Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Kisah Nenek Srini, Usia 63 Tahun Tak Malu Belajar Al-Qur’an

Kisah Nenek Srini, Usia 63 Tahun Tak Malu Belajar Al-Qur’an
Nenek Srini bersama warga se usia belajar mengaji dalam program Tabaqufa oleh Fatayat NU di Desa Gandul, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun. (Foto: NOJ/MNA)
Nenek Srini bersama warga se usia belajar mengaji dalam program Tabaqufa oleh Fatayat NU di Desa Gandul, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun. (Foto: NOJ/MNA)

Madiun, NU Jatim Online

Bulan Ramadlan sudah memasuki 10 hari akhir. Namun, Nenek Srini, warga Desa Gandul, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, tetap semangat dan istiqamah belajar Al-Qur’an di program Taman Baca Quran Fatayat (Tabaqufa) yang diadakan Fatayat Nahdlatul Ulama di desanya.

 

Srini adalah warga Desa Gandul adalah nenek yang mengikuti program Tabaqufa di desanya. Usianya sudah 63 tahun ketika mulai belajar membaca Al-Qur’an. Namun, baginya usia tak menjadi penghambat. Dirinya malah bersemangat, tidak kalah dengan anak-anak yang belajar membaca Al-Qur’an di program tersebut.

 

Semasa muda, Srini tidak sempat mengaji karena dulu sejak anak-anak sudah dituntut untuk bekerja di sawah atau di hutan. Sejak adanya program Tabaqufa di desanya, Srini merasa senang karena bisa belajar Al-Qur’an.

 

"Saya sekarang senang sekali. Saya dulu masih muda belum belajar Al-Qur’an, tidak kenal dengan bacaan Al-Qur’an. Sekarang Fatayat mengadakan program mengajari ibu-ibu mengaji membaca Al-Qur’an ini saya senang sekali," kata Srini kepada NU Online Jatim, (04/05/2021).

 

Sebelum Ramadlan, kegiatan Tabaqufa dilaksanakan setelah Maghrib setiap hari kecuali malam Jumat di mushala setempat. Srini mengikutinya dengan tekun setiap hari. Namun pada Ramadlan ini Tabaqufa diliburkan dengan alasan malam hari repot persiapan berbuka puasa, Tarawih dan tadarus.

 

Namun, Srini tak patah semangat dan tak tinggal diam. Srini tak mau selama Ramadlan libur mengaji, akhirnya dia lebih memilih mengikuti Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) pada siang hari bersama anak-anak. Dirinya tidak merasa malu meski menjadi santri tua di antara anak-anak yang mengaji.

 

"Saya senang kalau bisa belajar membaca Al-Qur’an, nanti supaya bisa membaca doa-doa yang umumnya berbahasa Arab," tandas Srini.

 

Sehari-hari Srini bertani. Setiap pagi ia bekerja di sawah, namun begitu tak membuat dirinya lelah di siang hari. Dia tetap semangat belajar mengaji meski terkadang lelah, mengantuk, haus, dan lapar karena puasa. Dia tetap berangkat mengaji dengan berjalan kaki atau terkadang naik sepeda.

 

"Ya ngantuk, juga capek. Tapi, ya, ditahan supaya bisa mengaji," kata Srini.

 

Saat ini Srini sudah membaca Al-Qur’an sebanyak empat juz sejak belajar Al-Qur’an setengah tahun yang lalu.

 

Editor: Nur Faishal

F1 Promosi Iklan