Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Kunjungan Pesantren, MWCNU di Sumenep Ajak Santri Damaikan Perselisihan

Kunjungan Pesantren, MWCNU di Sumenep Ajak Santri Damaikan Perselisihan
Roadshow MWCNU Pragaan di LPI Nurul Jali, Prang Alas, Pakamban Daya, Selasa (13/10/ 2020). (Foto : NOJ/ Firdausi).
Roadshow MWCNU Pragaan di LPI Nurul Jali, Prang Alas, Pakamban Daya, Selasa (13/10/ 2020). (Foto : NOJ/ Firdausi).

Sumenep, NU Online Jatim

Dalam rangka memeriahkan Hari Santri tahun 2020, nahdliyin memberikan berbagai warna dalam memeriahkan kegiatan tahunan tersebut.

 

Seperti kegiatan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan, Kabupaten Sumenep yang mengemas acara  hari santri dengan bentuk Rihlah Kajian Kesantrian di setiap Pesantren dan Lembaga Pendidikan Islam (LPI) se-Kecamatan Pragaan. Kali ini yang disapa adalah LPI Nurul Jali, Prang Alas, Pakamban Daya, Selasa (13/10/ 2020).

 

Moh Qudsi mengutarakan bahwa kegiatan ini merupakan sinergitas antara tiga lembaga. Yakni Lembaga Pendidikan Ma'arif (LP Ma'arif NU), Lembaga Dakwah (LDNU), dan Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI NU). Juga Badan Otonom NU yang ikut andil dalam menyukseskan acara tersebut.

 

Sekretaris LP Ma'arif MWCNU Pragaan tersebut menjelaskan bahwa maksud dan tujuan kegiatan ini untuk menjalalin konsolidasi antara MWCNU dengan LPI Nurul Jali.

 

"Pengenalan dasar Ke-NU-an kepada santri adalah bekal awal kepada mereka sebagai kader NU di masa mendatang," ujarnya. Setelah kegiatan usai, pihak madrasah bisa mendirikan Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) sebagai ganti OSIS, imbuhnya.

 

Kajian Kesantrian

Saat kajian berlangsung, KH Asy'ari Khatib yang didaulat sebagai narasumber menceritakan bahwa NU didirikan oleh Hadaratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari pada tahun 1926 atas perintah sang guru, yakni Syaikhana Chalil Bangkalan.

 

Wakil Ketua MWCNU Pragaan tersebut mengajak kepada seluruh santri untuk menjadi juru damai ditengah-tengah konflik antar anak bangsa.

 

"Santri harus menjadi penengah dari beragam problem seperti halnya lembaga Ishlahu Dzatilbain yang dirintis tahun 1938 saat Muktamar NU ke-XIII di Banten," pintanya.

 

Selanjutnya, dari beragam konflik mestinya santri menghindari perselisihan. Karena NU berpegang pada prinsip mempertahankan warisan lama yang baik dan mengambil perkembangan baru yang lebih baik.

 

" Dar'ul mafasid muqaddamun ala jalbil mashalih atau mencegah kerusakan lebih didahulukan ketimbang mencari kemaslahatan," ungkapnya.

 

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk tersebut berpesan bahwa santri harus bisa mempertahankan identitas dirinya. Karena dari dulu kaum sarungan bersikukuh menjaga identitas kebangsaan dan tradisinya.

 

"Para kiai dan santri tidak mudah dibelandakan atau dijinakkan oleh siapapun. Karena santri hanya setia pada ulama demi menjaga jangkar kebangsaan," pungkasnya. 

 

Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran asatidz dan santri. Kemudian dibuka dengan pembacaan surat Al-Fatihah dan shalawat Nariyah sebanyak 11 kali, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Syubbanul Wathan, lalu diparipurnai dengan doa.

 

Editor: Romza

Iklan promosi NU Online Jatim