Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Kisah Kiai Masduqie yang Seluruh Permintaan Terkabul Berkah Shalawat

Kisah Kiai Masduqie yang Seluruh Permintaan Terkabul Berkah Shalawat
Almaghfurlah KH Masduqie Mahfudh. (Foto: NOJ/Ng)
Almaghfurlah KH Masduqie Mahfudh. (Foto: NOJ/Ng)

Ini pengalaman almaghfurlah KH Ahmad Masduqie Mahfudh. Kisah disampaikan kiai yang pernah diamanahi sebagai Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur tersebut saat memberikan penggajian di Majlis Ta'liim wal Maulid Riyadhul Jannnah Malang, yang dituturkan putranya.

Suatu ketika salah seiorang Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini harus melaksanakan dinas di Tarakan, Kalimantan Timur. Pada suatu hari, ada tamu pukul 5 sore, dan mengatakan ke Kiai Masduqie: “Saya disuruh oleh ibu, disuruh minta air tawar,” kata sang tamu.

 

 

Kiai Masduqie mengaku masih bodoh saat itu. Seketika itu ia menjawab: “Ya, silakan ambil saja, air tawar kan banyak itu di ledeng-ledeng itu.”

 

“Bukan itu, Pak. Air tawar yang dibacakan doa-doa untuk orang sakit itu, pak,” kata si tamu.

 

“Oh, kalau itu ya tidak bisa sekarang. Ambilnya harus besok habis shalat Shubuh persis." 

 

Kiai Masduqie menjawab begitu karena ingin bertanya kepada sang istri perihal abah mertua yang sering nyuwuk-nyuwuk (membaca doa untuk mengobati) dan ingin tahu apa yang dilafalkan. Ternyata sang istri tidak tahu tentang doa yang dibaca abahnya di rumah. Padahal Kiai Masduqie sudah janji. Habis Isya saat harus wiridan membaca dalail, menemukan hadits tentang shalawat.

 

 

Inti hadits tersebut kurang lebih: Siapa yang membaca shalawat sekali, Allah beri rahmat sepuluh. Baca shalawat sepuluh, Allah beri rahmat seratus. Baca shalawat seratus, Allah beri rahmat seribu. Tidak ada orang yang baca shalawat seribu, kecuali Allah mengabulkan permintaanya.

 

Setelah mencari di berbagai kitab, ditemukanlah hadits tersebut sebagai jawabannya. Lalu Kiai Masduqie pun bangun di  tengah malam, mengambil air wudlu dan air segelas, setelah itu membaca shalawat seribu kali. Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidinâ Muhammad.

 

Setelah selesai membaca seribu shalawat, dilanjut dengan doa: Allahumaj’al hadzal ma’ dawâ-an liman syarabahu min jamî’il amrâdh. Arti doa tersebut: Ya allah, jadikanlah air ini sebagai obat dari segala penyakit bagi peminumnya.

 

Lalu Kiai Masduqie meniupkan ke air gelas dan baca shalawat satu kali lagi. Di pagi hari, diberikanlah air tersebut kepada orang yang memintanya. Setelah tiga hari, ada berita dari orang tersebut bahwa si penderita penyakit sudah sembuh setelah meminum air tersebut. Padahal, sakitnya sudah empat bulan dan belum ada obat yang bisa menyembuhkan. Dokter pun sudah tidak sanggup menangani penyakit yang diderita orang ini dan menyarankan untuk mencari obat di luar.

 

Anehnya, pemberi kabar itu mengatakan bahwa Kiai Masduqie selama tiga hari itu mengelus-elus perut orang yang sakit. Mengelus-ngelus perut? Tentu saja tidak, apalagi si penderita penyakit adalah perempuan yang bukan mahramnya. Hal itu juga mustahil karena Kiai Masduqie selama tiga hari di rumah saja.

 

Berkat shalawat, atas izin Allah penyakitnya sembuh.

 

Sejak peristiwa itu di Kalimantan Timur, Kiai Masduqie terkenal sebagai guru agama yang pintar nyuwuk. Sampai penyakit apa saja bisa disembuhkan. Jika tidak membacakan shalawat, ya istrinya mengambilkan air jeding, yang sudah dipakai untuk wudlu. Ya sembuh juga penyakitnya. Inilah pengalaman shalawat Kiai Masduqie ketika dinas di Kalimantan.

 

Selamat dari Puting Beliung di Tengah Laut

Cerita lain, suatu ketika harus ke Samarinda dengaan naik kapal pribadi milik gubernur kala itu, Aji Pangeran Tenggung Pranoto. Dalam pertengahan perjalanan melalui laut, tepatnya di Tanjung Makaliat kapal yang diinaiki terkena angin puting beliung. Maka goyang-goyanglah kapal tersebut.

 

Kiai Masduqie sadar, berwudlu, lalu naik ke atas kapal. Kemudian nmengajak para awak kapal untuk mengumandangkan adzan agar malaikat pengembus angin dahsyat tersebut berhenti. Lalu berhentilah angin tersebut.  Nah, inilah salah satu pengalaman shalawat Kiai Masduqie.

 

“Kalau ada orang menderita penyakit aneh-aneh, datang ke Mergosono, insyaallah saya bacakan shalawat seribu kali. Kalau ndak mempan sepuluh ribu kali, insyaallah qabul,” kata Kiai Masduqie kepada jamaah pengajian Majelis Riyadul Jannah.

 

Bangun Pondok dengan Shalawat

“Berkat shalawat Nabi, sampean tahu sekarang, saya bangun pondok sampai tingkat tiga, tidak pernah minta sokongan dana masyarakat, mengedarkan edaran, proposal tidak pernah. Modalnya hanya shalawat saja. Uang yang datang ya ada juga, tapi tidak habis-habis. Itu berkat shalawat,” urai Kiai Masduqie dalam pengajiannya.

 

Suami Selingkuh Kembali Berkah Shalawat

Kisah lainnya, suatu ketika, seorang bidan mengadu tentang suaminya yang pergi meninggalkannya karena terpikat dengan perempuan lain. Ia berharap suaminya bisa kembali. Abah, demikian para santrinya menyapa, menjawab bidang tersebut dengan tegas menganjurkan untuk baca shalawat. Bidan pun secara istikamah mengamalkannya, dan dalam selang beberapa lama suaminya kembali seraya bertobat.

 

Kiai Masduqie memiliki sembilan putra/putri ini yang di samping sarjana juga bisa membaca kitab semua. Saat anak ada yang mau ujian, di samping disuruh baca shalawat, sang abah juga membacakan shalawat untuk kelancaran dan kesuksesan putra-putrinya.

 

 

Kiai Masduqie pernah berkata: Berkat shalawat Nabi SAW, semua yang saya inginkan belum ada yang tidak dituruti oleh Allah. Belum ada permintaan yang tidak dituruti berkat shalawat Nabi. Semua permintaan saya terpenuhi berkat shalawat.

 

Apa yang disampaikan Kiai Masduqie memberikan pelajaran kepada kita akan manfaat shalawat.

 


Editor:
F1 Bank Jatim