Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Kopri Harus Responsif Isu Gender dan Perempuan

Kopri Harus Responsif Isu Gender dan Perempuan
Tangkapan layar Sekolah Islam Gender yang diadakan Kopri Rayon 'Penyelemat' Dja'far Saifuddin UIN Malang, Sabtu (20/02/2021). (Foto: NOJ/ Indra Nurdin Hakim).
Tangkapan layar Sekolah Islam Gender yang diadakan Kopri Rayon 'Penyelemat' Dja'far Saifuddin UIN Malang, Sabtu (20/02/2021). (Foto: NOJ/ Indra Nurdin Hakim).

Malang, NU Online Jatim

Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) Rayon 'Penyelamat' Dja'far Saifuddin Fakultas Kedokteran Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan Sekolah Islam dan Gender (SIG), Sabtu (20/02/2021). kegiatan ini mengusung tema 'Revitalisasi Kehidupan Organisasi dengan Paham Gender'.

 

Kegiatan yang diselenggarakan secara virtual ini menghadirkan tiga pemateri. Yakni Naila Kamaliya, Jamilah, dan Aminatuz Zahroh.

 

Meylia Mega Prastiwi selaku Ketua Kopri PMII Rayon "Penyelamat" Dja'far Saifuddin mengatakan, urgensi dari diadakannya SIG ini adalah untuk memberi pemahaman bahwa SIG merupakan proses kaderisasi formal di tubuh Kopri. Kegiatan ini memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas keadilan gender agar lebih seimbang.

 

Selain itu agar bisa saling belajar tentang perempuan dalam menjaga dan merespon hal-hal yang berkaitan dengan isu-isu perempuan di masa kini dalam berbagai bidang atau bisa diistilahkan women support women.

 

"Harapannya dengan diadakannya SIG ini dapat menjadi bekal untuk para kader supaya lebih responsif kedepannya mengenai isu-isu gender dan bisa menanamkan keyakinan bahwa tidak ada jenis kelamin yang membedakan. Baik perempuan ataupun laki-laki dalam berproses lebih baik, karena semua sama-sama memiliki peran pentingnya masing-masing," ujar Mega sapaan akrabnya.

 

Lebih lanjut ia menuturkan, teknologi dan sains terus berkembang dan maju ke arah kemajuan. Oleh karena itu, di era global ini perempuan dituntut untuk juga bekiprah dan maju.

 

Menurutnya, suatu negara baru bisa disebut maju jika para perempuannya berpikir maju. Malah, suatu negara tidak akan bisa menjadi negara maju jika perempuan tak mau berkembang. “Jadi, perempuan menjadi indikator utama dalam memajukan suatu bangsa,” tutur Dia.

 

Mega menjelaskan, baik perempuan maupun laki-laki harus berjalan beriringan. Tempat perempuan bukan di belakang laki-laki, melainkan melebihi sejajar. Istilah yang mengatakan bahwa hebatnya ada di balik seorang laki-laki-laki yang benar.

 

 

Sebab, perempuan seharusnya berdiri sejajar di samping laki-laki, bukan di belakang. “Bukan seorang laki-laki yang hebat di belakangnya ada perempuan hebat, perempuan tidak setuju kalau di belakang posisinya, harus di samping,” tandas Mega.

 

Penulis: Indra Nurdin Hakim

Editor: Romza

Iklan promosi NU Online Jatim