Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Melihat Tradisi Berbagi Makanan Siap Santap di Probolinggo

Melihat Tradisi Berbagi Makanan Siap Santap di Probolinggo
Tradisi Ter-ater warga kawasan Tapal Kuda. (Foto: Antara)
Tradisi Ter-ater warga kawasan Tapal Kuda. (Foto: Antara)

Probolinggo, NU Online Jatim

Menjelang hari raya Idul Fitri, pastinya tidak lepas dari makanan khas seperti ketupat, lontong, leppet, dan lain-lain. Dan di momen spesial ini, ada tradisi berbagi makanan siap santap tersebut kepada warga sekitar, khususnya yang dituakan.

 

Hampir sama dengan sejumlah kawasan di daerah tapal kuda, warga di Probolinggo menyebut tradisi berkirim makanan tersebut dengan 'Ter-ater'. Hanya saja, yang diprioritaskan adalah tetangga terdekat.

 

Salah satunya adalah Ratna, Warga Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan yang setiap tahun melaksanakan tradisi ter-ater tersebut. Ditinjau dari segi maknanya, ter-ater berasal dari kata bahasa Indonesia  'antar' yang berarti mengantar makanan.

 

Tradisi ini sudah menjamur bagi masyarakat Probolinggo. Menjelang malam takbir, jika masakannya sudah matang di atas tungku, seperti ketupat, opor ayam, dan lontong, maka akan segera mengantarkan ke tetangga.

 

Kadang bukan hanya ke tetangga atau saudara, melainkan tradisi ter-ater juga di peruntukan untuk masyarakat yang kurang mampu, meskipun bukan saudara. Dan hal tersebut sudah jamak di kawasan ini.

 

Tradisi ini kerap kali dilakukan setiap kepala keluarga yang mana ter-ater makanan atas dasar keikhlasan dan menyambung tali silaturahmi. Mereka juga tidak memiliki standar atau batasan harga makanan, selama dianggap pantas maka akan dibungkus.

 

Kebiasaan rutin ter-ater ini tidak hanya dilakukan menjelang malam takbir, tetapi juga setelah shalat Idul Fitri. Uniknya lagi, saat ter-ater kadang juga dibalas penerima makanan dengan makanan khas tuan rumah.

 

Kadang tidak membalas dengan makanan serupa, melainkan dibalas dengan makanan ringan. Dari mulai camilan toko dan makanan khas seperti srabi, yakni apem yang terbuat dari tepung beras dan kelapa.

 

"Meskipun terdapat beberapa perbedaan tradisi dengan kabupaten lain, namun hal ini tidak mengurangi esensi atau nilai dari tradisi. Malahan tradisi ini sangat cukup bernilai baik, karena bisa mengeratkan tali silaturahmi dengan saudara dan tetangga," pungkasnya.

 

Editor: A. Habiburrahman

Bank Jatim (31/7)