam Biografi KH Adlan Aly (15/09/2020) menulis, setelah Nahdlatul Ulama (NU) berdiri, KH Hasyim Asy’ari memanggil Kiai Adlan untuk membentuk kepengurusan NU di Kecamatan Diwek. Dari sini Kiai Adlan berkiprah di NU hingga ke level nasional. Dalam Muktamar NU yang ke-8 di Cirebon pada Agustus 1931, Kiai Adlan dipercaya sebagai pemimpin sidang.

 

Termasuk ketika membahas masalah Tarekat Tijaniyah yang sempat bikin panas muktamar. Meski akhirnya forum perdebatan yang langsung dipimpin sendiri oleh KH Hasyim Asy’ari itu memutuskan bahwa Tijaniyah dianggap sebagai tarekat Mu’tabarah.

 

Sebagai insan yang mempunyai jiwa pejuang, Kiai Adlan terus berjuang demi Tanah Air dan demi agama. Ia pun terus berkhidmat melalui NU hingga akhir hayat. Tercatat sejumlah posisi diamanahkan kepada Kiai Adlan, di antaranya, Rais Syuriah Pengurus Cabang NU Jombang, Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, Mustasyar PWNU Jatim, dan A’wan Pengurus Besar NU.

 

Di dunia tarekat, Kiai Adlan menjadi Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Beliau mendapatkan Ijazah irsyad (diperbolehkan untuk menjadi mursyid atau guru dalam satu tarekat) dari guru tarekatnya, KH Muslih Abdurrahman Mranggen, Demak, Jawa Tengah.

 

Kiai Muslih Abdurrahman memang sudah dikenal sebagai Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah dan banyak memberi ijazah kepada para ulama Jawa. Selain kepada KH. Muslih Abdurrahman, Kiai Adlan Aly juga memperoleh ijazah tarekat tersebut dari KH. Romly Tamim Rejoso, Jombang.

 

Kiai Adlan juga didapuk menjadi Ketua Umum Jam’iyyah Ahli-t-Thariqah Al-Mu’tabarahan-Nahdliyyah (JATMAN) pertama berdasarkan hasil Muktamar NU ke-26 di Semarang tahun 1979. Memang, baru pada muktamar kali ini NU membuat organisasi tarekat sendiri berskala nasional. Karena sebelumnya ada organisasi tarekat yang dipimpin oleh KH Musta’in Romly, putra KH Romly Tamim Rejoso.

 

Kiai Adlan juga memperluas medan perjuangannya melalui jalur politik. Menjelang Pemilu 1987, Kiai Adlan berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan dan terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Jombang periode 1988-1993.

 

Karomah

Sebagaimana biasa melekat pada ulama tarekat, kemampuan di luar kebiasaan atau karomah juga dimiliki Kiai Adlan. Di antaranya cerita Kiai Adlan saat mengendarai mobil dalam beberapa kali perjalanan. Masih dikutip dari Laduni.id, satu waktu Kiai Adlan melakukan perjalanan untuk satu acara. Ia meminjam mobil milik juragan sate terkenal di Jombang, Haji Faqih.

 

Bertindak sebagai sopir ialah Ma’mun. Selesai acara sekira pukul 01.00 dini hari, Kiai Adlan langsung pulang. Di tengah jalan, sang sopir khawatir karena bahan bakar mobil menipis. Padahal, larut malam tidak ada SPBU dan toko bensin eceran yang buka.

 

“Mbah Yai, bensinnya habis. Lalu beli di mana? Kalau sudah jam sekian, tidak ada penjual bensin yang buka, Yai,” lapor sang sopir kepada Kiai Adlan.

 

Kiai Adlan kemudian keluar dari dalam mobil dan turun. Ia mendatangi pedagang kelapa muda yang masih buka. Beliau membeli air kelapa muda dua kantung plastik. Satu kantung diberikan kepada sopir agar diminum, satu kantung air kelapa muda satunya ditaruh di dekat mesin mobil.

 

“Ayo naik,” kata Kiai Adlan.

 

Tak disangka, indikator bahan bakar di mobil langsung penuh. Perjalanan pulang pun lancar dan selamat sampai tujuan.

 

Di waktu yang lain, Kiai Adlan hendak menghadiri acara di Jawa Tengah. Ia meminjam mobil milik Pengasuh Pesantren Tebuireng saat itu, KH Yusuf Hasyim. Yang mengemudi bernama Bari. Perjalanan pulang sesampai di Mantingan, oli mobil habis. Sang sopir melapor ke Kiai Adlan.

 

Mendengar itu, Kiai Adlan tetap meminta sang sopir agar meneruskan perjalanan. Ajaib, mesik olinya habis, mobil tetap berjalan normal dan sampai di Jombang tanpa mengalami kendala apapun.

 

Dalam satu perjalanan untuk menghadiri undangan di Bojonegoro, diceritakan Kiai Adlan meminjam mobil milik Pesantren Tebuireng. Yang mengemudi bernama Aji. Saat itu hujan turun. Di tengah jalan, ban mobil terperosok lubang yang dalam. Mobil pun mogok.

 

“Ya sudah, kamu di atas saja, saya turun,” kata Kiai Adlan kepada sopir begitu tahu apa yang terjadi.

 

Sang Sopir mengira Kiai Adlan akan mendorong mobilnya. Ternyata Kiai Adlan justru mengangkat mobil tersebut, sehingga bagian ban yang masuk ke lubang bisa keluar. Perjalanan bisa dilanjutkan dan menyisakan keheranan di hati Aji.

 

Editor: Nur Faishal

F1 Promosi Iklan