Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Mengenal ‘Hari Rabu’ dalam Perspektif Aswaja

Mengenal ‘Hari Rabu’ dalam Perspektif Aswaja
Rabu disebut sebagai hari sial adalah tidak benar. (Foto: NOJ/PRt)
Rabu disebut sebagai hari sial adalah tidak benar. (Foto: NOJ/PRt)

Oleh: Muhammad Kholil

 

Termasuk dari asumsi masyarakat yang salah adalah ramalan keburukan di hari Rabu. Hal ini juga termasuk jenis thiyarah (ramalan keburukan) yang diharamkan. Imam Ibnu Hajar al-Haitamy mengatakan dalam kitab Al-Minah setelah menerangkan tentang dianjurkannya bepergian di hari Senin, Kamis atau Sabtu:

 

Penjelasan, para ulama terhadap kesunahan bepergian di hari Senin, Kamis atau Sabtu merupakan bukti bahwa di hari-hari selainnya tidak ada kesunahan untuk dijadikan hari bepergian. Akan tetapi, hal itu tidak disebabkan oleh thiyarah (ramalan keburukan) sebagaimana yang telah dikatakan oleh ahli nujum (tukang ramal). Syekh Ibnu Jamaah berkata: Tidak ada kemakruhan bepergian di hari-hari manapun dikarenakan rembulan berada di rasi bintang Scorpio atau lainnya.

 

Pada suatu hari Sayyidina Ali bin Abi Thalib ditanya seseorang: Apakah engkau bertemu dengan kaum Khawarij sedangkan rembulan berada di rasi bintang Scorpio? Lalu Ali berkata: Di mana rembulannya kaum Khawarij? Setelah itu ada seorang ahli nujum mengatakan kepadanya: Berangkatlah di saat ini, maka engkau akan memperoleh kemenangan. Kemudian Sayyidina Ali berkata: Rasulullah SAW tidak pernah mempercayai tukang ramal begitupun khalifah-khalifah setelahnya, dan beliau juga berhujjah dengan beberapa ayat Al Qur’an. Lalu Ali melanjutkan perkataannya: Barangsiapa yang membenarkan ucapanmu (tukang ramal), maka dia seperti mencari perlindungan kepada selain Allah SWT. Ya Allah, tidak ada thiyarah kecuali kehendak-Mu, tiada kebaikan kecuali dari Engkau. Aku tak akan mempercayaimu (tukang ramal) dan aku akan berperang di hari yang engkau larang.

 

Setelah itu Ali berpidato di hadapan ribuan rakyatnya: Wahai rakyatku, jauhkanlah diri kalian dari belajar ilmu nujum (astronomi) kecuali hanya sekadar sebagai petunjuk kegelapan di daratan dan lautan, ketauhilah sesungguhnya tukang ramal itu seperti orang kafir.

 

Sayyidina Ali juga mengancam apabila mereka tidak mau bertobat, maka akan kekal berada di neraka dan tidak akan mendapatkan ampunan. Akhirnya, Ali berangkat berperang melawan kaum Khawarij di hari yang dilarang oleh tukang ramal tersebut, ternyata diberi kemenangan oleh Allah SWT. Peristiwa itu dikenal dengan pertempuran an-Nahrawan yang kedua.

 

Imam Ibnu Rusydi mengutip bahwa raja Malik (khalifah Mu’tashim bin Harun ar-Rasyid) tidak pernah membenci hari dari beberapa hari yang ada. Bahkan mengistimewakan hari Rabu dan Sabtu. Tujuannya hanyalah untuk menolak atau menepis anggapan akan ramalan keburukan yang terjadi di kedua hari tersebut. Pernah suatu ketika hendak mengadakan peperangan di hari tertentu, ada beberapa tukang ramal yang melarangnya untuk tidak berperang di hari tersebut. Akan tetapi, tidak mengindahkan larangan tersebut. Ternyata berkat pertolongan Allah SWT, mendapatkan kemenangan dan harta jarahan (ghanimah) yang banyak.

 

Kebanyakan manusia meramalkan akan keburukan pada hari Rabu terakhir di setiap akhir bulan. Mereka meninggalkan pekerjaannya untuk kamaslahatan dirinya. Mereka bertendensi dengan sebuah hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

 

آخِرُ أَرْبِعَآءَ فِي الشَّهْرِ يَوْمٌ نَحِسٌ مُسْتَمِرٌّ

 

Artinya: Rabu yang terakhir di setiap bulan merupakan hari sial.

 

Imam as Sakhawi mengatakan bahwa riwayat hadits di atas dlaif (lemah). Jika mengandaikan bahwa hadits itu shahih, maka arti dari hadits adalah hari Rabu yang terakhir di setiap bulan merupakan hari sial bagi orang yang meyakini. Sedangkan bagi orang yang meyakini bahwa hari Rabu tersebut tidak berdampak apapun dan tidak dapat membahayakan kecuali karena kehendak Allah SWT semata, maka bukan merupakan hari sial baginya.

 

Di salah satu hadits, ada yang menjelaskan keistimewaan atau keutamaan hari Rabu dibandingkan hari lain. Di dalam kitab Syu’ab al-Iman milik Imam al-Baihaqy dijelaskan bahwa Rasulullah pernah bersabda:

 

إِنَّ الدُّعَآءَ يُسْتَجَابُ يَوْمَ الْأرْبِعَآءِ بَعْدَ الزَّوَالِ

 

Artinya: Sesungguhnya doa akan dikabulkan di hari Rabu setelah tergelincirnya matahari.

 

Dan di dalam hadits yang diriwayatkan sahabat Jabir RA dijelaskan bahwa:

 

إِنَّ النَّبِيَّ e أَتَى مَسْجِدَ الْأَحْزَابِ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الثُّلَاثَآءِ وَيَوْمَ الْأَرْبِعَآءِ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ, فَوَضَعَ رِدَآءَهُ فَقَامَ فَرَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُوْ عَلَيْهِمْ أَيِ الْكُفَّارِ فَرَأَيْنَا الْبِشْرَ فِي وَجْهِهِ

 

Artinya: Pernah suatu ketika Rasulullah SAW mendatangi masjid al-Ahzab di hari Senin, Selasa dan Rabu di antara waktu Dhuhur dan Ashar. Kemudian meletakkan selendangnya, lalu berdiri dan mengangkat kedua tangannya sambil mendoakan supaya orang-orang kafir mendapatkan siksa. Kemudian saya melihat nampak wajah gembira dari raut wajah Nabi.

 

Pengarang kitab al-Hidayah menjelaskan bahwa hal-hal yang dimulai hari Rabu tiada balasan kecuali kesempurnaan dan merupakan suatu hari dimana Allah SWT menciptakan cahaya (nur). Imam ad-Dailamy meriwayatkan hadits marfu’ dari sahabat Jabir RA bahwa Rasulullah pernah bersabda:

 

مَنْ غَرَسَ الْأَشْجَارَ يَوْمَ الْأَرْبِعَآءِ وَقَالَ سُبْحَانَ الْبَاعِثِ الْوَارِثِ أَتَتْ أُكُلُهَا

 

Artinya: Barangsiapa menanam pepohonan di hari Rabu dan berdoa: سُبْحَانَ الْبَاعِثِ الْوَارِثِ maka akan bisa berbuah.

 

Dikutip dari Imam Khalimi bahwa berkata: Saya meyakini dari keterangan-keterangan syariat Islam bahwa sebagian hari-hari itu ada kesialan maupun keberuntungan, tetapi di setiap kesialan pasti ada keberuntungan.

 

Hari laksana manusia, ada yang celaka juga ada yang beruntung. Akan tetapi yang terpenting adalah asumsi seseorang bahwa hari dan bintang dapat membuat sial atau bahagia pada seseorang adalah batal atau salah besar. Begitupun pendapat yang mengatakan bahwa bintang terkadang menjadi penyebab adanya kebaikan dan keburukan adalah pendapat yang keliru karena kesemuanya yang terjadi di dunia ini hanyalah murni kehendak Allah semata, tanpa ada campur tangan dari siapapun.

 

Alhasil, sebagaimana keterangan yang telah diungkapkan oleh Imam al-Munawy, bahwasanya menghindari hari Rabu atau hari-hari tertentu karena ada ramalan akan keburukan (thiyarah). Dan asumsi kebenaran yang telah disampaikan oleh ahli nujum merupakan perbuatan yang haram karena secara dzatiyah hal-hal di atas tidak bisa memberi pengaruh apapun, baik pengaruh baik ataupun buruk. Barangsiapa yang mempunyai keyakinan adanya ramalan akan keburukan (thiyarah), maka ia akan diliputi oleh kesialan tersebut. Dan barangsiapa yang tidak meyakininya, maka tidak akan ada pengaruh apapun kepada dirinya.

 

Secara garis besar, pembahasan di atas kalau disimpulkan ialah semua hari yang telah Allah SWT ciptakan adalah sama, tidak ada kekhususan tertentu baik hari Rabu ataupun yang lain. Tiada suatu waktu kecuali terkadang bahagia bagi seseorang, dan sial bagi orang lain sesuai dengan kehendak Allah SWT semata.

 

Syekh Ismail Haqqy bin Musthafa al-Istanbuly mengatakan di dalam kitab Ruh al-Bayan dalam menafsiri firman Allah SWT dalam surat az-Zumar ayat 52:

 

أَوَلَمْ يَعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ إِنَّ فِي ذٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ

 

Artinya: Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya (bagi siapa yang Dia kehendaki)? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.

 

Maksud ayat di atas adalah Allah SWT akan melimpahkan rezeki kepada orang yang dikehendaki walaupun dia tidak memiliki daya dan kekuatan. Allah juga akan mempersempit rezeki kepada orang yang dikehendaki walaupun memiliki daya dan kekuatan.

 

Kesemuanya itu hanyalah sebagai ujian dan cobaan bagi hamba-Nya. Maka tidak ada yang bisa melimpahkan dan mempersempit rezeki kecuali hanya Allah SWT semata. Hal itu dapat dibuktikan bahwa kita melihat manusia berbeda-beda dalam menerima rezeki, ada yang banyak dan sedikit. Semua tentu ada hikmah dan sebabnya.

 

Penyebab utama dari berbeda-bedanya rezeki bukan karena kecerdasan atau kebodohan seseorang, karena saya (Syekh Ismail Haqqy bin Musthafa al-Istanbuly) pernah melihat orang yang pandai dan mampu tapi rezekinya sedikit. Di lain kesempatan, saya melihat orang yang bodoh dan lemah diberi limpahan rezeki. Hal itu juga bukan karena watak (karakter) dan bintang, karena waktu itu ada karena diciptakan oleh Allah Sang Maha Kuasa. Maka ketika saya melihat fenomena-fenomena di atas dengan berbagai perbedaan dalam hal keberuntungan dan kesialan, maka saya meyakini bahwa Sang Sutradara di balik semua itu hanyalah Allah SWT.

 

Penulis adalah Divisi Aswaja Persatuan Dosen Agama Islam (Persada) Nusantara Jatim, Dosen Ma'had Aly Ploso Kediri.

Iklan promosi NU Online Jatim