Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Madumongso, Camilan Lebaran yang Disukai Sejak Mataram Kuno

Madumongso, Camilan Lebaran yang Disukai Sejak Mataram Kuno
Madumongso yang disuguhkan warga di Kabupaten Pacitan saat Lebaran. (Foto: NOJ/RM)
Madumongso yang disuguhkan warga di Kabupaten Pacitan saat Lebaran. (Foto: NOJ/RM)

Pacitan, NU Online Jatim

Madumongso adalah salah satu camilan yang tak pernah absen saat Hari Raya Idul Fitri, terutama di Jawa. Di Kabupaten Pacitan, misalnya, kudapan yang konon sudah ada sejak masa Kerajaan Mataram Kuno itu selalu terlihat dalam suguhan rumah-rumah warga ketika Idul Fitri, juga di Idul Fitri 1442 Hijriyah tahun ini.

 

Mengutip Wikipedia, madumongso terbuat dari ketan hitam sebagai bahan dasarnya. Rasanya asam bercampur manis karena ketan hitam sebelumnya diolah dahulu menjadi tapai (melalui proses fermentasi). Setelah jadi kemudian diolah lagi dengan menambahkan gula, santan, dan beberapa buah nanas sebelum kemudian dimasak hingga menjadi seperti dodol/jenang. Madumongso biasanya dibungkus kertas minyak yang berwarna-warni.

 

Menukil dari cerita Hendri, pemilik dan pembuat madumongso sejak tahun 1985 di Rejowinangun, Kabupaten Blitar, dosen Universitas Widyagama Malang, Sukamto Suparno dalam Jenang Madumongso, Ada Sejak Mataram Kuno di Kompasiana, bahwa jajanan madumongso sudah ada sejak zaman Mataram Kuno. Bahkan, sudah ada sejak masa pemerintahan Raja Raden Wijaya.

 

Saat itu, madumongso dan jenang ketan adalah makanan elite bagi para Raja dan punggawa kerajaan pada masa itu, karena terbuat dari ketan yang mana tanaman tersebut adalah tanaman yang dianggap masih langka dan mahal. Madumongso dan Jenang ketan selain untuk makanan Keraton juga digunakan untuk acara-acara ritual kerajaan.

 

Kendati mulai luntur diganti camilan dan kue kemasan kekinian yang mudah didapat, saat ini masih banyak warga di Jawa yang menyuguhkan madumongso di momen-momen istimewa seperti Hari Raya Idul Fitri. Saat Lebaran, Madumongso bisa ditemukan di Ngawi, Magetan, Madiun, Ponorogo, Pacitan, dan daerah lain di Jawa dan Madura.

 

“Anak-anak suka karena rasanya yang manis, orang tua pun bisa ikut menikmati karena madumongso ini teksturnya lunak,” kata warga Tumpak Ampel, Sudimoro, Kabupaten Pacitan, Dewi Zulaikhah, kepada NU Online Jatim, Ahad (16/05/2021).

 

Ia mengungkapkan, peminat madumongso semakin bertambah meskipun saat ini sudah banyak produk-produk impor yang hadir. Hal ini dikarenakan teknik membuatnya yang lebih mudah daripada jenang tradisional pada umumnya.

 

Sama dengan dulu-dulu, madumongso dibuat dari ketan hitam terlebih dahulu dibuat tapai. Setelah itu, ditambahkan gula dan santan, kemudian diolah hingga menghasilkan tekstur serupa dodol/ jenang. Madumongso yang baik memiliki tekstur yang tidak terlalu lunak dan tidak keras atau nglethis dalam istilah Jawa.

 

Madumongso juga bagus untuk kesehatan. Ketan hitam kaya akan antioksidan, senyawa bioaktif dan sumber karbohidrat. Proses produksi yang jauh dari bahan kimia sintetik seperti pemanis buatan, penyedap dan pengawet. Dengan pengolahan yang apik, madumongso dapat bertahan lebih dari tiga bulan.

 

“Meskipun tanpa pengawet, madumongso ini tidak gampang basi. Kalau prosesnya benar, lebih lama akan semakin enak rasanya. Bahkan bisa bertahan lebih dari tiga bulan,” pungkas Dewi.

 

Editor: Nur Faishal


Editor:
F1 Bank Jatim