Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Makna Mendalam Tajin Sappar di Bulan Safar

Makna Mendalam Tajin Sappar di Bulan Safar
Tajin Sappar khas bulan Safar siap diantar ke keluarga dan tetangga. (Foto: NOJ/eMadura)
Tajin Sappar khas bulan Safar siap diantar ke keluarga dan tetangga. (Foto: NOJ/eMadura)

Dalam menyambut bulan Safar, masyarakat khususnya di Jawa dan Madura biasanya mempunyai tradisi membagikan Tajin Sappar kepada famili dan tetangga. Kebiasaan itu masih lestari. Tajin atau jenang dimaksud berwarna merah atau coklat muda dan warna putih di tengah dengan bertabur bubur padat seukuran kelereng. Bubur terbuat dari tepung, air gula merah dan santan. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan tradisi ini. Menurut beberapa catatan, penggagas pertama kudapan khas tersebut adalah Sunan Kalijaga. 

 

Tajin Sappar bermanfaat meningkatkan nilai sosial di dalamnya, yaitu menyambung silaturahim karena tidak semata dinikmati secara pribadi, juga dibagikan kepada tetangga dan keluarga dekat. Seperti diketahui, tradisi silaturahmi sangatlah penting, apalagi dengan berbagi makanan.

 

Dalam Surat Muhammad ayat 22 hingga 23 dijelaskan:


فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ. أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْ.

 

Artinya: Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah; lalu dibuat tuli (pendengarannya) dan dibutakan penglihatannya.

 

Redaksi tersebut sudah jelas sekali bahwa orang yang memutus hubungan kekeluargaan mendapat kutukan dari Allah. Maka sambunglah silaturahmi dengan cara merekatkan hubungan kerabat atau keluarga. Salah satunya adalah dengan mengantar tajin ini.

 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, kemudian dikutip Ibnu Katsir dalam tafsirnya terhadap ayat tersebut: 


قال الإمام احمد، عن عبد الله بن عمرو --يبلغ به النبي صل الله عليه و سلم د-- قال الراحمون يرحمهم الرحمن ، إرحموا اهل الأرض ، يرحمكم اهل السماء، و الرحمن شخنة من الرحمن.  من وصلها وصلته، و من قطعها بتته.

 

Artinya: Orang-orang yang penyayang, Allah yang Maha Rahman akan menyayangi mereka. Maka, berkasih sayanglah kalian terhadap penduduk bumi, maka semua penduduk langit akan mengasihi kalian. Adapun lafadz rahim merupakan bagian  dahan-dahan yang rindang dari nama Allah (ar-Rahman). Barangsiapa yang menyambung silaturahim, maka Aku akan menyambungkannya. Dan barangsaiapa yang memutus silaturahmi, maka Aku akan memutusnya. (Lihat Ibnu Katsir. Tafsir al-Qur’an al-Adzim. Kairo. Maktabah Aulad al-Syeikh li al-Turath. 2000, juz 13, halaman: 76)


Dalam tradisi Tajin Sappar, orang bisa bersilaturahim kepada keluarga dan tetangga, sehingga tidaklah termasuk yang akan dilaknat Allah. Misalnya ketika bulan Safar datang, orang-orang melakukan ater-ater (saling mengantar) tajin, atau berkelompok untuk membuat Tajin Sappar bersama. Yang tidak membuat tajin, entah karena sibuk atau kurang mampu, bisa mendapatkan kiriman dari tetangga maupun keluarga. 

 

Selanjutnya, makna dari tradisi Tajin Sappar juga memupuk umat Islam untuk bersedekah, saling berbagi dari rizki yang lebih. Selain itu mengajarkan kesederhanaan dalam bersedekah, tidak harus dengan uang dalam jumlah besar. Cukup dengan biaya murah (sepertu Tajin Sappar) pun bisa bersedekah kepada orang lain. 

 

Tajin Sappar mempunyai filosofi sangat tinggi. Merah pada bubur melambangkan warna darah seorang ibu. Sedangkan bubur padat seperti kelereng adalah melambangkan bibit atau embrio, sedangkan warna putih di tengah melambang air mani (sperma) dari ayah. Secara garis besar, Tajin Sappar mengingatkan kepada seseorang terhadap asal-muasal manusia, agar tidak sombong dan selalu mengasihi sesama, termasuk makhluk ciptaan Allah. 

 

Maka seperti dalam hadits di atas, barangsiapa mengasihi penduduk bumi, maka seluruh penduduk langit akan turut mengasihi. Semoga dengan adanya tradisi saling berbagi Tajin Sappar ini, seluruh penduduk langit mengasihi manusia, khususnya kaum muslimin. 
 


Editor:
F1 PWNU Jatim