Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

LPBINU Malang Adakan Pelatihan Relawan Antisipasi Bencana di Sekolah dan Pesantren

LPBINU Malang Adakan Pelatihan Relawan Antisipasi Bencana di Sekolah dan Pesantren
Pembukaan pelatihan yang diadakan LPBINU Kabupaten Malang. (Foto: NOJ/ Moch Miftahur Rizki).
Pembukaan pelatihan yang diadakan LPBINU Kabupaten Malang. (Foto: NOJ/ Moch Miftahur Rizki).

Batu, NU Online Jatim

Pengurus Cabang (PC) Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Kabuapaten Malang mengadakan Pelatihan Fasilitasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Kegiatan ini dilaksanakan di Pagupon Camp Coban Talun Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu selama dua hari, Senin-Selasa (11-12/01/2021).

 

 "Dalam kegiatan ini kami tetap menerapkan protokol kesehatan yang ada dan juga kami menginstruksikan seluruh peserta untuk melakukan pemeriksaan Rapid Antigen Covid-19. Alhamdulillah hasilnya negatif semua. Dalam kegiatan ini juga kami melatih 40 peserta dengan rincian 20 dari satuan pendidikan SMA sederajat dan pondok pesantren dan 20 peserta dari LPBINU sendiri. Jadi nanti harapannya setelah selesai pelatihan, mereka menerapkan SPAB didampingi oleh relawan sebagai fasilitator," kata Rurid Rudianto, Ketua PC LPBINU Kabupaten Malang.

 

SPAB ini dilaksanakan dengan 3 materi pokok. Pertama, materi tentang kerangka kebijakan SPAB oleh Hikmah Bafaqih Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur.  Materi kedua tentang kajian risiko bencana di sekolah dan lingkungan sekolah oleh Suud dari FPRB Universitas Islam Raden Rahmat Malang (UNIRA). Ketiga, materi tentang kerangka penerapan SPAB oleh Sadono dari Badan Penanggulangan Bendana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang.

 

Secara geografis Kabupaten Malang mempunyai wilayah yang amat luas. Letak antar wilayah yang ada membutuhkan waktu yang cukup lama hingga 3 jam lebih. Mulai dari ujung utara yakni Lawang, ujung timur yakni Poncokusumo dan Ampelgading, ujung selatan di Sumbermanjing, dan ujung barat yakni Kasembon.

 

"Kalau terjadi bencana dan kita hanya menunggu dari Kepanjen atau yang notabede Pusat Kabupaten Malang maka akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Dan kebencanaan seharusnya harus kita tangani dengan cepat dan tepat," ungkap Rurid.

 

Ia juga mengingatkan terkait Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Malang Raya yang disebabkan bencana Pandemi Covid-19.

 

“Nah, kita sebagai warga NU kalau tidak mau terjebak di dalam persoalan-persoalan itu harus menjadi bagian solusi. Artinya bahwa dengan banyaknya ancaman Covid-19, ancaman bencana-bencana ideologi, justru disitulah kemudian pentingnya kita membangun kapasitas. Jadi, kita itu harus menjadi bagian dari solusi bahwa setelah mendapatkan peningkatan kapasitas harapannya mereka nanti bisa sosialisasi di lingkungan masing-masing bahwa untuk mencegah Covid-19 misalnya upaya membangun protokol kesehatan dan juga menjaga imunitas tubuh," jelas Rurid.

 

Ia berharap, kegiatan ini bisa memberi manfaat untuk sekolah maupun pesantren dengan memahami risiko bencana yang ada di lingkungannya masing-masing. Sebab setiap sekolah berbeda karakteristiknya.

 

 

“Nah, harapannya kalau ini bisa menjamin keamanan maka pendidikan ini bisa terselenggara tanpa ada rasa was-was. Karena pendidikan ini kan sebetulnya layanan dasar yang harus dipenuhi oleh pemerintah. Jadi walaupun terjadi bencana, pendidikan tidak boleh terhenti. Kemudian tanggung jawab pendidikan aman bencana ini tidak hanya oleh pemerintah tapi harapannya seluruh elemen yang ada di sekolah itu juga bisa mengambil peran," pungkas Rurid.

 

Penulis: Moch Miftachur Rizki

Editor: Romza

PWNU Jatim Harlah