Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Klan al-Maliki: Keluarga Ulama Makkah Jujugan Ulama Indonesia

Klan al-Maliki: Keluarga Ulama Makkah Jujugan Ulama Indonesia
Dari kiri: Sayyid Abbas, Sayyid Muhammad dan Sayyid Alawi. (Foto: NOJ/ISt)
Dari kiri: Sayyid Abbas, Sayyid Muhammad dan Sayyid Alawi. (Foto: NOJ/ISt)

Hari ini, masuk 15 Ramadan 1442. Tepat 17 tahun silam, menjelang waktu sahur 15 Ramadan 1425 bersamaan dengan 10 Mei 2004, salah satu ulama besar kebanggaan Ahlussunnah wal Jama’ah, Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, wafat.

 

Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut tentang reputasi keilmuan dan akhlaknya. Para santri kinasih senantiasa menceritakan kenangan indahnya bersama sang guru, baik melalui lisan maupun tulisan. Dua serial buku yang ditulis oleh salah satu santri Abuya Sayyid Muhammad, yaitu Habib Musthofa bin Husain al-Jufri, berjudul Kumpulan Kisah-kisah Indah dan Lucu: Petikan dari Ta’lim Mahaguru Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani menjadi kenangan yang asyik atas pribadi Abuya. Yang pasti, kisah indah dan lucu terkait pribadi Abuya mengandung hikmah, juga humor yang cerdas.

 

Misalnya, Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki bercerita pada saat masih menuntut ilmu di Masjidil Haram, terdapat sebuah tulisan yang terpampang di gang-gang menuju Masjidil Haram. Tulisan tersebut berbunyi:

 

من اراد المذهب النفيس.....فعليه بمذهب ابن ادريس

 

Artinya: Barangsiapa yang menginginkan madzhab (fiqih) yang baik, hendaklah dia memilih madzhab Ibn Idris (Imam Syafi'i).

 

Benar, ini promosi yang ditulis oleh seorang santri bermadzhab Syafi'i. Tujuannya tentu agar para santri memilih madzhab Syafii ketimbang madzhab lain, maupun berguru di halaqah ulama Syafi'iyah. Melihat fenomena ini Abuya berkata seraya bercanda: Pasti penulisnya orang Indonesia.

 

Rupaya para santri yang bermadzhab Maliki tidak sreg dengan tulisan di sebuah papan tersebut. Dengan cerdik mereka membuat sebuah ‘plang tandingan’ yang ditaruh di papan yang pro-Madzhab Syafiiyah. Plang ini bertuliskan:

 

<كيف لا يكون ذالك....وشيخه الامام المالك؟

 

Artinya: Bagaimana Ibn Idris (Imam Syafi'i) tidak akan menjadi seperti itu, sementara gurunya adalah Imam Malik?

 

Cerdas dan menggelitik, bukan?

 

Di Makkah, memang ada beberapa keluarga ulama yang memiliki ikatan emosional dengan jaringan santri asal Asia Tenggara. Yang paling kondang, tentu saja trah al-Maliki, asal keluarga Abuya. Sejak buyut hingga cicit, keluarga ini menjadi jujugan para pelajar Indonesia. Sayyid Abbas, buyut; Sayyid Alawi, kakek; Sayyid Muhammad, anak; dan Sayyid Ahmad, cicit. Keluarga ulama yang menjaga kemurnian aqidah dan amaliah Aswaja di tanah Makkah. Ketika masih tinggal di Misfalah, maupun pindah ke Rushaifah, magnet keilmuan keluarga ini tetap mencorong. Selain mengasuh banyak santri asal Indonesia, keluarga al-Maliki juga menerima kunjungan jamaah haji maupun umrah.

 

Bagi saya, keluarga Al-Maliki telah menjadi salah satu pilar terpenting Ahlussunah wal Jama’ah di abad XX hingga saat ini dengan beberapa alasan. Pertama, keluarga ini bukan hanya memiliki sanad, melainkan juga nasab, yang bersambung kepada Rasulullah.

 

Kedua, produktivitas karya yang dihasilkan Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki sehingga ikut memperkokoh keilmuan Aswaja, bukan hanya di Makkah, melainkan juga di berbagai belahan negara di dunia. Tak kurang 40 karya tulis yang dihasilkan. Kajiannya juga lintas keilmuan, baik akidah, fiqih, tasawuf, dan sebagainya.

 

Ketiga, jaringan para alumni. Hai'ah Asshafwah al-Malikiyyah, yang merupakan wadah para santri Abuya Sayyid Muhammad dan Sayyid Ahmad al-Maliki, menjadi simpul terpenting dalam penyebaran faham Ahlussunah wal Jama’ah di dunia Islam, khususnya Indonesia. Buku-buku karya Abuya Sayyid Muhammad dikaji oleh para muridnya, dan disebarkan lagi oleh mereka. Pola semacam ini membentuk jejaring khas yang semakin menguat jika meluas. Coba dicek, di kota dan kabupaten di Jawa dan Madura, hampir bisa dipastikan ada salah satu santri Abuya Sayyid Muhammad yang mendirikan pondok di situ.

 

Keempat, walaupun bermadzhab Maliki, namun Abuya Sayyid Muhammad dan keluarganya tidak pernah memaksakan kehendak bermadzhab ini kepada para santrinya. Mayoritas para alumni tetap bermadzhab Syafi’i ketika pulang ke Indonesia. Artinya, sejak awal keluarga Al-Maliki menanamkan pendewasaan di dalam bermadzhab dan menjadikannya sebagai sebuah keniscayaan bagi para santri. Toleransi dan sikap dewasa di dalam beragama ini menjadi salah satu ciri khas dari keluarga Al-Maliki ini.

 

Kelima, relasi unik antara bapak dengan anak. Misalnya, KH Ali Imron, Lamongan, dulu berguru kepada Abuya Sayyid Muhammad. Kemudian, putra Kiai Ali, yaitu Gus Alawy Ali Imron, juga berguru kepada Abuya Sayyid Muhammad meski beberapa bulan saja (karena ulama ahli hadits ini wafat), dan kemudian beristifadah kepada Abuya Sayyid Ahmad bin Muhammad Alawi. Contoh lain, antara mertua dan menantu. KH A Sadid Jauhari, Pengasuh Pondok Pesantren Assunniyyah Kencong Jember, mendapatkan menantu bernama KH Sholahuddin Munshif. Keduanya merupakan murid Abuya Sayyid Muhammad.

 

Contoh berikutnya yang lebih spesial, KH Maimoen Zubair berguru kepada Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki. Putra Mbah Moen, yaitu KH Najih Maimoen dan KH Abdur Rouf Maimoen, berguru kepada Sayyid Muhammad, putra Sayyid Alawi. Sedangkan putra bungsu Mbah Moen, yaitu Gus Idror, berguru kepada Sayyid Ahmad, putra Sayyid Muhammad. Komplit, betul! Mbah Moen masih menjumpai tiga generasi terbaik ulama Makkah, dan beristifadah dengan silsilah emas ini.

 

***

Selain keluarga Al-Maliki, ada juga keluarga Al-Yamani yang diwakili oleh Syekh Ismail Zein al-Yamani, dan sekarang kiprahnya dilanjutkan oleh Syekh Muhammad, putranya. Di antara murid Syekh Ismail Zein al-Yamani yang produktif menulis kitab adalah KH Thoifur Ali Wafa, Ambunten, Sumenep. Jaringan murid Syekh Ismail juga menyebar di Indonesia. Syekh Muhammad, putranya, juga sering berkunjung ke berbagai pesantren di Tanah Air.

 

Selain dua keluarga di atas, ada lagi keluarga ulama yang menjadi rujukan dan jujugan pelajar tanah air, khususnya sejak awal abad XX. Di antaranya keluarga Sayyid Muhammad Syatha' Addimyathi. Syaikh Abdus-Syakur, salah seorang ulama asal Surabaya yang menurut Snouck Hurgronje punya reputasi keilmuan setara dengan Syekh Nawawi al-Bantani, menjadi menantunya. KH M Hasyim Asy'ari mengaji kitab al-Hikam Al-Athaiyah kepada Syekh Abdus-Syakur ini.

 

Adapun putra Sayyid Muhammad Syatha', yaitu Sayyid Bakri Syatha, pengarang Hasyiah I'anah al-Thalibin 'ala Fath al-Mu'in yang sangat populer di kalangan pesantren di Nusantara, punya juru tulis keturunan Banjar. Syekh Ali bin Abdullah bin Mahmud bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, inilah yang menurut sebagian pendapat menjadi sekretaris Sayyid Bakri Syatha' manakala menulis masterpiecenya.

 

Demikian kuatnya ikatan emosional keluarga ini dengan jaringan pelajar Nusantara, ketika Syekh Mahfud at-Tarmasi wafat pada 1919, dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga Syatha' Addimyathi ini. Keponakan Sayyid Bakri Syatha', yaitu Sayyid Hamzah Syatha', bahkan hijrah dan berdakwah di Sedan, Rembang, Jawa Tengah.

 

Selain Al-Maliki, Al-Yamani, dan Syatha' Addimyathi, ada juga keluarga Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Mufti Syafi'iyah di Makkah di era 1860-an yang punya sejarah khusus dengan jaringan ulama Nusantara. Kapan-kapan saya ulas, insyaallah.

 

Wallahu a'lam bisshawab.

 

Rijal Mumazziq Z adalah Rektor Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong, Jember dan mahasiswa program doktor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. 

 

F1 Bank Jatim  Syariah 17/9