Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Mbah Bisri Menulis Nasihat Mbah Hasyim di Majalah Suara Nahdlatul Ulama

Mbah Bisri Menulis Nasihat Mbah Hasyim di Majalah Suara Nahdlatul Ulama
Lukisan almaghfurlah KH Bisri Syansuri dalam sebuah pameran. (Foto: NOJ/RJ)
Lukisan almaghfurlah KH Bisri Syansuri dalam sebuah pameran. (Foto: NOJ/RJ)

Oleh: Miftakhul Arief*

 

Majalah Suara NU rintisan KH Abdul Wahab Chasbullah (pertama terbit tahun 1346 H/1927 M) tidak hanya memuat informasi penting tentang perkembangan organisasi Nahdlatul Ulama. Di dalamnya juga menjadi wadah bagi para kiai NU generasi awal dalam berdialog serta menuangkan gagasan, dan pemikiran keagamaan. Di majalah yang ditulis dengan huruf Arab pegon ini kita dapat menjumpai sejumlah tulisan para kiai sepuh semisal KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Ahmad Dahlan bin Ahyath, KH Bisri Syansuri, dan para kiai sepuh lain. Sayangnya, tulisan tersebut belum terdokumentasikan dengan baik.

 

Khusus KH Bisri Syansuri, ada dua tulisan pendek yang dinisbatkan kepadanya. Pertama, dimuat di Majalah Suara NU edisi tahun 1346 H yang mengulas tentang persoalan fikih. Kedua, dimuat di Majalah Suara NU edisi tahun 1347 H yang mengulas nasihat sang guru, KH Hasyim Asy’ari, tentang pentingnya mendidik dan membekali putra-putri dengan bekal ilmu. Tulisan kedua inilah yang akan menjadi fokus kajian di sini.  

 

Faqad wasolat ilaina nasihatu syaikhina wa ustadzina wa ro’isina (ro’is Nahdlatil Ulama Surabaya) as-Syaikh Kiyahi Hasyim Tebuireng athalallah baqa’ahu wa zada ‘ulahu (telah sampai kepada kami nasihat guru sekaligus pimpinan kami [Rais Nahdlatul Ulama, Surabaya], yaitu Syaikh Kiai Hasyim Asy’ari, Tebuireng, semoga Allah memanjangkan usianya dan menambahkan kemuliaan padanya), demikian Kiai Bisri mengawali tulisannya.

 

Nasihat KH Hasyim Asy’ari oleh KH Bisri Syansuri ditulis berbahasa Arab sebanyak satu halaman lebih sedikit. Nasihat tersebut lebih ditujukan pada para pembesar (udzama) dan orang-orang yang memiliki kedudukan mulia (asyraf) di masyarakat. Isi nasihat tersebut adalah: "ad‘ukum ila kitabillahi wa sunnati rasulihi, ad ‘ukum ila-l ‘ilmi wa-d dini wa-l qur’an. Ad‘ukum ila tarbiyati abana’ikum wa tarqiyati syu’unihim wa ‘idadihim li-l hayat al-abadiyah wa-s sa’adah as-sarmadiyah fi-d dunya wa al-akhirah. Ad’ukum ila an-nahdhah wa-l ‘izzah wa-l kamal bi ‘ulum-id din wa al-‘amal biha”.

 

Pada ungkapan di atas, KH Hasyim Asy’ari berpesan: pertama, berpegang teguh pada kitabullah dan sunah rasul-Nya. Kedua, menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, agama (Islam), serta al-Qur’an. Ketiga, mendidik anak-anak serta mengembangkan potensi yang ada pada diri mereka demi meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Keempat, berupaya meraih kemuliaan dan kesempurnaan hidup dengan belajar ilmu agama serta mengamalkannya.

 

Dari pesan di atas, terlihat bahwa KH Hasyim Asy’ari sangat menekankan pentingnya ber-thalabul ilmi, khususnya ilmu agama, dan mengamalkannya. Karena itu, mewanti-wanti agar para orang tua benar-benar memperhatikan urusan pendidikan putra-putri mereka, khususnya ilmu agama. Hal ini bisa dipahami karena kondisi umat Islam kala itu menunjukkan adanya penurunan grafik jumlah santri dari tahun ke tahun. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Kiai Wahab di empat kota (Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang), dalam rentang waktu 40-50 tahun terakhir dari tahun dilakukannya riset (1927), terdapat penurunan jumlah santri dari total 6.875 menjadi 3.993 santri.

 

Hal itu diperkuat oleh keterangan H Muhammad Ihsan yang dimuat di Majalah Suara NU tahun 1347 H/1928 M, bahwa ada tren di kalangan penghulu masjid dan jajaran di bawahnya untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah umum, dan meninggalkan tradisi mondok yang sudah berjalan lama di kalangan mereka.

 

“Poro penghulu masjid inggih puniko penghulu sak bawahipun naliko zaman alit kulo sami alim-alim, sami mucal ing masjid, utawi ing griya-griyanipun. Anak-anakipun sami ngaos ing pondok-pondok. Ananging zaman sak puniko umumipun penghulu anak khatib sami sekolah tho’, mboten sami ngaos." (para penghulu masjid beserta jajaran di bawahnya saat saya masih kecil semuanya alim, dan mengajar di masjid, atau di rumah mereka masing-masing. Anak-anak mereka belajar mengaji di pesantren-pesantren. Akan tetapi, saat ini umumnya penghulu dan anak khatib hanya sekadar sekolah dan tidak mau belajar agama)”, demikian kesaksian H Muhammad Ihsan. 

 

Jadi, seruan KH Hasyim Asy’ari untuk memperhatikan pendidikan putra-putri mereka masing-masing adalah respons atas fenomena merosotnya jumlah santri serta memudarnya minat belajar agama secara khusus, dan kebodohan yang menimpa umat Islam secara umum. Padahal ilmu adalah pondasi kemuliaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. “Anna ta’lim-al qira’ah wa-l kitabah wa ta’lim-al ulum wa-l ‘amal biha huwa-s shirat al-mustaqim wa innahu asas-ul kamal wa-s sa’adah dunyan wa ukhran." (sesungguhnya mengajar –dan juga belajar—baca tulis, serta ilmu-ilmu lainnya, lalu mengamalkannya adalah jalan lurus. Ia merupakan pondasi kesempurnaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat)”, pesan Kiai Hasyim.  

 

Selain itu, Rois Akbar NU tersebut berpesan agar para orang tua membiayai pendidikan putra-putri mereka. Para orang tua tidak perlu takut jatuh miskin. Sebab, nafkah yang dikeluarkan untuk biaya pendidikan anak adalah termasuk berinfak di jalan Allah. Harta yang dikeluarkan di jalan Allah, kata Kiai Hasyim, akan diganti sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat.

 

Di bagian akhir, setelah ucapan salam penutup, terdapat keterangan: “Katabahu al-faqir Bisri bin Syansuri Denanyar Jombang” (ditulis oleh al-faqir Bisri bin Syansuri, Denanyar, Jombang). Hal ini menunjukkan secara meyakinkan bahwa nasihat KH Hasyim Asy’ari tersebut ditulis oleh KH Bisri Syansuri yang tak lain adalah ipar dari KH Abdul Wahab Chasbullah.

 

Adalah peraih gelar doktor di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

Iklan promosi NU Online Jatim