Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

KKN Instika Sumenep Ajak Santri Teladani Perjuangan Masyayikh Annuqayah

KKN Instika Sumenep Ajak Santri Teladani Perjuangan Masyayikh Annuqayah
Refleksi perjuangan masyayikh Annuqayah oleh peserta KKN dari Rumah Instika. (Foto: NOJ/Firdausi)
Refleksi perjuangan masyayikh Annuqayah oleh peserta KKN dari Rumah Instika. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Agustus merupakan bulan yang disakralkan Nahdliyin. Karena di bulan tersebut banyak dari kalangan kiai dan santri ikut berperang melawan penjajah demi tegaknya sang merah putih.

 

Untuk mengenang jejak para syuhada peserta Kuliah Kerja Nyata dari Rumah (KKN-DR) Posko 21 Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-guluk menggelar refleksi perjuangan para masyayikh Annuqayah. Terutama kiprah mereka dalam menegakkan NKRI dan menanamkan ajaran Islam Ahlusunnah wal Jama’ah di masa penjajahan, Jumat (21/8).

 

Kegiatan yang dipusatkan di makbarah KH Abdullah Sajjad dihadiri oleh para santri baru daerah Lubangsa dan turut mengundang Kiai Ahmad Irfan AW sebagai pemantik.

 

Sebelumnya Kiai Irfan sapaannya menjelaskan etika berkunjung ke makbarah syuhada, ulama, dan orang shalih khususnya pemakaman umum.

 

Menurutnya, idealnya para santri harus menjaga sopan santun dan mengucapkan salam seperti halnya ketika beliau masih hidup. Dan dilarang duduk di atas nisan karena kuburan merupakan rumah atau tempat peristirahatannya seperti halnya rumah manusia.

 

" Salamullahi ya syadah minarrahmani maulakum," pimpinnya saat mengungkapkan salam kepada ahli kubur.

 

Dewan masyaikh Pondok Pesantren Al-Furqan daerah Sabajarin tersebut menjelaskan bahwa seluruh masyaikh yang wafat mengimplementasikan secara sungguh-sungguh perihal tauhid, syariat, dan akhlak.

 

"Jika ketiganya dijalankan maka bangsa tidak akan bercerai-berai dan aman dari perang antar sesama anak bangsa," ujarnya.

 

Bahkan saat masih hidup selalu menjaga nilai akhlak, mulai dari hal yang kecil hingga besar. Karena jika disepelekan menyebabkan hal-hal yang besar.

 

Koordinator Bani Syarqawi tersebut menceritakan teladan yang dicontohkan para pendahulunya. Yakni almahumin selalu berbicara lemah lembut kepada siapa pun.

 

"Mengapa demikian? Karena beliau  membiasakannya sejak dini baik di kalangan keluarga maupun saat beliau mengajar dan berhadapan dengan masyarakat," ungkapnya.

 

Tak sampai di situ, akhlak para masyayikh kepada saudara kandungnya sangat baik seperti halnya santri kepada kiai.

 

"Almarhumah Ny Arifah ketika sowan kepada kakaknya almarhum KH Ahmad Basyir selalu melepaskan sandal, mencium tangan kakaknya sambil acabis. Bahkan ketika membawa hantaran beras kepada beliau, pasti berasnya sudah bersih dan siap dimasak," ungkapnya. Kadang pula ketika membawa hantaran buah-buahan pasti sudah dicuci terlebih dahulu, lanjutnya.

 

Dirinya menegaskan bahwa apa yang dilakukan para pendahulu merupakan hal yang sepele tapi di balik itu semua memiliki nilai etika atau akhlak untuk menghormati saudara kandung sendiri.

 

"Ini hal yang mudah tapi selalu diperjuangkan. Wajar selama ini para masyaikh tidak pernah konflik antarsesama saudara atau langgeng," tegasnya.

 

Nilai Aswaja dan Nasionalisme

Peran para masyayikh Annuqayah terhadap masyarakat selalu intens dilakukan. Seperti yang dilakukan oleh KH Abdullah Sajjad dan KH Husain atau menantu KH Muhammad Syarqawi yang membentuk kelompok masyarakat atau kompolan. Hal itu demi mensyiarkan akidah Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

 

"Suatu hari KH Abdullah Sajjad membesuk salah satu masyarakat yang sedang sakit lalu beliau menyuruh santrinya untuk membacakan shalawat burdah sehingga sembuh," katanya. Inilah bukti bahwa doa para pendahulu mudah diijabah oleh Allah swt, lanjutnya.

 

Tenaga pendidik Pondok Pesantren Annuqayah tersebut menegaskan bahwa rata-rata para masyaikh seorang muaddib yang membentuk kepribadian seseorang sehingga berakhlak mulia.

 

Demikian pula, proses pemberdayaan manusia menuju ta'lif atau kedewasaan baik secara akal, mental maupun moral selalu dijalankan agar kelak para santri dan masyarakat atau santri kalong mampu memimpin keluarga, anak-anaknya, dan masyarakat.

 

"Yang kami ingat para masyaikh tidak pintar menyuruh saja melainkan memberi contoh sehingga apa yang beliau katakan mudah diikuti oleh masyarakat," imbuhnya.

 

Putra almaghfurlah KH Abd Adzim Khalid mewanti-wanti kepada santri agar tidak ikut-ikutan terkait ikhtilaf yang beredar di media sosial. Jika demikian maka maka akan berada dalam kolam yang sama.

 

"Ikuti saja kiai Annuqayah karena sanad keilmuannya jelas. Amaliah dan fikrah Aswaja an-Nahdliyah terus pertahankan. Karena dunia tidak akan hancur karena masih ada para dzurriyah Nabi dan ulama," jelasnya. Ruh kehidupan adalah agama yang selalu didengungkan oleh waratsatul anbiya, lanjutnya.

 

Menurut pandangannya, perjuangkan sebagaimana diperjuangkan para masyaikh pendahulu. Seperti sosok KH Abdullah Sajjad yang menjadi garda terdepan saat melawan Belanda walaupun beliau tiada di tangan musuh.

 

"Berkat perjuangan Kiai Sajjad selama 8 bulan Belanda tidak bisa masuk ke Sumenep. Seluruh akses transportasi atau jembatan diputus oleh para Laskar Sabilillah dan Hizbullah agar tank terhambat perjalanannya. Bahkan setiap tentara yang masuk di perbatasan dicegat dengan perlawanan walaupun dipersenjatai yang sekadarnya," kisahnya.

 

Namun akhirnya, perjuangan Kiai Sajjad yang dibantu oleh keponakannya almarhum KH M Khazin Ilyas mampu dipukul mundur oleh Belanda. Sehingga beliau bersembunyi di Karduluk dan Kiai Khazin mengasingkan diri ke Sukerejo yang konon dianggap sakral dan ditakuti Belanda.

 

"Di masa pengasingannya, Kiai Sajjad mendapat sepucuk surat dari kurir Belanda agar kembali ke Guluk-guluk karena kondisinya sudah stabil," kenangnya. Padahal isi surat tersebut bagian dari tipu muslihat Belanda untuk menangkap beliau, lanjutnya.

 

Kedatangan ke pesantren disambut hangat masyarakat dan santri hingga bisa melaksanakan shalat Ashar dan Maghrib berjamaah.

 

"Setelah shalat Maghrib tentara Belanda mengepung Annuqayah hingga akhirnya beliau bersedia menerima undangan Belanda tanpa didampingi oleh para santri, masyarakat, dan laskar," urainya.

 

Di balik siasat curang tersebut kiai Sajjad gugur setelah 3 ledakan senjata menembus dadanya saat melaksanakan shalat sunnah sebagai permintaan terakhir.

 

"Semoga para santri bisa meneladaninya dan mengambil hikmah bahwa para masyaikh Annuqayah memiliki semangat patriotisme dan nasionalisme demi menjaga keutuhan bangsa dan negara. Bagi Annuqayah NKRI harga mati," pungkas dia.

PWNU Jatim Harlah