Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Masa Depan Pesantren Ketika Covid Didiskusikan PMII di Sumenep

Masa Depan Pesantren Ketika Covid Didiskusikan PMII di Sumenep
Halal bi halal virtual PK PMII Guluk-guluk, Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)
Halal bi halal virtual PK PMII Guluk-guluk, Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim
Dampak Covid-19 sejak tiga bulan terakhir, belum dapat dipastikan keluar dari status darurat. Jika masyarakat merasakan dampak penurunan sektor stabilitas ekonomi, maka pesantren pun ikut merasakan dampak. 

 

Pesantren adalah institusi yang paling berat menghadapi dampak Covid-19 karena merupakan tempat berkumpulnya ratusan atau ribuan santri. Menurut kaca mata medis, hal seperti itu memberi peluang terhadap penularan virus. Apalagi sarana dan prasarana, termasuk SDMnya terbatas, terutama di bidang medis.

 

Berangkat dari permasalahan ini Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kecamatan Guluk-guluk menggelar halal bi halal virtual dengan mengangkat tema 'Pesantren dan Covid-19' yang dilakukan melalui live grup WhatsApp, Ahad (31/5).

 

Diskusi menghadirkan Kiai Hazmi Basyir selaku Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Latee dan Mabimkom PMII Guluk-Guluk, Ibnu Abbas sebagai keynote speaker selaku Ketua I pengurus Komisariat PMII Guluk-guluk. Sedangkan sebagai moderator adalah Ahmad Azizi selaku pengurus Rayon Mahbub Djunaidi.

 

"Kami ucapkan minal aidin wal faizin kepada penyaji dan warga pergerakan. Terima kasih kepada seluruh pengurus yang sudi berpartisipasi meskipun dalam keadaan terpisah," kata Moh Faiq selaku Ketua PK PMII Guluk-guluk.

 

Ibnu Abbas selaku keynote speaker memberikan deskripsi bahwa pesantren sebagai lembaga yang konsisten dengan karakternya sendiri. Wajar jika melahirkan generasi bangsa yang memiliki integritas tinggi dalam melawan Covid-19 atau jebolannya banyak yang menjadi relawan.

 

"Sejak tiga bulan terakhir, pesantren tidak ubahnya sebagai kota mati. Pesantren yang tidak pernah absen dengan beragam kegiatannya, kini dicancel oleh pengasuh. Bahkan jadwal liburan Ramadhan dan Idul Fitri, dipercepat di akhir Maret. Saat ini jadwal kembali santri ke pondok tidak diketahui kejelasannya," keluhnya.

 

Ketua I PK PMII Guluk-guluk tersebut menegaskan bahwa kebijakan yang dikeluarkan pengasuh tidak lain ingin mencegah penularan Covid-19 terutama di Annuqayah.

 

"Sebagian pesantren di Madura memperpanjang masa liburan santri. Ini yang kami khawatirkan, karena semakin lama liburan santri, maka bisa mengakibatkan mereka malas dan tidak kerasan atau tidak betah saat kembali ke pondok," ungkap Abbas.

 

Dirinya menegaskan bahwa jika itu terjadi, maka santri tersebut benar-benar terlarut saat masa liburan panjang. Karena itu, new normal yang dikeluarkan pemerintah, mulai melupakan pesantren. 

 

“Harusnya kebijakan tersebut mempedulikan sistem pendidikan pesantren," katanya. Ia memiliki pandangan bahwa protokol yang mengatur pasca pandemi harusnya dicocokkan dengan sistem di pesantren.

 

"Kami setuju dengan pendapatnya Gus Nadhir bahwa tidak mungkin protokol tersebut diterapkan sepenuhnya karena selama 24 jam santri tidak pernah putus dalam berjabat tangan dan berinteraksi," kata pengurus Tawajjuhan Sumenep ini.

 

Dirinya memberikan solusi setelah membaca artikel Kiai Hazmi bahwa santri harus menciptakan protokol sendiri. Pesantren harus memiliki new normal sendiri karena kehidupan santri berbeda dengan lembaga formal yang ada di luar pesantren.

 

Begitu pun Kiai Hazmi Basyir selaku narasumber menyampaikan bahwa saat ini pesantren mengalami kendala. Karena karakteristiknya berbeda jauh dengan lembaga lain. Karena itu, dirinya merumuskan dua hal yang harus dijadikan perhatian pemerintah.

 

"Ada dua yang menjadi perhatian serius bagi khalayak, yaitu saat proses santri kembali ke pondok dan saat santri sudah ada di pondok," urai Mabimkom PMII Guluk-guluk ini.

 

Pertama, saat proses santri kembali ada dua hal yang diperhatikan pemerintah: bagaimana prosedur santri mulai dari pertama menginjakkan kaki di pesantren sesuai dengan protokol kesehatan. Demikian ada panduan yang bisa diadopsi dari Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) seperti penahapan kembali sesuai tingkat pendidikan, namun rapid tes biayanya mahal. Sedangkan penerapan isolasi mandiri tidak menemukan ruang khusus.

 

Yang kedua, saat santri sudah di pondok, yang harus diperhatikan adalah bagaimana protokol jaga jarak dalam ruang yang terbatas. Termasuk ruang kelas bisa diterapkan secara baik.

 

"Kami di sini akan mencari solusi dan masukkan dari audien demi kepentingan pesantren," harapnya.

 

Dirinya menawarkan dua solusi untuk menyikapi permasalahan ini, namun masih belum jelas pemecahannya. Pertama, penerapan protokol kesehatan sesuai standar resmi. 

 

“Masalahnya, apakah merugikan poin satu dan dua di atas diterapkan, jika tidak bisa bagaimana solusinya?” katanya.

 

Kedua, penting juga diformulasikan new normal dengan mempertimbangkan kondisi spesifik, karena pesantren memiliki dua kondisi. Yakni bentuk interaksi massal, maksudnya selalu melibatkan massa yang banyak dan tanpa jeda selama 24 jam. 

 

“Sedangkan pola hidup santri yang masih kurang memperhatikan cara hidup yang bersih dan sehat," jelasnya.

 

Kontributor: Firdausi

Editor: Syaifullah

Iklan promosi NU Online Jatim