Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Meneladani Kiprah KH Moh Amir Ilyas, Pengasuh Pesantren Annuqayah

Meneladani Kiprah KH Moh Amir Ilyas, Pengasuh Pesantren Annuqayah
KH Moh Amir bin Moh Ilyas bin Moh Assyarqowy. (Foto: NOJ)
KH Moh Amir bin Moh Ilyas bin Moh Assyarqowy. (Foto: NOJ)

Oleh: KH Muhammad Muhsin


Almarhum Hadratussyekh KH Moh Amir bin Moh Ilyas bin Moh Assyarqowy bin Shodiq Romo dilahirkan pada 1925 M di Desa Guluk-guluk, Kabupaten Sumenep, tepatnya Dusun Lubangsa atau di area Pondok Pesantren Annuqayah. Ibunya adalah Nyai ‘Arfiyah binti Zainuddin asal Desa Kembang Kuning, Pamekasan.

 

Jenjang pendidikannya berlangsung sebelum kemerdekaan. Saat itu lembaga pendidikan atau sekolah formal, seperti muallimin dan diniyah masih sangat terbatas. Sistem pendidikan berbentuk tradisonal atau dikenal dengan sebutan salafiyah, seperti pengajian; wetonan dan sorogan yang dilaksanakan di mushala, surau, dan masjid yang dibangun di area lembaga pendidian setempat.

 

Pengembaraan Pengetahuan

Kiai Amir, sapaannya mengawali pengembaraan intelektual dengan belajar membaca al-Quran beserta praktik tajwid kepada KH Moh Ilyas bin KH Moh Assyarqowi yang juga sang ayah di kediamannya, Dusun Lubangsa.

 

Selang kemudian, melanjutkan di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan Hadratussyekh KH Moh Hasyim Asy’ari. Mengenyam pendidikan agama di pesantren tersebut hanya berlangsung kurang lebih empat bulan lamanya. Konon hanya sempat mengaji beberapa lembar kitab Alfiyah dan qawaid fiqhiyah, sehubungan terjadi agresi Belanda pada 1950-an dan demi keselamatan, seluruh santri dipulangkan. Namun sebelum santri meninggalkan Tebuireng, Mbah Hasyim Asy’ari (sapaan lain hadratussyekh) mengumpulkan mereka untuk membaca doa bersama demi keselamatan bangsa. Usai memimpin doa, Moh Amir Ilyas remaja dipanggil Mbah Hasyim dan mengusapkan tangan ke wajahnya sambil mengucapkan amin. Hal tersebut pertanda cinta.

 

Saat agresi Belanda, Moh Amir Ilyas bergabung dalam perjuangan Sabilillah di bawah komando Mbah Hasyim sendiri. Pada saat itulah dirinya ikut berpartisipasi menentang agresi penjajah Belanda. Bahkan menurut salah satu riwayat, Moh Amir Ilyas adalah salah satu pemuda yang ikut melawan agresi Belanda pada 10 Nopember 1966 di Surabaya.

 

Karena carut-marutnya negeri ini pada saat itu, pendidikan formal sangat terbatas jumlahnya dan Moh Amir Ilyas sama sekali tidak pernah mengenyamnya.  Walaupun demikian, kedalaman dan kealiman pengetahuan agama sangat tidak diragukan, karena mengaji langsung (Arab: wajhan bi wajhin) kepada guru dan kiai yang sangat alim dan tawadhu.

 

Di antaranya, ayahnya sendiri dan KH M Hasyim Asy’ari. Sedangkan guru Moh Amir Ilyas di Makkah adalah Annahwi Syekh Dardum Alpalimbany, al-Faqih Syekh Isma’il bin Utsman Azzaien al-Yamani al-Makki, al-Muhaddits Sayid Moh. ‘Alawi al-Maliki, al-Musnid Syekh Yasin Alfadani, dan lain-lain, utamanya di bidang tauhid dan akhlak serta tasawuf yang menjadi materi favorit hingga Moh Amir Ilyas wafat pada Jumat, 19 Januari 1996 M di kediamannya, Guluk-guluk, Sumenep. 

 

Sambil belajar, Kiai Amir juga mengajar santri setelah diserahi amanat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah sepeninggal ayahnya tahun 1959. Semasa hidupnya, Kiai Amir dikenal sangat istikamah dalam beribadah dan disiplin dalam kegiatan belajar-mengajar serta membimbing para santri di pesantren. 

 

Selain aktivis pendidikan, Kiai Amir dipercaya sebagai Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep dan Dewan Syuro Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sumenep tahun 1970-1983. Sosoknya juga dikenal mukasyafah (waliyullah) dan sebagai negarawan yang sangat disiplin. Hal itu dapat diketahui dari kontribusinya sebagai perintis berdirinya Pramuka di Pesantren Annuqayah.

 

Peran Kiai Amir sebagai pengasuh yang jumlahnya ketika itu tidak kurang dari 2000 orang (putra-putri) yang datang dari Jawa Timur maupun luar Jawa. Di samping itu tercatat sebagai guru dan pendiri sekaligus Kepala Madrasah Tsanawiyah Putra tahun 1979 dan menjabat sebagai Kepala MTs Annuqayah Putra hingga penyakit katarak menimpanya pada 1985. Pada tahun ini pula Kiai Amir melaksanakan haji ketiga kalinya bersama istri, yaitu Ny Hj Tsminah binti Jauhari binti Khotib binti Moh Idris asal Desa Prenduan, Pragaan, Sumenep. KH Moh Jauhari Khotib sendiri adalah pendiri Pondok Pesantren Al-Amin, Prenduan Sumenep pada 1952, yang kemudian mengembangkannya bersama dengan menantu Kiai Amir. 

 

Pada 1981, Pesantren Annuqayah mendapatkan penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup berupa Kalpataru dari Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim yang diserahkan langsung kepada Kiai Amir sebagai pengasuh. Dan mulai saat itulah Annuqayah dikenal masyarakat sebagai pesantren besar yang ikut andil dalam berjuang mempertahankan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan ideologinya Pancasila. 

 

Kiprah Perjuangan 
KH Moh Amir Ilyas melangsungkan pernikahan dengan Ny Hj Tsaminah binti Jauhari pada tahun 1950 dan memiliki 4 orang putra dan putri, yaitu KH Ahmad Sa’di Amir (w 2005), Ny Hj Muyassaroh Amir, Ny Hj Habibah Al Husna Amir (w 2018) dan KH Muhammad Muhsin Amir. Semua tinggal bersama di Pondok Pesantren Annuqayah daerah Al-Amir.    

 

Kiai Amir semasa hidupnya dikenal sangat istikamah shalat berjamaah dengan santri yang diasuh secara langsung, karena mayoritas mereka adalah putra dan putri dari keluarga miskin sebanyak kurang lebih 10 orang. Dan Kiai Amir memang tidak menerima santri mondok di kediamannya. Setiap ada yang mau mondok, selalu menyarankan agar ke Annuqayah. Andaikan menerima santri mondok, niscaya Pesantren Annuqayah Daerah Al-Amir terbesar dari daerah lain di Annuqayah, mengingat antusias masyarakat ketika itu sangat besar memondokkan anak-anaknya. Bahkan di antara mereka ada yang bersedia membangunkan masjid dan juga lembaga pendidikan serta asrama santri, jika Kiai Amir berkenan.

 

Pendidikan 10 anak asuhnya ditangani sendiri dalam bentuk pengajian wetonan di mushala yang kini bernama Al-Amir di bawah naungan Yayasan Al-Amir yang didirikan putra bungsunya, KH Muhammad Muhsin Amir pada 1998. Di samping mereka juga belajar di sekolah formal di Annuqayah.

 

Umat Merasa Kehilangan 
KH Moh Amir Ilyas wafat dalam keadaan suci dari hadats (dawamul wudlu) menjadi yang kebiasaannya. Ia wafat ketika sedang mengambil air wudlu di kamar mandi. Peristiwa kewafatannya menggemparkan Sumenep karena almarhum adalah tokoh panutan masyarakat bawah, menengah dan atas. Bahkan para pejabat dari tingkat kepala desa hingga gubernur. 

 

Kegiatan sehari-hari Kiai Amir selain mengajar dan pengasuh, juga memenuhi undangan masyarakat. Ketekunan dan keistikamahan inilah yang menyebabkan masyarakat Guluk-guluk dan Sumenep umumnya merasa kehilangan. Duka mendalam demikian dirasakan atas kepergiannya pada 1996, sehingga masyarakat dari berbagai daerah datang berduyun-duyun untuk menshalati dan mengantarkan ke makbarah yang letaknya kurang lebih 500 meter dari tempat kediamannya atau 300 meter arah timur laut area Pesantren Annuqayah. 

 

Tanah makam bertanah lempong berwarna putih susu, licin dan kental ini adalah hak keluarga Moh Amir Ilyas dan bukan pemakaman umum yang kemudian diabadaikan dengan nama Makbarah Lempong.

 

Yang menakjubkan, ketika jenazah diantar dari Masjid Jami Annuqayah ke area pemakaman, diringi ribuan santri dan masyarakat. Di mana keranda yang dipikul pelayat menuju Makbarah Lempong seakan terbang melayang di atas kepala para pelayat dan pengantar. Sementara pengusung keranda diam tidak bisa bergerak atau berjalan. Hal tersebut karena sesaknya pengunjung yang memenuhi jalan sekitar Masjid Jami ke tempat pesarean Kiai Amir.

 

Wajar jika almarhum dikenal sebagai sosok yang banyak jasanya kepada masyarakat, mukhlisin dan pejuang pendidikan sangat disiplin dan konsisten yang belum ada tandingannya hingga kini.

 

Secara kasat mata, Kiai Amir tidak memiliki karya tulis, kecuali nukilan-nukilan (muqtathafat) hadits Nabi Muhammad SAW sebagai bahan berdakwah atau berpidato dalam acara sosial maupun pendidikan. Tetapi karya yang berbentuk moral atau lebih tepatnya jasa sosialnya yang bersifat nyata, sungguh besar dirasakan masyarakat. Jasa alamarhum yang berbentuk keilmuan atau jasa materi sebagai amal jariyah kepada masyarakat, khusunya kalangan ekonomi lemah dan jasa pendidikan serta politik sungguh sangat besar. 

 

KH Moh Amir Ilyas tidak hanya istikamah di bidang pendidikan, juga kontinuitas ibadahnya yang berlangsung dengan intensitas tinggi. Salah satunya adalah keistikamahan berjamaah, dawamul wudlu, mengajar al-Qur’an, shalat malam dan lain-lain.

 

Shalat berjamaah lima waktu merupakan suatu keawajiban baginya. Sepengetahuan penulis, KH Moh Amir Ilyas sangat jarang shalat sendirian. Selalu berjamaah walaupun hanya seorang makmum karena punya prinsip, selagi masih kuat shalat, akan senantiasa berjamaah.

 

Kekokohan jiwa seperti inilah yang sulit ditiru para santrinya akhir-akhir ini. Begitu pula keistikamahan almarhum dalam melakukan qiyamul lail (shalat tahajud dan witir) serta puasa hari Senin dan Kamis. Dalam shalat malam, almarhum biasa melakukannya pukul 01.00 sampai adzan Subuh dikumandangkan. Tentu saja yang dikerjakan shalat saja, tapi amalan-amalan doa dan dzikir yang terus dibaca setelah melakukan shalat tahajjud dan witir. 

 

KH Moh Amir Ilyas sangat senang membaca kalimat jalalah (Allah) usai salat tahajud dalam jumlah banyak. Kebiasaan lainnnya, membangunkan santri untuk shalat Subuh berjamah dan memberikan nasihat berupa motivasi keimanan dan keilmuan usai shalat.

 

Keistikamahan di bidang sosial dapat dilihat dari jiwa Kiai Amir yang sangat amanah dan santun, namun tegas kepada siapa pun. Almarhum tidak pernah menolak tamu yang datang dari tingkat kelompok sosial mana pun dan jabatan apa pun. Di hadapannya, mereka adalah sama terhormat sebagai ciptaan Allah SWT. Karena itulah, almarhum selalu membuka pintu kapan pun yang akan menemuinya (Madura, acabis).

 

KH Moh Amir Ilyas diposisikan sebagai pembimbing ruhani masyarakat, sehingga tidak segan warga datang menyampaikan keluhan dan berbagai problema yang dihadapi. Dan mereka merasa tersirami air yang dingin di dadanya, ketika almarhum memberikan nasihat dan petunjuk. Bahkan apa yang dinasihati, baik yang berbentuk kalimat perintah, menyangkal atau berbentuk saran dan harapan, selalu terbukti dalam realitasnya, sehingga mareka menganggap apa yang disampaikan Kiai Amir adalah petunjuk yang pasti akan dirasakan dan dialami oleh yang memohon petunjuknya. Karena itulah, mereka tidak segan untuk kembali dan kembali lagi menemui, walaupun sekadar bersilaturahim sejenak, melepaskan perasaan sedih yang sebelumnya menerpa, karena dengan bertemu, perasaan sedih dan gundah akan hilang dengan sendiri. Semua berganti gembira dan bahagia seakan dihembus angin menyapu bersih rasa sedih dan kalut dalam dada. Itulah sebabnya, masyarakat menyebut Kiai Amir sebagai mukasyafah, yaitu seorang yang dianugerahi Allah SWT pengetahuan terhadap sesuatu yang bakal terjadi.

 

Setiap apa yang difatwakan selalu cocok dengan realitas atas kehendak Allah SWT. Hal ini penulis mendengar langsung dari orang yang sering bersilaturahmi. Mendengar cerita itu, penulis teringat kepada perkataan seorang ulama yang mengatakan: “Orang yang ikhlas setiap berkata dan bergerak selalu dibimbing oleh hatinya, bukan oleh akalnya. Oleh sebab itu, perkataan dan tingkahnya selalu jujur dan amanah.” Itulah barangkali yang menyebabkan KH Moh Amir Ilyas dikenal oleh masyarakat sebagai ahlul mukasyafah atau waliyullah.

 

Kelebihan KH Moh Amir Ilyas lainnya adalah air hujan enggan menyentuh ke badannya, walaupun deras. Ketika penulis mendengar cerita itu, terbesik dalam hati bahwa hal itu terjadi karena almarhum sangat istikamah berdzikir kalimat jalalah di di kamarnya yang sederhana saat malam. 

 

Nasihat yang sering disampaikan KH Moh Amir Ilyas kepada putra-puri dan para santri adalah nasihat tauhidiyah (ketauhidan). Di antaranya, almarhum pernah memberi nasihat kepada penulis tentang pentingnya shalat Dhuha setiap pagi dan selalu belajar tauhid dan akhlak. Kata alamarhum: “Tauhid dan akhlak adalah asas atau dasar dari semua ilmu dan petunjuk dalam berbuat kebajikan serta pedoman dalam hidup ini.” Hal ini selalu disampaikan almarhum dalam setiap kesempatan dengan bahasa Madura. 

 

Kiai Amir selalu menganjurkan belajar ilmu agama melalui sumbernya, seperti al-Quran dan hadits. Di samping itu, juga berpesan agar tekun belajar bahasa Arab dan bahasa Inggris dengan cara mempelajari tata bahasa Arab (nahwu sharaf). Bahkan di akhir hayatnya, almarhum masih sempat berwasiat kepada penulis agar mempelajari kitab karya ayahnya, KH Moh Ilyas yang membahas seputar akidah dan fikih serta akhlak, bahkan kalau perlu disyarahi atau diterjemahkan. Demikian pesannya kepada penulis.

 

Dua karya KH Moh Ilyas telah selesai penulis syarahi dengan sempurna dan telah ditashih oleh pamanda KH Abdul Warits Ilyas dan KH Habiubullah Rais, Pengasuh Pondok Pesantren Salaf Al-Is’af, Dusun Kalabaan, Guluk-guluk Sumenep. Bahkan kitab tauhid yang penulis syarahi dibaca dalam bentuk pengajian wetonan kepada pengurus Lubangsa sekitar tahun 2007-2008 silam. Semoga almarhum dan seluruh keluarga dan putra-putrinya serta para sahabatnya dan guru almarhum dilimpahkan rahmat dan hidayah dari Allah SWT serta mampu melanjutkan perjuangannya dengan ikhlas dan istikamah, hingga akhirnya penulis berkumpul dengan almarhum di surga-Nya. Amin ya rabbal alamin.

 

Salah seorang Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah dan Kepala MA Putri Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep.
 

PWNU Jatim Harlah