Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Manfaatkan Hari Raya, Ketua NU Pragaan Sumenep Gelar Halal Bihalal

Manfaatkan Hari Raya, Ketua NU Pragaan Sumenep Gelar Halal Bihalal
Halal bihalal di kediaman Ketua MWCNU Pragaan Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)
Halal bihalal di kediaman Ketua MWCNU Pragaan Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Manfaat saat lebaran menjadi hal yang paling banyak dinanti saat hari raya Idul Fitri. Bagi Nahdliyin atau warga Nahdlatul Ulama, silaturahim atau halal bihalal menjadi agenda tahunan yang paling utama dijalankan. Mengunjungi sesepuh dan kerabat, termasuk ziarah ke kuburan menjadi kegiatan tahunan yang selalu dilakukan.

 

Momentum kembali suci saat lebaran dimanfaatkan Nahdliyin untuk saling bermaafan dan menyambung kembali tali silaturahim yang putus. Kesempatan ini pula yang dimanfaatkan Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan Sumenep dengan membuka open house, Kamis (28/5).

 

Seluruh jajaran pengurus teras atau harian MWCNU, sebagian lembaga, dan badan otonom NU ikut andil dalam memeriahkan acara dengan mengikuti anjuran protokol kesehatan.

 

"Kegiatan ini salah satu budaya Islam Nusantara. Karena cikal bakal lahirnya istilah halal bihalal diawali oleh Seokarno saat melakukan syukuran atau silaturahim bersama para pejuang di istana usai kemerdekaan dan lebaran," kata KH A Junaidi Mu'arif, Ketua MWCNU Pragaan.

 

Dirinya melanjutkan cerita bahwa almarhum KH Abdul Wahab Chasbullah mengganti istilah silaturahim menjadi halal bihalal. Dan hal tersebut sebagai hasil ijtihad yang tidak lepas dari kebudayaan yang diwariskan Walisongo.

 

“Khususnya Raden Maulana Makhdum Ibrahim atau Sunan Bonang yang memperkenalkan istilah syawalan kepada masyarakat Jawa dengan memakan kupat yang terbuat dari janur kuning," urainya.

 

Kiai Junaidi menjelaskan bahwa janur kuning bermakna ‘jati ning nur’ atau hati yang bersih. Bahwa syawalan memiliki 4 kondisi, yakni lebar dalm artian puasanya sudah usai; lebur atau dosa diampuni; luber bermakna bertumpahnya pahala; dan labur yakni menjadi bersih.

 

Kiai A Subairi Karim selaku Wakil Ketua MWCNU Pragaan menjelaskan bahwa silaturrahmi juga dapat diisi dengan menyusun gerakan NU usai lebaran di tengah pandemi.

 

"Tak mungkin mengurung diri terus-menerus. Kita harus membantu warga agar ekonominya tetap stabil," ajaknya.

 

Dirinya menegaskan kembali bahwa tradisi NU sejak dulu sering mengadakan acara perkumpulan dengan masyarakat. Dan kegiatan itu tidak lepas dari memperkuat amaliah NU seperti tahlilan, shalawatan, manaqiban, arisan, dan lainnya. 

 

“Namun kali ini kita ajak masyarakat untuk menjaga jarak sosialnya. Karena itu kelaziman hidup baru yang akan diterapkan selama pandemi belum berakhir," ungkapnya.

 

Sekretaris MWCNU Pragaan, K. Hambali Makhtum menjelaskan maksud silaturahim atau halal bihalal tak sekadar menjalin hubungan baik antar sesama Nahdliyin.

 

"Halal bihalal akan memupuk keimanan, bahkan sangat dianjurkan Rasulullah sehingga tak heran begitu banyak manfaat silaturahim yang dirasakan Nahdliyin sehingga kegiatan tahunan ini tak ditinggalkan di masa pandemi,” katanya.

 

Kontributor: Firdausi
Editor: Syaifullah
 

Iklan promosi NU Online Jatim