Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Mbah Sikem, Banser yang Berharap Diakui Santri Hadratussyekh

Mbah Sikem, Banser yang Berharap Diakui Santri Hadratussyekh
Mbah Sikem jadi Banser karena ingin diakui sebagai santri Hadratussyekh. (Foto: NOJ/Hafidz Yusuf)
Mbah Sikem jadi Banser karena ingin diakui sebagai santri Hadratussyekh. (Foto: NOJ/Hafidz Yusuf)

Nganjuk, NU Online Jatim
Usia lanjut tak menghalangi semangat Mbah Sikem mengabdi di NU. Anggota Satuan Koordinasi Rayon Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Ngluyu ini merupakan warga asal Desa Gampeng, Kecamatan Ngluyu, Nganjuk. Kampungnya terletak di sebuah lereng bukit, tak jauh dari hutan.

 

Mulai tahun 2019 ia resmi menjadi anggota Banser setelah menempuh Diklat Terpadu Dasar yang diselenggarakan Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Nganjuk. Sejak itulah pria 70 tahun ini tidak pernah absen mengikuti acara-acara NU dengan seragam Banser kebanggannya.

 

“Alhamdulillah, nikmat sehat dari Allah ini saya gunakan untuk berkhidmat,” katanya kepada NU Online Jatim, Ahad (12/09/2021).

 

Mbah Sikem hidup seorang diri, anak istrinya sudah lama tak tinggal bersamanya. Sehari-hari bekerja sebagai petani dan pencari kayu bakar sembari sesekali  mencari madu dari tawon liar di hutan. Semua dilakukan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

 

Warga di Kecamatan Ngluyu sudah mengerti betul siapa Mbah Sikem. Dia bukan pejabat ataupun orang terpandang, tetapi dikenal sebagai orang yang ikhlas dan ringan tangan ketika diajak mengaji dan berkegiatan di NU.

 

“Niat saya adalah ingin diakui menjadi santri hadratussyekh KH Moh Hasyim Asy’ari pendiri NU,” jelasnya sambil tersenyum.

 

Mbah Sikem merupakan sosok tangguh, setiap mendengar ada acara NU selalu datang paling awal dan pulang terakhir. Karena tidak memiliki kendaraan, Mbah Sikem rela berjalan kaki menempuh belasan kilometer untuk menjadi pasukan tangguh pengaman kiai.

 

Ia tak malu menjadi Banser, justru bangga. Sahabat Banser Ngluyu sudah sangat paham Mbah Sikem, tak jarang mereka menjemput dan mengantarnya pulang secara bergantian.
 

 

“Saya senang jadi anggota Banser karena banyak temannya dan saya merasa muda kembali,” tuturnya sembari tertawa.

 

Disampaikan, setiap Sabtu ia rutin berkunjung ke Pondok Pesantren Baitul Qanaah asuhan Kiai Syamsul Hadi Pace, Nganjuk untuk mengaji dan menambah wawasan agama. Rupanya dari situlah dirinya menjadi semangat berjuang dan mengabdi kepada NU.  

 

Penulis: Hafidz Yusuf
Editor: Syaifullah


Editor:
F1 PWNU Jatim