Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Kisah Uliyatun Ni'mah Kenalkan Pembelajaran Daring

Kisah Uliyatun Ni'mah Kenalkan Pembelajaran Daring
Uliyatun Ni'mah, Ketua PAC IPPNU Kecamatan Pule, Trenggalek. (Foto: NOJ/Marisa  Khoirila)
Uliyatun Ni'mah, Ketua PAC IPPNU Kecamatan Pule, Trenggalek. (Foto: NOJ/Marisa  Khoirila)

Trenggalek, NU Online Jatim

Saat ini, pembelajaran harus dilakukan dengan dalam jaringan atau daring. Hal tersebut lantaran semakin merebaknya virus Corona. Dengan demikian, pembelajaran tatap muka tidak dapat dilakukan.

 

Namun, dalam kenyataannya tidak semua komponen belajar yakni guru, orang tua dan siswa memiliki keterampilan dalam pembelajaran daring. Alih-alih memperoleh tambahan pengetahun, yang didapat justru sebaliknya. Bahkan tidak sedikit yang stres dengan hal tersebut.

 

Adalah Uliyatun Ni'mah yang mempunyai kepedulian besar terkait kondisi pelajar di tengah pandemi. Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Pule, Trenggalek tersebut mendaftar sebagai relawan pendidikan. Acara diselenggarakan Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur, yakni IPNU Educare.

 

"Saya menjadi relawan sudah sekitar empat bulan,” katanya kepada media ini, Selasa (01/12/2020).

 

Diceritakan bahwa pada awal melaksanakan program tersebut, hanya ada empat anak yang mengikuti. Pembelajaran dilakukan satu jam setiap kelasnya. Namun dengan ketelatenan dan aneka terobosan, kian banyak yang bergabung.

 

“Ya, sekarang sudah 12 anak untuk empat jam,” ungkapnya.

 

Dirinya juga memanfaatkan beberapa lokasi dan barang yang ada. Seperti menggunakan mushala yang biasanya untuk ngaji sebagai sarana educare.

 

Sedangkan alat tulis seperti spidol, papan, dan sejenisnya dilakukan kerja sama dengan madrasah diniyah atau madin yang dikelola.

 

“Jika ada yang terkendala paketan atau tidak punya hape andoid, maka punya saya yang digunakan. Saya juga memasang wifi untuk memudahkan akses pembelajaran,” terang dia.

 

Dalam pandangannya, menjadi relawan IPNU Educare artinya memberikan pendampingan belajar secafa gratis. Bahwa saat ini mengharuskan semua pihak mampu menggunakan ilmu teknologi (IT). Demikian pula menemukan konsep yang unik dan sesuai dengan generasi milenial, yakni memanfaatkan gawai atau gadget.

 

Berdasarkan pengalaman, bahwa mayoritas tugas sekolah masih monoton. Siswa disuruh mengerjakan lembar kerja siswa atau LKS dari halaman tertentu ke halaman berikutnya. Namun ternyata hal tersebut tanpa didampingi materi yang cukup atau keterangan dari guru.

 

“Padahal itu sangat penting dalam membangun pengetahuan peserta didik,” keluhnya.

 

Jadi, agar peserta didik tergerak untuk belajar lebih banyak dan tahu teknologi, maka dirinya mengunakan konsep diskusi. “Saya juga memanfaatkan teknologi yang ada, seperti video pembelajaran youtube dan kuis melalui aplikasi seperti kahoot dan quizizz,” ungkapnya.

 

Pembelajaran yang dilakukan perempuan asal Kecamatan Pule ini membuat anak-anak melek teknologi, bahkan sejumlah ibu yang melihat juga tertarik dengan yang dilakukan. Emak-emak tersebut mulai bertanya tentang aplikasi apa yang digunakan saat mendampingi belajar di rumah, dan lain sebagainya.

 

Menurutnya, respons orang tua seperti inilah yang diharapkan relawan inspiratif dari pelosok Trenggalek tersebut. Bahwa orang tua harus peduli terhadap pemahaman dan perkembangan karena paling lama bersama anak.

 

“Orang tua yang peduli, bukan yang acuh karena sudah membayar guru atau karena anaknya sudah mendapatkan pendamping belajar,” pungkasnya.

 

Kontributor: Marisa Khoirila

Editor: Syaifullah 

PWNU Jatim Harlah