Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

LDNU Sumenep Pertegas Model Dakwah Islam Moderat

LDNU Sumenep Pertegas Model Dakwah Islam Moderat
LDNU Sumenep saat rapat di kantor PCNU kota setempat, Jumat (13/11/2020). (Foto: NOJ/ Ibnu Abbas).
LDNU Sumenep saat rapat di kantor PCNU kota setempat, Jumat (13/11/2020). (Foto: NOJ/ Ibnu Abbas).

Sumenep, NU Online Jatim

Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumenep memang sedang menyelesaikan pembentukan pengurus baru. Namun, mereka sudah berkomitmen untuk mempertegas jalan dakwah yang akan diperkuat kedepannya, yakni moderasi keislaman. Pemahaman ini disampaikan saat rapat pembentukan pengurus LDNU di kantor Pengurus Cabang NU Sumenep, Jumat (13/11/2020).

 

Ketua LDNU Sumenep K Imam Sutaji saat memimpin rapat  mengatakan, fenomena pemahaman agama saat ini semakin rigit dan kaku. Ekspresi keagamaan nusantara semakin digeser ke corak Islam timur tengah yang kaku dan formalistik.

 

"Agama yang mudah mulai dianggap berat. Sisi lainnya agama malah disepelekan. Posisi Islam yang moderat mulai digeser ke kanan atau ke kiri," ujarnya.

 

Hal senada juga dikatakan Wakil Ketua LDNU Sumenep, KH Ahmad Madzkur Abdul Wasik bahwa dakwah model NU yang dinamis sudah sesuai kebutuhan masyarakat dan tantangan zaman.

 

"Dakwah hari ini butuh ahli organisasi dan digitalisasi. Harus jelas apa yang akan kita branding dan apa yang akan kita lawan. Ingat lawan NU ahli propaganda media. Digital harus dilawan dengan digital," katanya.

 

Pengasuh PP Annajah Karduluk Kecamatan Pragaan ini memperjelas tugas LDNU yakni menegakkan Islam moderat. Menurutnya sifat Islam memang sudah moderat. "Sifat islam itu memang moderat atau wasathiyyah, tak perlu lagi diberi embel-embel moderat, liberal atau radikal agar tak melahirkan ragam tafsir," ujar alumni timur tengah ini.

 

Madzkur menambahkan, Islam yang turun dari langit ini kalau sudah sampai di masyarakat maka harus melebur dan sinergis dengan budaya. Sepanjang budayanya bisa diwarnai dengan warna Islam.

 

Kesalahan sebagian orang, tambahnya, tidak mampu membedakan antara Islam dan pemikiran Islam. Klaim tafsir yang melahirkan corak warna keislaman yang berbeda oleh mereka diluar NU dibelokkan seolah-olah tafsirnya hanya satu, dan yang punya tafsir lain dinggap sesat.

 

"Klaim kebenaran dengan hanya dirinya saja yang benar  sesungguhnya ia sedang menjadi Tuhan di masyarakat. Memposisikan dirinya sebagai wakil tuhan di bumi. Ia sedang   mencaplok otoritas Tuhan di bumi," ulasnya.

 

Kebaikan itu, kata Kiai Madzkur, bergerak bebas. Tidak perlu pesan agama pada ayat-ayat dzanni yang universal diklaim kepada kebenaran kelompoknya sendiri. "Penghakiman sepihak dan tunggal semacam itu yang mengganggu sifat moderasi keislaman, dan pada titik tertentu akan melahirkan konflik antar kelompok, suku dan agama," lanjutnya.

 


 

Lain dari pada itu, ia juga menilai, berbagai ekspresi kemarahan atas nama agama pada setiap peristiwa kebangsaan hanyalah retorika normatif. Patut diduga sebenarnya mereka sedang merancang rencana besar menghancurkan bangunan bernama NU yang istiqamah dengan Islam moderat.

 

"Hiruk pikuk benturan peristiwa di masyarakat itu hanya riak-riak kecil. Design besarnya yang disasar adalah kehancuran NU itu sendiri. Karenanya harus dilawan. Jangan diam," pungkas Kiai Madzkur.

 

Penulis: Ibnu Abbas

Editor: Romza

F1 Promosi Iklan