Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Melihat dari Dekat Situs Bersejarah Penyebaran Islam di Ponorogo

Melihat dari Dekat Situs Bersejarah Penyebaran Islam di Ponorogo
Bale Batur, situs bersejarah bupati pertama Ponorogo dalam menyebarkan Islam. (Foto: NOJ/Yoga) 
Bale Batur, situs bersejarah bupati pertama Ponorogo dalam menyebarkan Islam. (Foto: NOJ/Yoga) 

Ponorogo, NU Online Jatim
Bagi warga Nahdlatul Ulama atau Nahdiyin bahwa amaliah ziarah tentunya sudah menjadi sesuatu yang sangat biasa dilakukan. Di Ponorogo, sebagian besar pasti sudah pernah mengunjungi Bale Batur dan Kucur Betoro. Dua tempat sakral tersebut merupakan situs bersejarah bupati pertama Ponorogo, Kanjeng Raden Batoro Khatong dalam menyebarkan Islam. 

 

Bale Batur terletak 2 kilo meter di sebelah barat Telaga Ngebel atau masyarakat menyebutnya pasar pagi Bale Batur. Sedangkan kucur Betoro terletak 200 meter di sebelah timur Dermaga Telaga.

 

"Bale Batur setiap malam Jumat legi selalu digunakan untuk yasinan oleh warga sekitar maupun dari luar kota," kata Mujiono selaku Kepala Desa Ngebel saat ditemui NU Online Jatim, beberapa waktu berselang.

 

Balai yang memiliki enam soko atau tiang penyangga ini, lanjutnya dulu sering digunakan untuk konsolidasi ataupun rapat pertemuan dengan para pemuka agama ataupun tokoh masyarakat oleh Kanjeng Khatong. 

 

"Bale artinya balik, Batur artinya teman, tempat kembalinya teman-teman dalam bermusyawarah untuk penyebaran Islam," paparnya. 

 

Kemudian yang menarik dari Bale Batur, berdampingan dengan makam Nyai Latung yang konon berhubungan dengan sejarah kejadian Telaga Ngebel. Lalu di antara Balai Batur dan makam Nyai Latung digunakan untuk pasar.

 

"Jadi sehabis selametan, di Balai warga biasa berbagi dengan para pedagang pasar," jelas Mujiono.

 

Sementara itu, Darno selaku kuncen Bale Batur dan Makam Nyai Latung mengisahkan bawasanya dulu sebelum ada Telaga Ngebel ada orang yang mengadakan pesta pernikahan. Selanjutnya tiba-tiba ada anak kecil dengan rupa burtuk meminta makanan, namun oleh orang yang memiliki hajat tidak diberi. 

 

"Singkat cerita, anak itu menancapkan batang lidi dan mengadakan sayembara untuk mencabut lidi itu. Namun satu pun tidak ada yang bisa mencabut," kata Mbah Darno. 

 

Lalu atas kejadian tersebut, Nyai Latung meminta kepada anak kecil itu untuk membuat perahu jika lidi sudah dicabut dan mengeluarkan air. 

 

"Konon sampailah di sini," urainya. 

 

Yang juga istimewa adalah Kucur Betoro yang terletak di samping Telaga Ngebel atau tepatnya di sebelah timur dermaga Telaga Ngebel. Wino selaku relawan penjaga menceritakan bawasanya dulu kucur itu digunakan untuk bersuci (berwudhu) Raden Khatong dan menyucikan para mualaf. 

 

"Tabarukan, untuk adat sendiri digunakan untuk jamas oleh penganut kejawen. Jadi semua bisa bersuci di sini," terangnya. 

 

Wino menambahkan tidak jarang warga dari kota lain dan warga lokal yang tabarukan di Kucur Betoro. Bahkan mereka ada yang membawa jurigen untuk membawa air bersih dari sumber mata air tersebut. 

 

"Di sini ada kamar gantinya. Jadi, kalau ingin berendam juga bisa," pungkasnya.

 

Kontributor: Yoga
Editor: Syaifullah
 

Iklan promosi NU Online Jatim